Quarter Life Crisis dan Tekanan Psikologis
Riset SosialArtikel berjudul “Quarter Life Crisis: Personal Growth Initiative as a Moderator of Uncertainty Intolerance in Psychological Distress” merupakan karya Audita Izza Balqis, Diah Karmiyati, Cahyaning Suryaningrum, dan Hanif Akhtar. Tulisan ini terbit di Jurnal Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi tahun 2023. Krisis kuartal kehidupan sebagai krisis psikososial individu yang rentan mengalami gangguan psikologis. Tujuan penelitian ini adalah menguji peran inisiatif pertumbuhan pribadi dalam menentukan pengaruh intoleransi terhadap gangguan psikologis pada individu yang mengalami quarter life crisis. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan melibatkan 390 partisipan dengan proses skrining menggunakan “Qurater-life Crisis Questionnaire.” Alat ukur yang digunakan adalah Intolerance of Uncertainty Scale, General Health Wuestionnare-12, dan Personal Growth Initiative Scale-II. Selanjutnya, analisis regresi moderasi dilakukan menggunakan PROCESS Hayes. Terdapat dua sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, quarter life crisis dan inisiatif pertumbuhan pribadi.
Pendahuluan
Kehidupan penuh dengan perubahan kondisi, sehingga menyebabkan dorongan seseorang harus beradaptasi dengan berbagai pola, tantangan dan masalah baru. Mereka yang tidak mampu beradaptasi pada dengan baik pada kondisi yang kompleks, akan cenderung mengalami quarter life crisis. Quarter life crisis mencerminkan kondisi yang tidak stabil pada beberapa aspek kehidupan mereka, seperti pilihan karier, pengangguran, ketidakcocokan perkerjaan, masalah keluarga, masalah keuangan, perceraian, dan aspek tujuan hidup lainnya.
Berdasarkan survei Linkedln Corporate Communications, 75% individu berusia 25-33 tahun mengalami quarter life crisis dikarenakan ketidakpastian, kebingungan, atau frustrasi mengenai karier mereka. Kompleksitas masa transisi dari masa remaja menuju masa dewasa yang penuh dengan ketidakpastian, ambiguitas dan keadaan tidak stabil rentan menyebabkan individu mengalami tekanan psikologis. Tekanan psikologis merupakan serangkaian gejala mental dan fisik yang menyakitkan berdasarkan laporan diri. Selain itu, tekanan psikologis adalah respons stres yang mengacu pada keadaan emosi negatif, seperti kecemasan.
Individu yang mengalami quarter life crisis menghadapi kemungkinan terjadinya bias kognitif dalam persepsikan masa depan, sebab terkait dengan orientasi keyakinan dan harapan individu saat ini serta masa depan. Perasaan tersebut menimbulkan tekanan psikologis pada tingkat toleransi individu ketika dihadapkan dengan kondisi tidak menentu. Intoleransi ketidakpastian mengacu pada sifat ketidakmampuan menghadapi respons ancaman yang dipicu ketidakpastian.
Merenungkan suatu peristiwa sebagai sesuatu yang negatif dapat menyebabkan individu mengalami emosi negatif. Suatu peristiwa yang dianggap sebagai ancaman atau ketidakpastian dapat dikaitkan dengan kecemasan. Barry dalam tulisannya berjudul “The effect of psychological distress on health outcomes: A systematic review and meta-analysis of prospective studies” menjelaskan bahwa dampak tekanan psikologis mempengaruhi aspek kesehatan dan dapat mengganggu fungsi kognitif.
Quarter-Life Crisis dan Inisitif Pertumbuhan Pribadi
Quarter life crisis dikaitkan dengan kondisi stres yang dianggap wajar bagi individu ketika mengalami masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Kondisi ini menuntut individu untuk mampu menyesuaikan diri. Mereka yang tidak mampu rentan mengalami tekanan psikologis ketika dihadapkan tuntutan, tantangan dan target yang harus dihadapi masing-masing individu. Situasi ini bisa dianggap sebagai sumber stres. Jelas bahwa fakta ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh positif intoleransi terhadap ketidakpastian terhadap tekanan psikologis. Hasilnya, mendukung adanya penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa intoleransi terhadap ketidakpastian berkontribusi terhadap keemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.
Baca Juga : Erick Thohir, PSSI dan Sepak Bola Indonesia
Ciri individu yang mengalami quarter life crisis adalah kecemasan terkait masa depan, kesulitan dalam mengambil keputusan, dan kebingungan akan arah hidup ke depannya. Emosi negatif tersebut muncul karena adanya ketidakpastian keadaan yang berkaitan dengan masa depan. Mereka akan semakin intoleran ketika menghadapi kondisi yang tidak menentu karena beberapa aspek kehidupan sepeti karier dan memiliki dampak jangka panjang dalam hidup. intoleran terhadap ketidakpastian dapat muncul karena perasaan tidak bisa mengandalkan setiap aspek yang mempengaruhi nasibnya di masa depan.
Meskipun intoleransi terhadap ketidakpastian mempengaruhi tekanan psikologis, pengaruhnya ditentukan oleh peran inisiatif pertumbuhan pribadi. Inisiatif pertumbuhan pribadi dapat menyangga atau mengurangi tekanan psikologis yang dipengaruhi kecenderungan intoleran terhadap ketidakpastian dengan tingkat prediksi sebesar 11,7%. Temuan ini semakin memperjelas beberapa penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa insiatif pertumbuhan pribadi yang didukung oleh berkembangnya pola pikir dapat mencegah atau mengurangi dampak peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Individu dengan growth mindset akan lebih proaktif terhadap aspek penting pertumbuhan pribadi, seperti membangun motivasi, mengeksplorasi dan mengevaluasi diri dalam mencapai tujuan hidup yang diinginkan.
Ciri orang dengan inisiatif pertumbuhan pribadi di antaranya adalah kesadaran dan niat terhadap tujuan pribadi, keterampilan pemecahan masalah yang mudah beradaptasi, keyakinan dalam mengatasi hambatan dan penerimaan diri yang tinggi, kesiapan untuk berubah, serta kemampuan memanfaatkan sumber daya atau fasilitas secara efektif. Individu dengan inisiatif pertumbuhan pribadi percaya pada kemampuan yang mereka miliki. Mereka percaya diri untuk mengatur dirinya, termasuk emosi.
Pada kasus quarter life crisis yang penuh dengan ketidakpastian, individu dengan growth mindset akan fokus pada evaluasi diri, mengidentifikasi aspek internal yang perlu dikembangkan, mengidentifikasi hambatan, dan mengembangkan rencana dan strategi yang tepat untuk menghadapi quarter life crisis. Oleh sebab itu, alih-ali kesulitan beradaptasi dengan quarter life crisis, individu tersebut akan lebih fokus mengembangkan aspek positif dalam dirinya.
Pada penelitian De Jager-van Straaten dalam penelitiannya berjudul “Personal growth initiative among Industrial Psychology students in a higher education institution in South Africa” menemukan adanya perbedaan mendasar mengenai inisiatif pertumbuhan pribadi. Orang yang lebih tua condong menunjukkan niat dan motivasi yang lebih tinggi, terlibat aktif dalam proses perubahan, dan condong menetapkan tujuan dalam hidup. Pada inisiatif pertumbuhan pribadi membutuhkan penetapan tujuan, perencanaan dan keinginan kuat untuk mencapai tujuan. Selain itu, individu mulai mengalami keterlibatan dalam tanggung jawab hidup yang lebih luas di masa dewasa. Oleh sebab itu, orang dewasa lebih memiliki arah dalam menetapkan tujuan hidupnya dibandingkan mereka yang masih muda (18-21 tahun) yang masih aktif terlibat dalam menyelesaikan studinya. Menatapkan dan mencapai tujuan bukanlah prioritas pada usia muda.
Jika ditinjau dari segi gender, maka analisis regresi yang dimoderasi hanya signifikan pada perempuan. Hal ini umum terjadi karena wanita lebih rentan mengalami tekanan psikologis dibanding pria. Berdasarkan perspektif quarter life crisis, perempuan lebih rentan terhadap konflik sosial di mana perempuan memenuhi tuntutan konstruksi sosial dibanding pria. Selain itu, perbedaan basis gender dalam inisiatif pertumbuhan pribadi juga terkait dengan kemampuan pemecahan masalah. Pria lebih dominan dengan memiliki tingkat keyakinan lebih tinggi, lebih optimis, dan percaya pada diri sendiri.
Kesimpulan
Inti dari penelitian tersebut adalah inisiatif pertumbuhan pribadi memberikan pengaruh intoleransi terhadap gangguan psikologis pada individu yang mengalami quarter life crisis. Oleh sebab itu, diperlukan penerapan strategi untuk membangun keterampilan inisiasi pertumbuhan pribadi, agar dapat membantu individu dalam memaksimalkan potensi secara penuh, sehingga dapat menangani jangkauan luas. Meskipun penelitian ini berhasil menemukan perbedaan signifikan pria dan wanita namun tidak terdapat perbedaan signifikan terkait tipe demografi lain seperti usia, pendidikan, status pekerjaan, dan status perkawinan. Selain itu, penelitian tersebut menunjukkan bahwa inisiatif pertumbuhan pribadi menentukan pengaruh intoleransi ketidakpastian terhadap tekanan psikologis pada individu yang mengalami quarter life crisis. Penelitian tersebut menyarankan bahwa sebagaimana bentuk mekanisme pencegahan dampak intoleransi ketidakpastian terhadap tekanan psikologis, maka diperlukan pengembangan keterampilan dalam inisiatif pengembangan diri. Tujuannya adalah mempermudah adaptasi secara efektif terhadap kondisi yang tidak pasti.

