Modal Budaya, Islamisme dan Ketidakpercayaan Politik
Riset SosialArtikel berjudul “Cultural Capital, Islamism, and Political Distrust in Indonesian General Election: An Ethnicity-Based Community Engaged in Islamic Defenders Front (FPI)\" merupakan karya Muhammad Hilali Basya dan Hamka. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islamic and Muslim Societies tahun 2023. Penelitian ini mengambil studi kasus kelompok FPI di Jakarta yang menolak hasil pemilihan umum (Pemilu) 2019. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji cara komunitas muda Betawi yang berpartisipasi dalam FPI ketika menafsirkan nilai-nilai dan tradisi Betawi pada pengadopsian Islamisme. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus yang menginvestigasi modal budaya dan pengaruhnya terhadap komunitas muda Betawi yang aktif di FPI. Data didapatkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Komunitas Muda Batavia dan Front Pembela Islam. Ketiga, revitalisasi modal budaya. Keempat, ketidakpercayaan politik Front Pembela Islam dan kontestasi politik lokal.
Pendahuluan
Kelompok Islamis adalah kelompok Islam paling aktif yang mengkritik aspek sekular modernitas. Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia tahun 2019 yang mencakup Pilihan Presiden (Pilpres) merupakan contoh salah satu contoh relevan dalam mengkaji pandangan kelompok Islamis. Pemilu tidak hanya menjadi ajang kontestasi partai politik guna merebut posisi Presiden, melainakan pertarungan ideologi antar kelompok Islam. Khususnya, Front Pembela Islam (FPI) yang menginginkan negara dipimpin oleh tokoh-tokoh yang mewakili Islam. Mereka menolak kandidat dan kelompok sekular yang menginginkan ruang politik tanpa identitas agama.
Komunitas Muda Batavia dan Front Pembela Islam
Komunitas muda Batavia adalah kelompok generasi muda yang memiliki anggota usia 25 hingga 40 tahun dan berjumlah sekitar 50 orang. Mereka tinggal di pinggiran kota Jakarta. Kebanyakan dari mereka adalah tamatan sekolah menengah atas, sehingga sebagian dari mereka bekerja dengan gaji yang rendah. Mereka tidak dilatih atau belajar dalam bidang studi Islam seperti yang disediakan oleh pondok pesantren. Meski demikian, mereka mempelajari Islam melalui majelis taklim yang rutin diadakan setiap satu minggu sekali. Hal yang dipelajari adalah akidah dan kajian al-Qur’an atau tafsir.
Seiring berjalannya waktu dan urbanisasi terjadi, muncul beberapa organisasi seperti Forum Orang Batavia (FORKABI) dan Pemuda Pancasila. Kedua organisasi ini terlibat konflik yang sengit akibat kepentingan ekonomi. konflik ini berimbas pada solidaritas komunitas muda Batavia karena sebagian anggotanya juga tergabung dalam Pemuda Pancasila. Bahkan, terjadi bentrokan fisik antar keduanya, sehingga mendorong para pemimpin pemuda Batavia untuk mendirikan organisasi dengan keanggotaan berdasarkan wilayah tempat tinggal. Tujuannya adalah menetralisir konflik.
Pada pemilu 2014, ketegangan politik nasional memolarisasi masyarakat dan mendorong generasi muda Batavia untuk terlibat dalam organisasi yang menghubungkan mereka dengan kelompok Islam yang lebih luas. FPI kemudian menjadi pilihan mereka. Komunitas Muda Batavia merasa bahwa kelompok sekular termasuk faksi komunis akan mengancam umat Islam Indonesia. Sejak saat itu, Komunitas Muda Batavia sering terlibat dalam kegiatan FPI, seperti pengajian dan tablig akbar. Puncaknya, ketika salah satu senior dari komunitas tersebut diangkat menjadi ketua FPI. Saat itu mereka lebih loyal dan mempraktikkan seluruh agenda yang dianjurkan FPI.
Revitalisasi Modal Budaya
Baca Juga : Petisi, Guru Besar dan Demokrasi
Modal budaya adalah salah satu alasan kuat mengapa mereka memilih bergabung dengan FPI bukan Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah tersebut. Modal budaya yang dimaksud adalah sumber daya seperti nilai, norma, atau wawasan yang dikumpulkan komunitas melalui warisan budaya pendahulunya. Konsep modal budaya sendiri sebenarnya di perkenalkan oleh Sosiolog Perancis, Pierre Bourdiieu. Ia mendefinisikan modal budaya sebagai sumber daya yang terakumulasi atau ditransmisikan melalui warisan budaya dan pendidikan. Jadi, modal budaya dibentuk oleh banyak aspek kehidupan sosial seperti keluarga, lingkungan dan pendidikan. Setiap orang atau komunitas memiliki modal budaya karena mereka hidup dalam keluarga dan lingkungan tertentu, serta mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal.
Ketidakpercayaan Politik Front Pembela Islam dan Kontestasi Politik Lokal
Komunitas Muda Batavia banyak terlibat dalam kampanye penolakan hasil pemilu 2019. Beberapa di antara mereka mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan di media sosial, khususnya grup WhatsApp. Group ini terdiri dari anggota yang tinggal di pinggiran Jakarta dan didominasi oleh penentang pemerintahan Jokowi. Meskipun tidak semua anggota FPI, mereka condong mendukung retorika Islam, khususnya yang disuarakan oleh para tokoh FPI. Kecenderungan ini terlihat dari komentar-komentar di WhatsApp Group. Selain melalui media sosial, ada pula yang mengutarakan kekecewaannya melalui obrolan informal ketika berada di majelis taklim. Meskipun topik dalam majelis fokus pada akidah dan ibadah, namun percakapan sebelum dan sesudah pengajian biasanya membahas pemilu 2019.
Ketika FPI mengajak anggotanya berunjuk rasa di depan kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) di Jakarta untuk memprotes hasil Pemilu 2019, hampir seluruh Komunitas Muda Batavia ikut serta. Mereka datang ke aksi mewakili salah satu cabang FPI di Jakarta. Bus kecil digunakan sebagai kendaraan untuk menuju pusat aksi di pagi hari. dana diperoleh dari uang sumbangan dan pribadi guna kebutuhan selama unjuk rasa.
Komunitas Muda Batavia ini sangat kritis terhadap agenda kaum sekularis. Mereka menilai kelompok sekularis sebagai golongan yang berupaya memanipulasi suara untuk memenangkan Jokowi. Jokowi dianggap sebagai kader PDIP yang banyak diisi kaum sekularis dengan posisi elit. Persepsi melawan sekularisme adalah energi mereka. Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa mereka memiliki persepsi seperti yang umumnya diungkapkan semua gerakan Islam. Gerakan ini membayangkan mereka sebagai agen yang tidak hanya memperjuangkan hak konstitusional, namun kebenaran agama. Mereka menganggap dirinya sebagai prajurit Tuhan yang berjuang menegakkan ajaran Islam.
Hal yang menjadi catatan adalah ideologi Islam bukan satu-satunya faktor yang mendorong mereka berpartisipasi dalam gerakan ketidakpercayaan politik. Imajinasi mengenai pahlawan klasik Batavia seperti Pitung dan Jampang dalam melawan kolonialisme Belanda bermunculan. Keterlibatan imajinasi budaya ini menunjukkan pengaruh modal budaya terhadap keputusan, perilaku dan orientasi politik mereka. Mereka merevitalisasi budayanya dalam memberikan makna ketidakpercayaan politiknya terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pemerintah.
Meskipun Komunitas Muda Batavia ini lebih menyukai retorika Islamis FPI dalam menghadapi bentrokan antara pendukung Jokowi dan lawannya, namun mereka memiliki agenda sendiri. Mereka memiliki motivasi lain yang berkaitan dengan kepentingan pribadi. Mereka prihatin dengan superioritasnya sebagai kelompok masyarakat adat lingkungan yang hidup bersama dengan pendatang. Melalui keikutsertaan gerakan protes nasional pemerintah, KPU, dan lembaga negara lainnya, warga Batavia ini bermaksud menunjukkan kepada tetangga imigran bahwa mereka memiliki potensi politik, agar tidak dianggap remeh.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hidup sebagai komunitas adat dalam masyarakat multietnis Jakarta telah membuat generasi muda Batavia untuk mengkonsolidasikan identitas dan kekuatan mereka agar mampu mengatasi tantangan yang mengancam eksistensi mereka. Urbanisasi ke Jakarta untuk tujuan ekonomi telah berdampak pada munculnya ketegangan antara masyarakat Batavia dan pendatang selama puluhan tahun. Alhasil, mereka membangun sentimen etnik dan memperkuat identitas Batavia mereka. Selain itu, ketegangan di tingkat politik nasional pada pemilu 2019 mendorong generasi muda Batavia ini untuk terlibat dalam organisasi yang menghubungkan mereka dengan kelompok Islam nasional. Anehnya, NU tidak menjadi pilihan, padahal tradisi Islam Batavia lebih mirip dengan NU. Sepertinya, modal budaya anak muda Batavia ini lebih cocok dengan gerakan Islam semi radikal, FPI. Modal budaya yang dimilikinya mendorong mereka untuk memperjuangkan berdirinya negara dan masyarakat Islam sekaligus melakukan perlawanan.

