Nasionalisme dan Spiritualisme Tarekat Jawa
Riset SosialArtikel berjudul “Nationalism and Spiritualism of Javanese Tarekat: Study of Tarekat Rinjani in Banyumas Central Java” merupakan karya Khholid Mawardi. Tulisan ini terbit di Qudus Internationalism of Javanese (QIJIS) tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan ajaran tasawuf Tarekat Rinjani di Desa Besuki Kabupaten Banyumas. Selain itu, penelitian ini lebih adalam berusaha mengungkap laku bathiniyah dan lahiriyah pada Tarekat Rinjani. Pendekatan yang digunakan adalah antropologi budaya, dengan teknik penggalian data melalui observasi partisipatif sekaligus wawancara mendalam. Terdapat tiga sub bab dalam penelitian ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Tarekat Rinjani dan tatanan ajarannya. Ketiga, latihan spiritual dan fisik Tarekat Rinjani.
Pendahuluan
Masyarakat Muslim Jawa di pedesaan lebih dekat dengan ajaran tasawuf yang menekankan pada nilai batin atau spiritualitas daripada sisi formal agama, meskipun mereka juga menonjolkan simbol dalam mengekspresikan spiritualitas mereka. Pada konteks ini, Islamisasi pedesaan Jawa banyak dilakukan oleh ulama sufi atau setidaknya ulama yang mampu mengakulturasi ajaran Islam. Selain kecanggihan dakwah para sufi dalam menyampaikan ajaran Islam yang menyatu dengan bingkai budaya, kesiapan pola pikir dan pengalaman batin orang Jawa dalam hal spiritualitas juga menjadi faktor mengapa mereka memilih Islam sebagai agamanya.
Menurut sejarawan, ada perbedaan Islamisasi di Jawa antara Pantai Utara dan Selatan Jawa. Isalmisasi pesisir Jawa menyebar lebih cepat karena masyarakat lokalnya berpikiran terbuka dan egaliter. Selain itu, Islamisasi di daerah pedesaan Jawa hanya bisa berlangsung ketika tasawuf mulai mempengaruhi kehidupan para penguasa dan penyair sekitar tahun 1400-1700 M. Kemudian, para penguasa pedesaan di Jawa secara bertahap dan selektif mengadopsi ajaran Islam dan tasawuf. Tasawuf dapat dilihat sebagai ajaran paling praktis bagi masyarakat Jawa melalui para penyair. Saat itu, Islam adalah satu-satunya pilihan untuk membentuk peradaban cosmopolitan baru di Pantai Utara Jawa.
Menurut Sanad, dari banyaknya tarekat lokal di selatan Jawa, ada dua nama yang terkenal yakni Sultan Agung yang dianggap sebagai murid Sunan Kalijaga. Pada kitab Sastra Gending, Sultan Agung mengungkapkan bahwa teologi diwujudkan dalam satu kesatuan yang untuh antara tiga sisi, dengan Tuhan berada dipuncak dan dua titik sama lainnya ditempati manusia dan alam semesta. Artinya, Tuhan memiliki kekuasaan mutlak atas semua makhluk, tindakan manusia tidak bisa lepas dari pengawasan Tuhan. Sultan Agung juga berpendapat bahwa manusia digolongkan menjadi dua golongan yakni ‘ahlu dzahir’ yang mengacu pada seseorang yang dapat menangkap nuansa ketuhanan melalui aspek lahiriah, dan ‘ahlu batin’ yang mengacu pada seseorang yang dapat menangkap nuansa keilahian melalui pengalaman spiritual.
Ajaran tasawuf Sultan Agung menggabungkan ketaatan normatif berdasarkan hukum Islam dan menekankan syariah sebagai dasar tasawuf. Kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat hanya diperoleh dengan konsisten menjalankan syariat. Syariah adalah langkah awal bagi manusia untuk mencapai tingkat tarekat beripa ‘maqamat’ dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi. Akhirnya, tingkat tertinggi sebelumnya dapat dicapai melalui hakikat, kemudian dalam posisi ini manusia akan mencapai tingkat tertinggi yang disebut ‘ma’rifat’. Ma’rifat adalah pengetahuan intuitif mistis mengenai kebenaran spiritual yang dicapai melalui pengalaman yang luar biasa, daripada diungkapkan atau diperoleh secara rasional.
Tasawuf begitu diminati masyarakat Jawa karena manfaatnya. Selain melakukan kegiatan wirid untuk mengendalikan hawa nafsu duniawi dan mempersiapkan untuk menerima pengalaman kasyaf, juga dapat memunculkan kesantian untuk menjadi salik, pengikut jalan mistik. Cara untuk menjadi salik adalah seorang muslim seumur hidupnya harus menjalani kedisiplinan dalam menjalankan syariat lahiriah serta disiplin dalam menjalankan syariat batiniah. Wirid adalah bacaan ayat yang diambil dari al-Qur’an untuk dibacakan dalam jumlah tertentu dan umumnya diberikan oleh seorang guru/kiai kepada murid atau santrinya. Sedangkan, kasyaf adalah salah satu keromah atau kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada hamba yang dicintai-Nya.
Tarekat Rinjani dan Tatanan Ajarannya
Baca Juga : Merantau Bagi Orang Madura
Masyarakat Rinjaji sebagian besar menghabiskan waktunya dengan bertani, berkebun, beternak dan beberapa perantau menjadi tukang bangunan. Masyarakat memiliki banyak waktu luangm terutama saat musim kemarau. Pada akhirnya banyak dari mereka yang mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan dnegan mengikuti kegiatan Tarekat.
Nama Rinjani adalah kependekan dari ‘Rela Ilahi Nanggung Jawab Amanah Negara Indonesia’. Artinya, rela bertanggung jawab atas Indonesia dengan ikhlas karena Tuhan. Tarekat ini didirkikan oleh seornag pemuda bernama Untung Waluyo yang menariknya tidak mau disebut ustaz atau kiai. Hal ini disebabkan ia tidak pernah menjadi penghuni pesantren tertentu, melainkan menjadi santri nomaden yang mencari ilmu dari berbagai kiai dan habib di Wilayah Banyumas dan dikenal memiliki karomah dan seorang mursyid atau pembimbing spiritual tarekat.
Terdapat 13 ajaran Tarekat Rinjani yang dapat direpresentasikan sebagai tahapan atau langkah untuk mencapai tujuan akhir manusia. Pertama, Kunci Negara Indonesia yang bermakna ulama yang berilmu adalah kunci utama dalam menuntut ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjadikan negara kepada masyarakat Indonesia sebagai rumah yang merdeka dan berdaulat. Kedua, Alam yang merupakan singkatan Asal Lahir Air Mani yang berarti bahwa manusia berasal dari air mani, entitas kehidupan manusia yang paling rendah. Ketiga, Dunya singkatan dari Dalan Usaha Nyinaoning Alam yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa setiap entitas di dunia ini tidak lain adalah mengingat Rahmat Allah SWT. Keempat, Batu singkatan dari Badan Alam Tiang Urip yang berarti tubuh fisik kehidupan manusia diatur oleh ‘perapian’ yang diperoleh dari pembelajaran dan keteladanan ulama. Kelima, Bako yakni singkatan dari Bumi Allah Kekuasaan Ora Tanding yang artinya tidak ada kekuasaan yang lebih besar daripada Allah SWT.
Keenam. Bulus yakni singkatan dari Budi Luhur Sesama yang mengajarkan bahwa harus berbuat baik kepada orang lain agar selamat dunia akhirat. Ketujuh, Anggrem yakni Aku Nggolet Gaman Rino Enggal Mulia yang mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia adalah mengakui keesaan Allah dengan melakukan sesuatu untuk Allah SWT. Kedelapan, Berlian singkatan dari Budi Pekerti Eling Ridho Langsung Ilham Allah Nanggulangi yang mengajarkan manusia harus menghiasi diri dengan moral dan perilaku yang baik secara spiritual aupun fisik untuk mendapatkan rida Allah SWT. Kesembilan. Mas singkatan dari Mulia Allah Slamet yang bertujuan menyarankan agar manusia melakukan segala sesuatu hanya mencari berkah dari Allah jika ingin selamat dunia akhirat. Kesepuluh, Iman singkatan dari Induk Mengenal Allah Nitis yakni keyakinan bahwa tidak ada yang harus disembah selain Allah SWT. Kesebelas, Islam singkatan dari Insap Slamet Laku Agama Migunani berarti Islam adalah jalan menuju cinta Allah dan keselamatan dunia akhirat dengan selalu berzikir dan bertaubat kepada Allah SWT. Keduabelas, Aherat singkatan dari Akhir Hidup Eling Ridho Allah Tinulung bertujuan untuk mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia bukanlah di dunia melainkan akhirat. Ketigabelas, Suwarga singkatan dari Sukses Uripe Wekasane Amale Rahmat Ganjarane Allah. Artinya tujuan akhiru hidup manusia adalah untuk dianugrahi cinta dan surga Allah SWT.
Latihan Spiritual dan Fisik Tarekat Rinjani
Terdapat dua praktik Tarekat Rinjani termasuk praktik spiritual dan fisik yang dikenal dengan Laku Kendalisada. Latihan ini dimulai dengan menata hati dan piliran dengan memperbaharui iman para anggota tarekat dengan mengucapkan dua syahadat. Pengakuan itu untuk mengingatkan bahwa satu-satunya yang disembah dan dapat diandalkan oleh makhluk lain adalah Allah SWT. Tujuannya adalah mendekatkan diri dan mendapatkan kasih sayang Tuhan dengan beberapa langkah.
Langkah pertama adalah menyadari posisinya sebagai manusia semata yang diciptakan dari mani, esensi alam semesta. Kedua, menyadari dirinya sebagai makhluk. Ketiga, menghilangkan sifat buruk dan memenuhi dengan sifat terpuji dalam berinteraksi dengan semua makhluk. Keempat, selalu memenuhi hati dengan kemuliaan Tuhan dengan selalu melihat dan merenungkan semua ciptaan-Nya di alam semesta.
Amalan lainnya dalah membaca zikir dan wirid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zikir ini mengikuti ketentuan tarekat dengan dilakukan di rumah pimpinan pada Minggu Legi setiap bulan. Selain itu, boleh dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain seperti khitanan, nikah dan lain sebagainya di rumah masing-masing. Kalimat zikir dihitung dengan tujuh puluh ribu kerikil. Kerikil ini dibagikan secara merata kepada semua anggota.
Terdapat beberapa amalan fisik Kendalisada. Pertama, mencintai NKRI dengan mengibarkan bendera Merah Putih bersama bendera NU di setiap momen hari besar nasional atau Islam. Kedua, membantu sesame tanpa membedakan agama, golongan dan ras seperti tradisi berkumpul atau mengunjungi anggota tarekat lain setiap minggu. Ketiga, melakukan perjalanan spiritual dengan mengunjungi berbagai tempat yang dianggap memiliki karomah.
Kesimpulan
Artikel hasil penelitian ini dituliskan secara lengkap dan sangat terstruktur, termasuk bagaimana metode yang dijalankan dalam penelitian ini secara lengkap. Subjek penelitian ini juga sangat menarik dengan memilih salah satu tarekat Jawa lokal yang masih berkembang di masyarakat. Secara garis besar tarekat Rinjani tergolong ghairu mu’tabarah yang bukan merupakan tarekat sufi. Jika ditinjau lebih dalam, bersadarkan syariat termasuk dalam akidah Islam Sunni, sebab ciri khas tarekat sufi-sinkretik Banyumas dengan sanad non-mutashil yang tidak berhubungan langsung dengan Nabi Muhammad SAW.

