(Sumber : nursyamcentre.com)

Dari Bedah Buku Prof. Mujamil, Integrasi Ilmu Perlu Dukungan Kebijakan

Informasi

Prof. Dr. Mujamil Qomar merupakan salah seorang akademisi yang memiliki perhatian yang sangat mendalam tentang pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia. Melalui buku yang ditulisnya berjudul "Pendidikan Islam Multidisipliner, Interdisipliner dan Transdisipliner", ia mengungkapkan bahwa Pendidikan ke depan harus mengarah pada Pendidikan yang integratif. Sebab, kini sudah bukan saatnya lagi untuk mengembangkan Pendidikan berbasis pada monodisipliner. Demikian pernyataan Prof. Nur Syam mengawali pembahasannya dalam bedah buku, yang dilakukan oleh Program Pascasarjana (PPs) IAIN Tulungagung, (15/10/2020).

 

Hadir di dalam acara ini adalah Prof. Dr. HM. Akhya', Direktur PPS IAIN Tulungagung, Dr. Ngainun Na'im, Kepala P2M IAIN Tulungagung, dan sejumlah dosen dan partisipan dari lintas wilayah, dari Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, Blitar, Kediri, Tuluangung, Surabaya dan bahkan dari Medan. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama antara Penerbit Intrans Malang, Rohim, PPs IAIN Tulungagung dan Prof. Mujamil Qamar.

 

Penulis Karya Akademis Serius

 

Di dalam pemaparannya, Prof. Nur Syam menyampaikan bahwa salah satu di antara kehebatan Prof. Mujamil adalah konsistensinya di dalam menulis buku-buku teks. Adapun buku-buku yang telah ditulisnya sebanyak 27 buku teks. Buku-buku tersebut merupakan buku yang sangat serius  dan sangat  ilmiah. Hal ini dapat dilihat dari footnote dan referensi yang sangat baik dan banyak.

 

Nur Syam pun kembali menyampaikan bahwa Mujamil juga merupakan professor yang sejati. Hal ini lantaran  seusai mendapat gelar Professor bukan lantas mengakhiri semangatnya untuk menulis. Mujamil hingga kini masih tetap semangat untuk terus menulis. Terbukti dengan jumlah buku yang telah ditulisnya. Sedang, semua buku yang ditulisnya seputar pendidikan. Hal ini semakin membuktikan bahwa Mujamil, selain sebagai Professor sejati, ia juga sebagai Professor yang setia dengan baground keilmuannya.

 

"Ada banyak buku, artikel di jurnal dan pikiran reflektif lainnya. IAIN Tulungagung beruntung memiliki guru besar dengan dedikasi akademik yang sangat baik seperti ini. Beliau bukan Professor gedeboks, yaitu seorang Professor dan setelah memperoleh jabatan itu lalu mati semangat akademisnya atau tidak menulis. Prof. Mujamil itu tipe orang yang setia pada ilmunya. Nyaris semua tulisannya tentang Pendidikan. Pantas jika Beliau Professor Pendidikan Islam," tutur Nur Syam.

 

Seketika di tengah penyampaian, pikiran Nur Syam pun memandunya untuk merefleksi tentang dunia yang memang telah digelutinya selama ini, yaitu dunia tulis-menulis akademis. Akhirnya yang bermuara pada sebuah penilain, ia menilai bahwa dirinya berbeda dengan Mujamil dalam tulis-menulis. Mujamil menulis setiap tulisan akademis berdasar dengan footnote yang jelas.

 

"Beliau itu sangat berbeda dengan saya. Saya ini nggak jelas. Apa saja saya tulis. Yang bisa ditulis saya tulis. Tulisan saya akhir-akhir ini nyaris tidak ada yang berfootnote. Tulisan reflektif saja. Ada sebanyak 2000 artikel di blog saya nursyam.uinsby.ac. id. Semuanya tulisan reflektif. Opini atas area yang sangat luas. Akibatnya ketika dibukukan lalu tidak bisa disebut sebagai tulisan akademik murni. Quasi akademis," terangnya.


Baca Juga : Islam, Humanity dan Semangat Kontra Radikalisme

 

Menurut Prof. Nur Syam, buku "Pendidikan Islam Multidisipliner, Interdisipliner dan Transdisipliner"  merupakan buku yang sangat serius, dengan pemikiran dan referensi yang sangat memadai. Tak hanya itu, buku ini  juga merupakan buku yang bisa disebut sebagai buku panduan tentang Pendidikan Islam dengan tiga pendekatan, yaitu multidisipliner, interdispliner, dan transdisipliner.

 

Sementara, Mujamil demikian menjelaskan tentang Pendidikan Islam dengan begitu mendalam. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan yang ditulisnya di dalam buku tersebut. Adapun beberapa penjelasan yang diurai, seperti tentang apa Pendidikan Islam, bagaimana mengembangkan Pendidikan Islam, bagaimana mengembangkan kurikulum yang relevan dengan tiga pendekatan.

 

Bahkan, juga dijelaskan secara rinci tentang bagaimana menyusun kurikulum yang berbasis kajian interdispliner, multidispliner dan transdisipliner. Lebih lanjut, juga ditulisnya tentang panduan melakukan penelitian berbasis pada kajian multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.

 

"Dijelaskan dengan sangat mendalam tentang Filsafat Pendidikan Islam dalam pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Selain itu, juga dijelaskan tentang bagaimana mengembangkan Pendidikan Islam base on interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner," ujarnya.

 

Pengembangan Ilmu Berbasis Pendekatan Bukan Sasaran Kajian

 

Prof. Nur Syam kembali menyatakan bahwa pengembangan ilmu berbasis subyek kajian atau subject matter mengakibatkan ilmu akan sulit untuk berkembang. Hingga, menurutnya, ilmu dapat berkembang dengan basis berbagai pendekatan.

 

"Ilmu akan sulit berkembang jika bercorak monodisipliner. Diperlukan pengembangan ilmu berbasis  pendekatan, yaitu interdisipliner, cross-disipliner dan multidisipliner," ucapnya.

 


Baca Juga : Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur'an: Serba-Serbi Proses Penyusunan (Bagian Kedua)

Nur Syam menjelaskan bahwa secara istilah, Interdisipliner atau antar disiplin atau antar bidang adalah integrasi ilmu di dalam satu bidang, misalnya antar ilmu di dalam ilmu agama, ilmu sosial, humaniora serta sains dan teknologi. Adapun contoh interdisipliner, seperti sosiologi politik, antropologi hukum, sosiologi komunikasi, sosiologi budaya.

 

Lalu, pendekatan cross-disipliner atau lintas bidang atau lintas disiplin adalah integrasi antara dua bidang ilmu atau lebih, misalnya antara ilmu agama dan sosiologi, agama dan antropologi, agama dan ilmu komunikasi. Adapun contoh lain, yaitu antara ilmu sosiologi dengan filsafat, sosiologi dengan sejarah, antropologi dengan budaya, komunikasi dan filsafat. Kemudian, ekonomi dan matematika, ekonomi dan agama, ekonomi dan filsafat. Tak hanya itu, contoh lain, seperti ilmu hukum dengan filsafat, ilmu hukum dengan budaya, ilmu hukum dengan sejarah.

 

"Sementara, multidispliner secara terminologi adalah melakukan penelitian atau kajian dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu lain secara bersama-sama baik yang bercorak interdisipliner maupun cross-disipliner. Sebagai contoh multidisipliner bercorak interdisipliner, misalnya menyelesaikan masalah kemiskinan dengan berbagai pendekatan sekaligus dengan sosiologi, antropologi, politik, hukum. Kemudian contoh multidisipliner bercorak interdisipliner misalnya menyelesaiakan masalah konflik faham keagamaan dengan ilmu fiqih, usul fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadits, yang dilakukan secara bersamaan," jelasnya.

 

"Di sisi lain, transdisipliner adalah pendekatan holistik  untuk menyelesaikan masalah yang kompleks yang dapat  menghasilkan suatu ilmu  baru melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan melibatkan semua komponen dan pemangku kepentingan baik akademisi maupun non akademisi," tambahnya.

 

Diperlukan Pemihakan Kebijakan

 

Buku yang ditulis oleh Mujamil tak diragukan lagi secara akademis. Ia telah menjelaskan banyak hal dari dimensi filsafat, ontologis, hingga aksiologis mengenai Pendidikan Islam sekaligus pengembangannya demi tercapainya Pendidikan Islam yang terbaik di Indonesia. Hanya saja, hal ini secara praktik di lapangan masih sulit. Sebagaimana disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa secara praktik sulit terlaksana di lapangan sebab Pendidikan belum menggunakan sistem kolaborasi di dalam pembelajaran.

 

"Kesulitan tersebut terletak pada ketiadaan pola pembelajaran berbasis kolaboratif antar ahli. Meskipun upaya untuk melakukan penelitian kolaboratif sudah dilakukan tetapi kebanyakan dosen masih bekerja secara individual," ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Nur syam mengatakan bahwa program pembelajaran kolaboratif perlu menjadi fondasi dasar sebagai kebijakan pimpinan Pendidikan tinggi. Ia juga menyarankan bahwa sudah saatnya program pembelajaran di perguruan tinggi bukan berpusat pada dosen atau lecturer center. Namun, justru seutuhnya menggunakan prinsip berpusat pada mahasiswa atau student center.

 

"Dosen masih merasa sebagai sumber informasi penting. Program pembelajaran kita masih bercorak konvensional dan belum menjawab tuntutan 4 C, yaitu critical thinking and problem solving, creativity for innovations, communications and collaborations. Program pembelajaran kita belum merespon cara belajar generasi millenial, yaitu belajar tentang pengalaman, eksporer, TI minded, kolaboratif, simpel dan instan," tegasnya.

 

"Perlu kebijakan yang memihak tentang pengembangan Pendidikan Islam berbasis integrasi ilmu. Perlu mengubah mindset menjadi program pembelajaran kolaboratif, riset kolaboratif dan merespon tututan generasi millenial. Perlu untuk menyusun kebijakan perumusan kurikulum berbasis pada program integrasi ilmu," pungkasnya.