(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Identitas Pengetahuan dan Mistisme Budaya Jawa

Riset Sosial

Tulisan berjudul “Common Identity Framework of Cultural Knowledge and Practices of Javanese Islam” merupakan karya Sulistiyono Susilo. Artikel ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2016. Penelitian Susilo ini menggunakan pendekatan sosiologi agama. Tujuannya adalah menjelaskan kontekstualisasi nilai universal Islam dalam ruang lokal. Sintesis pemikiran dan praktik ortodoks dengan tradisi Pra-Islam merupakan hasil interaksi antara Islam dan tradisi Pra-Islam selama “Islamisasi Jawa” terjadi. Selain itu, jika ditinjau dari silsilah kebudayaan, mistik Islam, orientasi ajaran Islam tradisional dan konsepsi kekuasaan di kerajaan Jawa menunjukkan adanya perpotongan antara Islam dan kebudayaan Jawa. Di dalam resume ini akan diulas kembali secara singkat tulisan Susilo dalam empat sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, sosiologi agama dalam budaya Jawa. Ketiga, skriptualisme Islam versus spiritualisme Jawa. Keempat, kerangka identitas umum dan budaya Jawa. 

  

Pendahuluan

  

Di dalam sejarahnya, budaya Jawa lambat laun meresap dengan berbagai elemen dan terpengaruh oleh berbagai interaksi dengan peradaban.  Misalnya, kepercayaan terhadap leluhur dan roh alam, peradaban dharma dari kepercayaan Hindu dan Budha, serta pengaruh filsafat barat dan ide modern lainnya. Beberapa orientalis mengklaim bahwa karakter budaya Jawa jika disandingkan dengan “ide eksternal” adalah sinkretisme. Namun, ciri semacam ini dianggap “unik”, sebab hakikatnya Islam menentang keyakinan sinkretisme. Oleh sebab itu, kajian mengenai penerapan ajaran Islam perlu dilakukan guna mengidentifikasi fakta relasional antara budaya Jawa dan Islam. Artinya, diperlukan identifikasi aspek pembentukan identitas relasional orang Jawa sebagai bentuk variasi kearifan lokal yang terkadang dipahami keliru sebagai sinkretisme. 

  

Sosiologi Agama dalam Budaya Jawa

  

Sosiologi agama sering kali digunakan untuk menganalisa pengaruh masyarakat, budaya, dan kepribadian pada asal-usul, doktrin, praktik dan jenis “kelompok agama”.  Maksud dari agama dalam perspektif sosiologi adalah disiplin sosiologi yang menganalisa “teks utama” agama sekaligus menggambarkan teori utama sosiologi guna memahami dimensi sosial agama.  Sebab, agama memainkan peran penting pada setiap generasi manusia. Sosiologi agama memandang agama dari tiga fungsi, yakni fungsionalis, konflik dan interaksionis. 

Akulturasi budaya Jawa dengan agama lain dan tradisi yang datang ke Jawa merupakan implikasi dari pandangan dunia masyarakat Jawa. Tradisi Islam dan budaya Jawa dimulai dari pandangan dunia masyarakat Jawa sebagai konsepsi komprehensif mereka ke dunia. Orang Jawa menganggap bahwa keseluruhan “keberadaan” diatur oleh alam dan sudah menjadi kewajiban moral untuk hidup harmonis dengan gerak dan aturan alam. Artinya, masyarakat Jawa akan terdorong untuk mencari keharmonisan diri, mengatur perilaku diri, hubungan sosial, aturan, adat istiadat dan solidaritas sosial. Aturan moral menekankan pada stabilitas, ketenangan, harmoni, kesopanan, kehalusan, kesabaran, penerimaan, dan pengendalian diri terhadap nafsu. Kemudian masyarakat Jawa secara alami disubordinasikan untuk mencapai harmoni dan kesatuan dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti). 

  

Skriptualisme Islam Versus Spiritualisme Jawa

  

Sebelumnya, sudah banyak studi mengenai Islam Jawa yang terbagi dalam tiga varian dalam penerimaan hubungan aspek doktrinal Islam dan mistisisme lokal. Pertama, menganggap mistisisme lokal bukan bagian dari ajaran Islam yang murni. Sejak awal Islamisasi, orang Jawa sudah memiliki derajat yang berbeda dalam melihat praktik lokal dan keyakinan Islam. Menurut Penelitian Geertz, di dalam konteks hegemoni agama, masyarakat kejawen atau disebut abangan, adalah terminologi apresiasi ajaran Islam gaya lokal dan praktik komunitas Jawa. Abangan adalah istilah Jawa untuk merujuk kepada kelompok atau individu yang belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam.

  


Baca Juga : Meneliti Total Quality Management di MAN Insan Cendekia Jambi: Junaidi Jadi Doktor

Kedua, masih menolak koherensi atau keterkaitan nilai lokal dan Islam asli. Pendapat ini dengan jelas menyatakan bahwa mistisisme lokal tidak bisa dianggap sebagai sebuah aktualisasi Islam dan mengungkapkan tipologi abangan sebagai penyimpangan Islam. Pendapat ini difokuskan pada gaya hidup, aspek kitab suci Islam, dan menolak untuk berkompromi tentang tradisi lokal. Komponen budaya Islam sebagai asal muasal wacana yang berhubungan dengan aktualisasi universal dan lokal. Kaum muslim secara universal mengakui kebutuhan untuk interaksi dengan Al-Quran dan Hadits, ritual, salat berjamaah, bakti sosial seperti zakat, dan haji. Namun, nilai-nilai universal ini mungkin saja ditentukan oleh konteks lokal dan tidak diterapkan sepenuhnya. Kontekstualisasi ini muncul dari interaksi antara budaya lokal.

  

Ketiga, menyatakan bahwa mistisisme lokal dapat dianggap sebagai aktualisasi penuh Islam lokal, dan menyatakan bahwa tidak ada sinkretisme antara tradisi Jawa, Hindu-Budha dan Islam.  Islam di Jawa dalam kaitannya dengan budaya lokal menjadikan Islam sebagai entitas baru yang diterima oleh komunitas dan konteks lokal.

  

Kerangka Identitas Umum Islam dan Budaya Jawa

  

Dimensi formal Islam menekankan pada ritual yang konsisten dengan doktrin, sedangkan pandangan dunia Jawa berfokus pada kesatuan esensial semua eksistensi Tuhan tanpa harus melalui proses “legalistik praktik”. Sejalan dengan itu, Kejawen yang cenderung mengabaikan formalistik dan ajaran liturgi Islam akan dianggap menyimpang. Di sisi lain orang Jawa yang masih memeluk agama Islam dianggap mewarnai sinkretis dengan ajaran Islam. 

  

Setidaknya ada empat relasi identitas Islam dan budaya Jawa dalam dimensi pengetahuan dan praktis, silsilah budaya, dimensi mistik Islam, dan konsepsi kekuatan orang Jawa. Pertama, hubungan antara Islam dan Hindu dan Budha mungkin diidentifikasi sebagai silsilah ganda budaya, karena Islam mewarisi pengaruh budaya Hindu Budha terhadap orang Jawa. Ganda ini membentuk dimensi politik, spiritual dan budaya Jawa.

  

Kedua, aspek tasawuf. Mistisisme adalah aktualisasi Islam oleh kelompok kejawen yang lebih menekankan pada dimensi mistik dari Islam legalistik dan ritualistik.  Kekuatan magis dan mistik adalah elemen dominan bagi orang Jawa. Mistisisme adalah pembentuk utamanya elemen lokus spiritual komunitas Jawa yang berorientasi magic-spiritual dibandingkan dengan elemen tulisan suci dalam menerima ajaran Islam. Mistisisme, sebagai pencarian jati diri, adalah konsep inti dari perdamaian pikiran, hubungan jiwa dengan “kosmos”, dan persatuan dengan Tuhan.

  

Ketiga, pengajaran di pondok pesantren. Pesantren menjadi lembaga dengan kombinasi elemen agama yang sangat baik. Orang Jawa percaya bahwa ulama adalah pemegang kunci misteri Ilahi.  Secara historis, pesantren Islam adalah penerus pesantren yang dikembangkan oleh tradisi Hindu dan Budha. Pesantren dan sekolah-sekolah di Jawa mengajarkan praktek tasawuf yang pada dasarnya berorientasi dan diterapkan pada tingkah laku mistik yang juga hidup di kalangan Kejawen. Kiai juga berperan sebagai pengawal ideologi tradisional Islam Jawa.

  

Keempat, konsepsi kekuasaan masyarakat Jawa. Politik dan sistem keagamaan memberikan gambaran tentang keseragaman struktural budaya yang diturunkan dari organisasi hierarkis seperti pengetahuan tentang budaya dengan aspek medis yang tidak dapat dipisahkan dari pandangan dunia orang Jawa. Di dalam konsep kekuasaan, Hinduisme dan silsilah tradisi Buddha ke Islam memiliki implikasi bagi orang Jawa untuk menyatukan konsepsi otoritas spiritual dan politik pada satu otoritas. 

  

Kesimpulan

  

Komponen budaya Islam sebagai asal muasal wacana yang berhubungan aktualisasi universal dan lokal. Kaum Muslim secara universal mengakui kebutuhan untuk interaksi dengan Al-Qur’an dan Hadits, ritual dan sebagainya. Namun, nilai-nilai universal mungkin saja ditentukan oleh konteks lokal dan tidak diterapkan sepenuhnya. Kontekstualisasi ini muncul dari interaksi antara budaya lokal dan penerimaan Islam.