Komunikasi Interpersonal Antar Etnis
Riset SosialTulisan berjudul “Stereotip dan Komunikasi Interpersonal Antara Etnis Aceh dan Etnis Tionghoa” merupakan karya dari Febri Nurrahmi dan Ferry Gelluny Putra. Tulisan ini terbit di Jurnal Studi Komunikasi pada tahun 2019. Penelitian Nurrahmi dan Putra tersebut bertujuan mengetahui hubungan timbal balik antara stereotip dan komunikasi interpersonal antar entis Aceh dan Tionghoa. Tepatnya, memahami bagaimana proses belajar seseorang melalui komunikasi interpersonal secara tatap muka yang dapat mengukuhkan, mengubah, bahkan menghilangkan stereotip negatif yang diketahui sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatif dengan melakukan wawancara mendalam kepada lima informan beretnis Aceh yang berdomisili di Gampong Laksana, Aceh. Di dalam resume ini, tulisan tersebut akan diulas dalam empat sub bab. Pertama, pengantar. Kedua, stereotip terhadap etnis Tiongoa. Ketiga, intensitas komunikasi interpersonal antara etnis Aceh dan Tionghoa. Keempat, pengaruh nstereotip etnis Aceh terhadap etnis Tionghoa di Gampong Laksana.
Pengantar
Stereotip merupakan komponen penting terhadap stigma kelompok, yang dapat mengurangi nilai suatu kelompok. Stereotip melahirkan prasangka terhadap ras dan etnis tertentu yang merupakan akar dari rasisme, diskriminasi, dan konflik. Salah satu etnis di Indonesia yang terkadang mendapatkan perilaku diskriminatif adalah etnis Tionghoa, yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Aceh. Aceh merupakan provinsi dengan mayoritas Muslim dan satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam di Indonesia. Kondisi sosio-kultural tersebut membuat etnis Tionghoa di Aceh “menonjol” karena mayoritas adalah non-muslim.
Diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa di Aceh tidak hanya dilatarbelakangi oleh perbedaan etnis dan agama. Rasisme dan diskriminasi terbentuk dari adanya stereotip dan prasangka terhadap etnis Tionghoa. Pembentukan stereotip didorong oleh motivasi sosial, politik, dan ekonomi yang diturunkan antar generasi, dan cenderung tahan pada perubahan.
Di dalam artikel tersebut, Nurrahmi dan Putra menggunakan pendekatan teori pembelajaran sosial milik Bandura dalam bukunya yang berjudul "Social Learning Theory." Ia menjelaskan mengenai perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Stereotip terbentuk melalui proses belajar. Proses pembelajaran sosial atas stereotip tidak lepas dari peran media massa. Menurut teori ini, prasangka negatif dapat dipatahkan melalui proses pembelajaran juga. Salah satunya dengan interaksi langsung melalui komunikasi interpersonal. Menurut DeVito dalam bukunya berjudul "The Interpersonal Communication Book 14th Edition", Komunikasi interpersonal diartikan sebagai penyampaian pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan berbagai dampak dan peluang untuk memberikan umpan balik segera. Stereotip mempengaruhi efektivitas komunikasi interpersonal yang ditentukan oleh lima hal, yakni aspek keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesamaan.
Stereotip Terhadap Etnis Tionghoa
Baca Juga : Mengamati Narasi Kontra-Korupsi KPK melalui Film “KVK” dalam Kacamata Analisa Naratif
Wawancara yang dilakukan oleh Nurrahmi dan Putra menunjukkan beberapa stereotip buruk tentang etnis Tionghoa. Mereka banyak mendengar bahwa etnis Tionghoa adalah orang yang pelit, tidak adil, curang, jorok, dan makanan yang dimasak selalu mengandung unsur babi. Stereotip yang timbul di masyarakat mengenai etnis Tionghoa sudah menjadi prasangka. Prasangka merupakan mempercayai sesuatu yang tidak terbukti dan telah menjadi perilaku diskriminatif. Misalnya, dengan tidak makan di restoran Tionghoa dan bulliying terhadap etnis ini. Perilaku tersebut dapat dikatakan diskriminasi meskipun bukan secara langsung dengan fisik.
Intensitas Komunikasi Interpersonal Antara Etnis Aceh dan Tionghoa
Di dalam penelitian tersebut, Nurrahmi dan Putra menemukan bahwa komunikasi interpersonal antar etnis Aceh dan Tionghoa memiliki ciri-ciri yang efektif. Sesuai dengan apa yang dikatakan DeVito dalam buku yang sama yakni "The Interpersonal Communication Book 14th Edition", terdapat lima alasan mengapa komunikasi interpersonal dianggap efektif. Pertama, keterbukaan yakni keterbukaan untuk saling melakukan komunikasi, saling melempar pesan dan tanggapan demi keharmonisan dalam interaksi. Hal ini terjadi pada masyarakat di Gampong Laksana. Kedua, empati yakni elemen penting dalam mempelajari dan memahami orang lain, sehingga dapat “membendung” stereotip terhadap orang lain. Hal ini juga dirasakan masyarakat, mereka tidak sulit memberikan rasa empati ketika berinteraksi dengan etnis lain. Ketiga, dukungan yang diaplikasikan masyarakat melalui komunikasi yang bersifat deskriptif bukan evaluatif, dan lebih spontan ketika berinteraksi. Keempat, sikap positif yakni menghadirkan rasa positif dalam diri ketika berinteraksi, sehingga membuat lawan interaksi merasa nyaman. Mayoritas masyarakat Aceh merasa nyaman jika berinteraksi dengan etnis Tionghoa.
Pengaruh Stereotip Etnis Aceh Terhadap Etnis Tionghoa di Gampong Laksna
Di dalam teori pembelajaran sosial, intensitas komunikasi memiliki peran penting dalam mempengaruhi proses dan hasil dari pembelajaran sosial. Pembelajaran sosial akan menentukan bagaimana kognitif, afektif, hingga perilaku individu terhadap individu lain. Intensitas komunikasi efektif dapat “menepis” stereotip yang terbentuk sebelumnya, atau memperkuat stereotip yang ada, namun juga dapat membentuk stereotip baru.
Di dalam penelitian Nurrahmi dan putra, intensitas komunikasi etnis Aceh terhadap ertnis Tionghoa di Gampong Laksana memiliki pengaruh yang positif dan aspek kognitif, afektif dan perilaku. Artinya, proses dan hasil pembelajaran sosial etnis Aceh terhadap etnis Tionghoa dapat “menepis” stereotip negatif yang sudah ada. Stereotip negatif etnis Tionghoa di Banda Aceh tidak berdampak di Gampong Laksana. Proses pembelajaran sosial yang didapatkan dari orang lain dapat “dipatahkan” dengan proses pembelajaran sosial dari pengalaman langsung. Oleh karena itu, interaksi langsung dapat meningkatkan pemahaman antar kelompok sehingga tidak timbul stereotip negatif dan tindakan diskriminatif.
Kesimpulan
Penelitian Nurrahmi dan Putra membuktikan bahwa stereotip dapat “ditepis” dengan komunikasi internal yang efektif. Mereka berhasil melakukan dialog teoritik dengan teori dan fakta yang sesuai. Stereotip negatif yang telah lama terbentuk tidak selalu berimbas sama. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran sosial dari pengalaman pribadi lebih kuat dari stereotip yang beredar. Namun, setereotip yang sudah tertanam dan dipercaya akan menjadi penghambat dalam menjalin komunikasi yang efektif terhadap orang lain.

