Hambatan Penerapan Integrasi sains dan Ilmu Agama
Riset SosialArtikel berjudul “The Challenge of Integrating Science and Religion in Indonesia and Malaysia” merupakan karya Saiful Hadi, Syukron Affani, dan Muhammad Ayman Al-Akiti. Tulisan tersebut terbit di Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam tahun 2024. Tujuan penelitian tersebut adalah membahas implementasi dan permasalahan integrasi ilmu dan agama di Pesantren Madura, serta lembaga Islam di Selangor, Malaysia. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan fenomenologi, dengan data data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan materi daring. Sampel penelitian ini diambil dari IISM School Gombak, Al Hamra Integrated School, Akademi Tahfiz Al Hidayah, di Kuala Lumpur Malaysia. Serta, Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep, Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, dan Pondok Pesantren Ulum Banyuanyar Pamekasan, Madura, Indonesia. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, konsep kunci integrasi ilmu. Ketiga, sekularitas pendidikan di Indonesia. Keempat, pola integrasi ilmu pengetahuan: lembaga pendidikan Islam Indonesia dan Malaysia.
Pendahuluan
Integrasi ilmu dalam pendidikan Islam bukan isu baru, namun tetap relevan. Saat ini, integrasi sains masih menjadi topik pembahasan penting, terutama dalam pendidikan Islam, meskipun wacananya sebagian besar bersifat akademis. Isu terpenting berpusat pada implementasi, pola, dan masalah integrasi. Tema integrasi keilmuan masih eksklusif di kalangan akademisi pendidikan tinggi dan terbatas pada konteks orientasi pendidikan tinggi Islam.
Konsep integrasi keilmuan hampir secara eksklusif dibahas oleh akademisi universitas dan terbatas pada konteks orientasi universitas Islam. Namun, konsep ini juga telah bergema di kalangan pemangku kepentingan pendidikan dari berbagai generasi di berbagai jenjang pendidikan Islam, yang telah berupaya menggunakannya sebagai dasar bagi desain pendidikan. Namun, isu integrasi bukanlah ide yang asing bagi lembaga pendidikan Islam di jenjang pendidikan lain, seperti pesantren di Indonesia. Lembaga pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal menghadapi tantangan untuk menyelaraskan kurikulum lokal dan nasional. Kehadiran model kurikulum “Merdeka Belajar Kampus Merdeka” (MBKM) terkini memberi ruang bagi pesantren untuk mengintegrasikan kurikulum lokal dengan kurikulum nasional secara bebas.
Konsep Kunci Integrasi Ilmu
Integrasi merupakan upaya multifaset yang meliputi menggabungkan beberapa elemen yang terpisah dan terpisah, mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, dan membentuk hubungan timbal balik yang saling mendukung dan menyempurnakan. Menurut Sidek Baba yang dikutip oleh Ahmad Tijani Surajudeen dan M.Z. Awang Mat dalam tulisannya berjudul “Classification and Integration of Knowledge: The Qur’ānic Educational Model,” menyatakan bahwa integrasi adalah proses harmonisasi antara konsep triadik yakni paradigma tauhid, nilai-nilai, dan potensi manusia dalam sistem pendidikan Islam kontemporer. Ia juga menambahkan bahwa Islamisasi pengetahuan adalah proses memasukkan pandangan dunia Islam ke dalam kumpulan pengetahuan yang ada.
Masalah integrasi ini bertolak belakang dengan dikotomi. Dalam pemikiran Islam tradisional, klasifikasi ilmu pengetahuan didasarkan pada pembagian ilmu hukum (al-\'ulÿm al-shar\'ÿyah) dan ilmu intelektual atau filsafat (al-\'ulÿm al-\'aqlÿyah). Isu dikotomi-integrasi ilmu pengetahuan semakin menguat ketika imperialisme Barat memaksakan sekularisme dan modernisme. Sekularisme menciptakan sudut-sudut khusus bagi agama agar tidak menghalangi inovasi-inovasi fisik ilmu pengetahuan modern. Istilah dikotomi muncul sebagai akibat dari isolasi agama sebagai masalah pribadi yang terpisah dari masalah-masalah non-agama (ekonomi, politik, dan sains).
Fokus eksklusif pada ilmu-ilmu Islam atau ilmu-ilmu empiris di dunia Muslim modern telah menimbulkan ketidakseimbangan yang telah mengilhami para intelektual Muslim. Perpecahan yang semakin besar antara agama dan sains telah memecah belah kesatuan pandangan dunia Islam. Sebagai tanggapan, gerakan-gerakan Pembaruan terus-menerus diserukan mengenai reformasi pendidikan di dunia Muslim untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan modern dan mencapai keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Integrasi ilmu dan Islam harus dilakukan dengan merampungkan rekonstruksi integrasi ontologis, integrasi klasifikasi sains, dan integrasi epistemologis-metodologis. Tanpa rekonstruksi konstruktif, penerapan integrasi sains hanya akan menghasilkan integrasi semu atau integrasi semu karena hanya menempatkan dua entitas dalam satu ruang tetapi dengan ruh yang tetap terfragmentasi.
Baca Juga : Teliti Ayat Rahmatan Lil Alamin: Abd. Mujib Adnan Menjadi Doktor
Sekularisasi Pendidikan di Indonesia
Pesantren di Jawa dan Madura telah ada sejak abad ke-17 dan menjalin hubungan dengan dunia Islam lainnya, terutama dengan lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah, India, dan Malaka. Hubungan Nusantara dengan dunia luar dalam hal perdagangan, politik, dan pertukaran ide telah terdokumentasi dengan baik. Bahkan sebelum kedatangan Islam, Nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan Mesir dan Yaman. Di Jawa dan Madura, lembaga pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari model pembelajaran ilmiah Islam, di mana semua ilmu diajarkan secara integratif, yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
Sementara dunia Muslim perlahan-lahan mengalami stagnasi, Eropa mulai meninjau kembali stok pengetahuan klasiknya sendiri, menemukan kembali para filsuf Yunani, menghasilkan ide-ide baru, dan menemukan metode-metode baru. Pada abad ke-17 , Eropa mampu melampaui dunia Muslim dalam hal kekayaan, produktivitas, dan kekuasaan. Pada waktunya, kekuatan-kekuatan Muslim dipaksa untuk menerima dominasi Eropa dan menyadari bahwa kemajuan mereka disebabkan oleh kemajuan ilmiah dan teknologi. Segera, para mahasiswa Muslim yang cerdas dikirim ke Barat sehingga mereka dapat mengunjungi universitas-universitas Eropa dan mempelajari ilmu-ilmu teknologi. Namun, kontak budaya yang intens ini menciptakan tantangan serius dalam masyarakat Muslim yang sekarang terbagi menjadi elit berpendidikan Barat dan penduduk lainnya yang masih mengidentifikasi dengan sikap-sikap keagamaan tradisional. Pertemuan keras antara nilai-nilai lama dan baru menciptakan dikotomi ilmiah dalam sirkulasi penolakan dan penerimaan.
Pola Integrasi Ilmu Pengetahuan: Lembaga Pendidikan Islam Indonesia dan Malaysia
Lembaga pendidikan di Indonesia dan Malaysia beserta banyak negara muslim lain di seluruh dunia, belum sepakat mengenai formula terbaik untuk integrasi agama dan sains dalam pendidikan Islam. Tampaknya agama dan sains sulit untuk diselaraskan karena kedua negara telah memilih model pendidikan publik yang sekuler. Sebagian besar sekolah Islam telah memilih untuk beroperasi sebagai sekolah terpadu yang menawarkan silabus nasional di samping silabus Islam. Kerangka kerja yang tepat harus dipilih untuk merumuskan model integrasi yang efektif. Tidak ada alasan mengapa agama dan sains harus saling bertentangan atau harus dipisahkan; sebaliknya, keduanya harus berdialog satu sama lain dan diintegrasikan ke dalam pendidikan.
Karakteristik Integrasi Agama dan Sains di Malaysia dan Indonesia
Pendidikan Islam di Malaysia pada umumnya menerapkan sistem terpadu di mana kurikulum nasional diajarkan berdampingan dengan kurikulum Islam, dan dalam beberapa kasus, kurikulum internasional didukung oleh fasilitas modern. Bangunan sekolah yang memadai dan kesejahteraan guru merupakan norma; namun, sektor pendidikan menghadapi tantangan serius. Praktisi pendidikan berpengalaman seperti Rosnani Hashim memandang penekanan berlebihan pada kurikulum internasional sebagai cerminan krisis identitas budaya dan tanda maraknya komodifikasi pendidikan. Akibatnya, Malaysia tidak memiliki karakter nasional yang jelas dan biaya pendidikan tinggi, terutama di sektor swasta.
Di Indonesia, pendidikan integrasi sains dan agama yang dilakukan oleh pesantren Madura cenderung berupa integrasi institusional daripada mengalirkan mata pelajaran ke dalam mata pelajaran sains atau agama. Mata pelajaran baru diperkenalkan ke dalam pendidikan gaya pesantren tradisional , dengan menambahkan unit pendidikan seperti bahasa, seni, dan ekonomi. Namun, kurikulum dasar masih sarat dengan metafisika dan filsafat, sementara bahasa Inggris diturunkan ke status mata pelajaran pilihan dan mudah dihindari sama sekali. Namun, santri saat ini terintegrasi ke dalam desa global dan terlibat secara aktif dengan seluruh dunia melalui media daring dan peningkatan mobilitas. Namun, integrasi masih lebih banyak dicapai pada tingkat individu daripada tingkat institusional.
Era modern telah berhasil memperluas pengetahuan dan kemajuan. Namun, pencapaian ini harus dibayar dengan harga yang mahal, karena modernitas telah menciptakan masalah baru dalam skala global. Pertumbuhan informasi yang eksponensial telah menghasilkan kumpulan pengetahuan yang begitu luas. Pengetahuan harus dibagi menjadi beberapa bidang dan spesialisasi untuk mengatasi situasi ini. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, seharusnya ilmu pengetahuan tersebut semakin terfragmentasi. Kecenderungan ini mendorong pendidikan pesantren di Madura, Indonesia, untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum.
Fenomena tersebut telah memunculkan sistem pendidikan dan masyarakat yang memilah dan membagi pengetahuan ke dalam banyak spesialisasi dan sub spesialisasi. Pada proses ini, individu muncul dengan pandangan reduksionis terhadap dunia yang berfokus pada bagian-bagian kebenaran tertentu sambil kehilangan kontak dengan sejarah dan gambaran yang lebih besar tentang keberadaan. Singkatnya, saat kita semakin tahu tentang sedikit hal, kita semakin tidak mengerti tentang banyak hal.
Kesimpulan
Lembaga pendidikan Islam di Selangor, Malaysia, memiliki kesadaran diskursif tentang integrasi ilmu ke dalam layanan pendidikan. Akibatnya, orientasi pendidikan mereka didasarkan pada filosofi pendidikan nasional Malaysia tentang integrasi holistik. Di sisi lain, lembaga pendidikan Islam di Madura, Indonesia, tidak secara langsung dipengaruhi oleh isu-isu integrasi sains dan wacana filosofisnya. Meskipun demikian, kedua negara menyadari tantangan masyarakat modern yang hanya dapat diatasi melalui reformasi pendidikan yang integral dan bukan parsial. Respons implementasinya beragam dan berlapis; namun, model-model tradisional dipertahankan sebagai kerangka dasar. Lembaga pendidikan Islam di Selangor, Malaysia lebih bersedia mengadopsi instrumen pendidikan modern. Pada saat yang sama, pesantren di Madura, Indonesia, lebih suka melestarikan pendidikan tradisional agar tidak membahayakan integritas pendidikan agama.

