(Sumber : UPT LBK UNJ)

Kualitas Hidup Mahasiswa dan Kecemasan Akademik

Riset Sosial

Artikel berjudul “Quality of Life of College Students: The Effects of State Anxiety and Academic Stress With Self-Control as a Mediator” merupakan karya Nadya Ariyani Hasanah Nuriyyatiningrum, Khairani Zikrinawati, Puji Lestari dan Rach Madita. Tulisan ini terbit di Jurnal Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi tahun 2023. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menguji pengaruh state anxiety dan stres akademik terhadap kualitas hidup melalui kontrol diri mahasiswa. Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif yang melibatkan sampel sebanyak 400 mahasiswa dari 24 provinsi di Indonesia. Alat ukur yang digunakan adalah World Health Organization Quality of Life (WHOQOL), State Anxiety Scale, AcademicStress Scale, dan Brief Self-Control Scale. Analisis jalur dilakukan melalui software R. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kecemasan mempengaruhi kualitas hidup melalui pengendalian diri. Ketiga, stres akademik dan pengendalian diri.

  

Pendahuluan

  

Pendidikan adalah hal penting dalam kehidupan setiap orang. Jika ditinjau dari Human Capital Theory, pendidikan adalah bagian dari investasi sumber daya manusia yang pada akhirnya memberikan dampak baik moneter maupun non-moneter. UNESCO menetapkan ada empat pilar pendidikan yang berkualitas baik yakni learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be a good person. Namun pada kenyataannya, implikasi pilar pendidikan menghadapi berbagai tantangan. Terdapat lima hal yang sering kali menjadi permasalahan seorang pelajar seperti masalah karier dan pekerjaan, masalah keuangan, masalah pribadi, masalah pendidikan dan pembelajaran serta masalah keluarga. 

  

Individu dapat memaksimalkan fungsi kehidupan fisik, psikologis, kejuruan dan sosialnya yang sering disebut dengan kualitas hidup. Kualitas hidup ditentukan oleh beberapa domain yakni kesehatan fisik, psikis, tingkat kemandirian, relasi sosial, lingkungan, dan keyakinan spiritual atau agama. Sebuah kualitas hidup dapat diartikan sebagai persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan yang berkaitan dengan budaya dan norma yang berlaku di mana mereka tinggal. Kemudian, terkait dengan tujuan, harapan, standar dan kepentingan mereka. Kualitas hidup baik yang dapat dinikmati oleh pelajar akan menunjang keberhasilan proses pendidikan dan prestasinya. Mereka akan lebih mudah bertahan ketika menghadapi perubahan dan tantangan dalam prosesnya. Individu dengan mental sehat adalah mereka yang memiliki sifat kuat dan positif, seperti memiliki kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, memperhatikan perasaan orang lain, dan merasa bersyukur sekaligus bahagia akan hidupnya. Artinya, tidak ada kondisi psikologis yang condong negatif, seperti stres dan cemas. 

  

Stres adalah tuntutan yang membuat seseorang menyesuaikan diri, salah satu jenisnya adalah stres akademik. Stres jenis ini disebabkan beban kerja mahasiswa yang berlebihan, persaingan antar mahasiswa, kegagalan, keuangan, hubungan buruk antar mahasiswa, dan sebagainya. Stres akademik adalah persepsi subjektif terhadap situasi akademik dengan tanggapan berupa reaksi fisik, pikiran, emosi negatif bahkan perilaku. Selain stres, kecemasan juga sering kali dirasakan oleh mahasiswa. Kecemasan adalah reaksi emosional yang tidak menyenangkan terhadap bahaya yang tidak nyata dan muncul karena pengalaman kemudian dirasakan sebagai ketegangan dan ketakutan. Salah satu jenisnya adalah kecemasan keadaan yakni menunjukkan kondisi kecemasan pribadi yang berhubungan dengan kondisi tertentu. 

  

Kecemasan Mempengaruhi Kualitas Hidup Melalui Pengendalian Diri 

   

Kecemasan mempengaruhi kualitas hidup secara langsung maupun tidak langsung terhadap kontrol diri. Jika ditinjau dari pandangan teoretis, salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas individu adalah kondisi kesehatan psikologis atau mental. Keadaan sehat secara mental dapat digambarkan mengalami keamanan, ketenangan, kepuasan, kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan. 

  

Kecemasan tentang keadaan tidak hanya berdampak langsung terhadap kualitas hidup, namun juga berdampak tidak langsung bagi pengendalian diri. Secara teoretis, kecemasan ditandai dengan gugup di mana menunjukkan kemampuan individu dalam menahan dan mengendalikan diri guna mencapai tujuan tertentu terutama mencapai kualitas hidup yang baik. Kondisi psikologis yang condong negatif bila disandingkan dengan kemampuan pengendalian diri memungkinkan individu mencapai kehidupan yang lebih baik. Kemampuan individu dalam menahan godaan disebut dengan inhibisi, sedangkan kemampuan mengendalikan diri agar fokus mencapai tujuan disebut inisiasi. Inhibisi dan inisiasi adalah aspek pengendalian diri dan mempengaruhi kondisi kesehatan psikologis individu sebagai faktor kualitas hidup. 

  

Stres Akademik dan Pengendalian Diri 

  

Stres akademik secara langsung mempengaruhi kualitas hidup. Hubungan negatif antara stres dan kualitas hidup mahasiswa ditunjukkan dengan penurunan fungsi kesehatan fisik dan mental. Berdasarkan sudut pandang teoretis, faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup individu bersifat psikologis. Situasi pendidikan yang dialami mahasiswa penuh dengan dinamika. Mahasiswa dapat mengalami permasalahan dalam bidang pendidikannya seperti tidak memahami penjelasan dosen, kesulitan belajar, khawatir mendapat nilai buruk, bahkan tidak memahami istilah tertentu dalam pembelajaran. 

  

Selain itu, stres akademik juga mempengaruhi langsung kualitas hidup, namun tidak memiliki pengaruh tidak langsung melalui pengendalian diri. Artinya, stres akademik tidak berpengaruh terhadap pengendalian diri. Temuan tersebut menunjukkan adanya dampak multidinamik kecemasan negara dan stres akademik terhadap kualitas hidup mahasiswa. Kecemasan yang dialami mahasiswa dapat secara langsung mengganggu kualitas hidup mereka atau menurunkan kontrol diri. Di sisi lain, stres akademik dapat memprediksi kualitas hidup mahasiswa secara langsung, terlepas dari efek moderasi pengendalian diri. 

  

Kesimpulan

  

Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pengaruh kecemasan dan stres akademik yang dialami mahasiswa condong menurunkan kualitas hidup mereka. Namun, kecemasan terhadap keadaan dan stres akademik mempengaruhi kualitas hidup dengan cara dinamis yang berbeda. Mahasiswa  yang merasa cemas pada kondisi tertentu cenderung menunjukkan ketidakmampuannya mengendalikan diri, sehingga mempunyai persepsi negatif terhadap kehidupannya. Di sisi lain, situasi akademik yang penuh tekanan tidak mempengaruhi kemampuan pengendalian diri. Meskipun demikian, keduanya berkontribusi langsung terhadap kualitas hidup mahasiswa.