(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Keutamaan Membaca

pepeling

Allah Subhanahu Wala’ala (SWT) memberikan sejumlah keutamaan bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya. Allah SWT memberikan dalam surah-surah tertentu di dalam Al-Qur'an dengan keutamaannya masing-masing. Oleh karena itu, membaca Al-Qur'an dalam surah tertentu lalu menjadi tradisi di tengah masyarakat Islam di seluruh dunia, tidak terkecuali juga menjadi tradisi di Indonesia.

  

Di Indonesia, banyak orang yang tidak hafal seluruh kandungan surah di dalam Al-Qur'an, sebanyak 30 juz,  tetapi hafal dalam surah-surah tertentu, misalnya Surah Yasin, Surah Al Waqi'ah, Surah Al Rahman, dan kebanyakan juga hafal juz 30 yang berisi surah-surah pendek. Semisal Surah Al Fajr, Al Thariq, Al A’la, Al Ghasiyah, Al Balad, Asy Syams, Al Dhuha, bahkan sampai Al Ikhlas dan Al Nas. Tradisi menghafal surah-surah pendek ini sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Sekarang kita sudah memasuki era baru, yaitu menghafal Al-Qur'an sebanyak 30 juz dan di mana-mana tumbuh dan berkembang Rumah Al-Qur'an dengan misi untuk hafalan Al-Quran. 

  

Surah Al Waqi’ah terdiri dari 96 ayat dan merupakan surat ke 56 yang berada di dalam juz 27. Kandungan di dalamnya, misalnya tentu orang-orang yang dianggap sebagai golongan kanan dan kiri beserta dengan ciri-cirinya yang secara mendasar diberikan oleh Allah SWT. Surah ini memberikan gambaran tentang golongan kanan yang penuh dengan kebahagiaan dan golongan kiri yang penuh dengan kesengsaraan. Tentu ada konten lain, misalnya tentang kekuasaan Allah, serta anjuran untuk memperbanyak perbuatan baik di kala hidup di dunia. 

  

Di Masjid Al Ikhsan perumahan Lotus Regency juga diselenggarakan bacaan Surah Al Waqi’ah ba’da Salat Shubuh, yang diikuti oleh semua jamaah. Acara bacaan Surah Al Waqi'ah ini diletakkan di antara ba’da wiridan dan sebelum doa dibacakan oleh imam masjid. Saya bersyukur sebab acara ini berjalan rutin dan semua jamaah mengikutinya dengan seksama. Harapan kita tentu acara semacam ini akan terus berlangsung dan mentradisi dan efeknya adalah kita memperoleh syafaah Al-Qur'an yang kita baca tersebut.

  

Di antara jamaah tentu lalu ada yang bertanya, mengapa yang dibaca Surah Al Waqi’ah dan bukan surah-surah lain di dalam Al-Qur'an. Bukankah semua firman Allah yang sangat baik jika dibacakan. Maka berikut ini akan saya sampaikan alasan yang mendasari penyelenggaraan membaca surah Al Waqi'ah tersebut di dalam konteks masyarakat di sekitar masjid atau para jamaah masjid.

  

Ada beberapa alasan untuk penentuan membaca Surah Al Waqi’ah. Pertama,  sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud: “Man qara’a shuratal waqi’ati lam yaftaqir abadan”. Yang artinya: “Barang siapa (membiasakan) membaca  Surah Al Waqi’ah, maka ia tidak akan kefakiran selamanya”. (Abdullah bin Muhammad al-Shiddiq al-Gumariy, Fadha'il al-Qur'an,Beirut: 'Alam al-Kutub, 2007, 59). Di sinilah dimaknai bahwa dengan konsisten membaca Surah Al Waqi’ah,  maka seseorang akan mendapatkan kemudahan untuk memperoleh rezeki dari Allah. 

  

Agama Islam ditegakkan oleh keyakinan akan keberadaan Allah, Kerasulan Muhammad SAW dan juga keyakinan tentang kebenaran Al-Qur'an. Barang siapa telah mengucapkan syahadat “Asyhadu an La ilaha illahllah, wa asyhadu anna  Muhammadar rasulullah”, artinya: “saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Orang yang sudah membaca syahadat,  maka berkewajiban untuk meyakini seluruh keyakinan di dalam Islam, yang sering disebut sebagai rukun iman. 

  

Sumber ajaran Islam yang baku adalah Al-Qur'an dan Hadits lalu juga kesepakatan ulama (Ijma’ maupun Qiyas). Oleh karena itu, kita juga harus meyakini ungkapan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana terdapat di dalam Hadits beliau. Memang harus diakui bahwa Hadits sebagai sumber ajaran Islam tersebut bertingkat-tingkat, ada yang sahih, ada yang hasan dan ada juga yang daif. Semua itu dibuat klasifikasinya oleh ahli Hadits yang tidak kita ragukan kepakarannya dalam bidang Hadits. Kita tidak memerlukan bertanya tentang Hadits Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan oleh Imam Buchari dan Imam Muslim, juga Imam-iman yang lain sebagai periwayat Hadits. Kita beruntung sebab diberikan petunjuk yang tidak diragukan kesahihannya, melalui pelacakan imam-imam ahli Hadits. 

  

Dan yang membuat kita yakin tentang fadhilah atau keutamaan Surah Al Waqi’ah adalah Hadits ini dinilai sahih oleh ulama-ulama ahli Hadits, misalnya  Sa’d al Mufti (diunduh wikipiye.wordpress, 13/10/20). Jika seandainya ada yang menyatakan bahwa Hadits ini lemah, akan tetapi sekurang-kurangnya Hadits tersebut berisi tentang fadhailul ‘amal atau keutamaan perbuatan. Jadi jika mengamalkan bacaan Surah Al Waqiah, maka yang membacanya akan memperoleh keutamaan amal.  Dengan kata lain, bahwa tidak ada salahnya kita mendawamkan membaca Surah Al Waqi’ah sebagai ladang untuk memperoleh keberkahan Allah, dan salah satu berkahnya adalah memperoleh rezeki yang halal dari-Nya.

  

Oleh karena itu doa kita sewaktu selesai membaca  Surah Al Waqi’ah adalah: “Allahumma inni as’aluka bi haqqi shuratul Waqiah wa asrariha an tuyassarali rizqan kama yassartahu li katsirim min khalqika  ya Allah Ya Rabbal alamin”. Artinya "Ya Allah Tuhan kami, sesungguhnya aku memohon kepadamu  dengan hak Surah Al Waqi’ah  dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Ya Allah mudahkanlah rezeki untukku, sebagaimana Engkau memudahkan rezeki terhadap kebanyakan makhluk-Mu ya Allah, Tuhan yang  menguasai seluruh alam”.

  

Kita tentu tidak perlu berdebat tentang status Hadits ini, dengan catatan yang mempercayainya sebagai Hadits sahih, silahkan berdoa sebagaimana ungkapan doa di atas, dan bagi yang bersesuaian dengan pandangan bahwa Hadits ini dinyatakan daif atau lemah, silahkan tidak mempercayai keberkahan rezeki atau lainnya dari membaca Surat Al Waqi’ah, tetapi satu hal yang pasti bahwa siapa saja yang membacanya pasti mendapatkan pahala dari Allah SWT.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.