Sebuah Cerita Pasangan NU-Muhammadiyah Saat Beda Awal Puasa
InformasiEva Putriya Hasanah
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menjaga keimanan dan kesabaran. Bagi pasangan yang berasal dari latar belakang keagamaan yang berbeda, menjalani puasa bisa menjadi momen yang menarik dan penuh makna. Inilah kisah unik dari pasangan yang satu berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) dan satu lagi berasal dari Muhammadiyah, yang menjalani puasa dengan penuh kebahagiaan meski berasal dari latar belakang keagamaan yang berbeda.
Sebelumnya, NU dan Muhammadiyah sendiri, meskipun sama-sama berakar pada ajaran Islam, keduanya memiliki budaya dan organisasi yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini terkadang dapat menimbulkan tantangan bagi pasangan yang mengikuti jalan yang berbeda. Dalam hal awal Ramadan, NU dan Muhammadiyah secara historis mengikuti metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan suci. NU mengandalkan rukyatul hilal, sementara Muhammadiyah mengikuti pendekatan yang dihitung berdasarkan perhitungan astronomi. Inilah yang terkadang membuat jatuhnya awal puasa maupun jatuhnya hari raya idul fitri antara NU dan Muhammadiyah menjadi berbeda. Seperti tahun ini, awal puasa antara keduanya jatuh di hari yang berbeda. Muhammadiyah di hari senin dan NU di hari selasa.
Menjalani awal puasa bagi pasangan muda yang berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah seringkali menjadi momen yang unik dan menarik. Perbedaan latar belakang keagamaan yang mereka miliki menciptakan dinamika tersendiri dalam memulai ibadah puasa. Namun, bagi sebagian pasangan, pengalaman ini justru menjadi awal dari proses pemahaman dan kompromi yang membawa mereka mendekat satu sama lain.
Kita sebut saja nama informan dalam tulisan ini dengan nama Siti dan Ahmad. Siti dan Ahmad adalah pasangan muda yang telah menjalani hubungan selama beberapa tahun. Siti, seorang perempuan yang mewakili NU, dan Ahmad, seorang pria yang mewakili Muhammadiyah, telah terbiasa dengan perbedaan pendekatan dalam menjalani ibadah, termasuk awal puasa. Setiap tahun, ketika bulan Ramadan tiba, mereka menjalani awal puasa yang kadang berbeda, tergantung dan sesuai dengan keyakinan dan tradisi agama yang mereka anut. Seperti halnya tahun lalu, idul fitri mereka jatuh di hari berbeda, dan juga tahun ini awal puasa mereka pun berbeda.
Namun, seiring berjalannya waktu, Siti dan Ahmad mulai memahami bahwa perbedaan awal puasa mereka sebenarnya merupakan bagian dari kekayaan tradisi agama yang perlu dihargai. Mereka belajar untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain dalam menjalani ibadah, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Proses ini lambat laun membawa mereka pada pemahaman bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menjaga kebersamaan dan saling mendukung dalam ibadah.
Dalam perjalanan panjang hubungan mereka, Siti dan Ahmad mulai merasakan bahwa perbedaan awal puasa mereka sebenarnya tidak lagi menjadi sebuah halangan. Mereka belajar untuk saling kompak dan melebur pada nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh agama Islam. Meskipun berasal dari latar belakang keagamaan yang berbeda, mereka menemukan kesamaan dalam tujuan akhir dari ibadah puasa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kesadaran spiritual.
Melalui perjalanan yang penuh makna ini, Siti dan Ahmad akhirnya menemukan bahwa perbedaan awal puasa mereka bukanlah sebuah batasan, tetapi justru menjadi anugerah yang memperkaya hubungan mereka. Mereka menyadari bahwa dalam menjalani ibadah, yang terpenting bukanlah perbedaan awal puasa, tetapi bagaimana mereka saling mendukung, menghormati, dan mempererat hubungan dalam kebersamaan yang penuh kasih sayang.
Dengan penuh kebahagiaan, Siti dan Ahmad menemukan bahwa perbedaan awal puasa mereka telah membawa mereka pada pemahaman yang lebih dalam tentang arti sejati dari ibadah puasa, yaitu menjalin kasih sayang, saling pengertian, dan kebersamaan yang harmonis dalam memperkuat ikatan spiritual dan cinta kepada Allah.

