(Sumber : Business manager)

Krisis Kesehatan Mental di Tengah Gen Z

Horizon

Risma Azzah Fatin

Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Kasus kesehatan mental saat ini banyak dialami oleh generasi Z. Menurut hasil survei McKinsey Health Institute, ada 18% responden kelahiran tahun 1997-2012 di dunia yang merasa kesehatan mentalnya buruk. McKinsey Health Institute juga mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor khusus yang dapat memengaruhi kesehatan mental generasi Z, seperti tahap perkembangan, tingkat keterlibatan dengan layanan kesehatan, faktor keluarga atau masyarakat, serta penggunaan media sosial. Menurut laporan survei yang sama, generasi Z yang banyak menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk menggunakan media sosial cenderung memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk. Bila dibandingkan dengan generasi lainnya, dimana generasi Z adalah generasi yang paling banyak memperoleh dampak negatif dari media sosial. Berikut dampak negatif terhadap pola pikir generasi Z dari penggunaan media sosial yang berlebihan:

  

Suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dampak yang didapat dari penggunaan media sosial yang berlebihan ialah suka membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hal ini ditentukan dimana seseorang tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Kemampuan yang dimiliki menjadi tolak ukur dalam menilai kualitas diri sendiri. Dalam hal ini orang yang suka membandingkan dirinya dengan orang lain banyak ditemukan pada orang berusia 20-an. Dimana pada usia itu seseorang mudah sekali terpengaruh dan menganggap lemah dirinya sendiri. Contoh kasus yang ditemukan seperti insecure dari segi penampilan, tingkat pendidikan serta dalam hal pekerjaan.

  

Low self esteem atau suka meremehkan diri sendiri. Dalam hal ini seseorang merasa bahwa dirinya tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik. Banyak sekali didapat bahwa seseorang yang mengalami low self esteem adalah seseorang yang telah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Karena hal ini seseorang merasa bersalah terhadap dirinya. Pada kasus ini banyak sekali ditemukan bahwa generasi Z yang mengalami low self esteem merasa bahwa pencapaian yang didapat tidak sesuai dengan ekspektasi yang dimiliki.

  

Over thinking about the future atau terlalu mengkhawatirkan masa depan. Mengkhawatirkan masa depan merupakan kondisi antisipatori, dimana seseorang cemas atau takut terhadap sesuatu yang belum pernah terjadi. Seseorang yang mengalami kecemasan antisipatori biasanya menghabiskan banyak waktu untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Pada kasus ini banyak ditemukan beberapa faktor salah satunya Post traumatic stress disorder atau PTSD. Seseorang yang mengalami PTSD memiliki rasa ketakutan atau kecemasan berlebihan akan peristiwa traumatis yang dialami dimasa lalu. Sering sekali generasi Z mengalami traumatis sehingga meningkatkan rasa kecemasan antisipatori. Tak jarang, seseorang yang memiliki gejala PTSD juga terjebak dengan pemikiran atau bayangan akan peristiwa traumatis yang dialaminya sehingga sulit memikirkan hal lain atau fokus terhadap kehidupan saat ini.

  

Kurangnya rasa bersyukur. Sering kali seseorang tidak mensyukuri apa yang telah dimiliki saat ini. Dan masih saja suka iri dengan apa yang dimiliki dengan orang lain. Hal ini tentu sangat tidak sehat terhadap kesehatan mental terutama pada generasi Z. Dengan banyak bersyukur membantu seseorang dapat melihat sisi positif dalam hidup, mengalihkan perhatian dari hal-hal negatif, dan menghargai apa yang dimiliki saat ini.

  

Kesehatan mental sangat rentan dialami oleh generasi Z karena usia mereka sangat mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi sekitar. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menimbulkan pola pikir negatif yang dapat merusak kesehatan mental generasi Z. Oleh karena itu upaya untuk menanamkan pola pikir yang sehat yakni dengan lebih mencintai diri sendiri karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.