Monday, July 27 2026

Category: Daras Tafsir

Makkah    ‘Ubaid b. ‘Umair, yakni ‘Ubaid b. ‘Umair b. Qatadah, Abu ‘Ashim al-Laytsi al-Makki al-Qashsh. Beliau dilahirkan pada masa Rasulullah SAW, tetapi termasuk golongan tabi‘in. Di antara sahabat yang menjadi rujukan beliau dalam hadis ialah ayahnya sendiri (‘Umair b. Qatadah), ‘Umar b. al-Khaththab, ‘Ali, Abi Dzar, ‘Aisyah, Abu Musa al-Asy‘ari, Ibn ‘Abbas dan lain-lain.

Pada pembahasan yang lalu, telah diuraikan seputar nama-nama sahabat Nabi SAW yang tergolong al-Qurra’. Telah dijelaskan pula bahwa dari sekian nama itu, ada tujuh sahabat yang populer dikenal sebagai para pengajar Al-Qur’an, yakni ‘Utsman b. ‘Affan, ‘Ali b. Abi Thalib, Ubay b. Ka‘ab, Zaid b. Tsabit, Ibn Mas‘ud, Abu al-Darda’ dan Abu Musa al-Asy‘ari. Nah

Abu ‘Ubaid dalam karyanya yang berjudul Kitab al-Qira’at menyebut sahabat-sahabat Nabi SAW yang tergolong al-Qurra’. Dari kalangan Muhajirin, beliau menyebut 15 nama, yakni Abu Bakar al-Shiddiq, ‘Umar b. al-Khaththab, ‘Utsman b. ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Sa‘d, Ibn Mas‘ud, Hudzaifah, Salim, Abu Hurairah, ‘Abd Allah b. al-Sa’ib, al-‘Ubadalah, ‘Aisyah, Hafshah dan Ummu Salamah. Sementara

Pembahasan tema ini bermula dari dua titik tolak, yakni sabda Nabi SAW dan pernyataan Sahabat beliau, Anas b. Malik, tentang para Sahabat yang hafal Al-Qur’an di masa Nabi dan mempunyai otoritas untuk mengajarkannya kepada Sahabat lain dan atau generasi kemudian. Oleh karenanya, agar sistematis, pembahasan ini akan diarahkan pada dua titik tolak tersebut. Tetapi sebelum

Banyak Ayat, Satu Sebab    Selain persoalan “satu ayat-banyak sebab” yang telah kita bahas pada kesempatan yang lalu, para ulama juga membahas persoalan sebaliknya. Yakni adanya satu sebab yang melatarbelakangi turunnya beberapa ayat. Contoh yang sering dikemukakan oleh para ulama terkait hal ini ialah “pengaduan” Ummu Salamah kepada Nabi SAW.    Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan

Satu Ayat, Banyak Sebab    Bagaimana bila dalam satu ayat, kita temukan beberapa riwayat Asbāb al-NuzÅ«l yang berbeda-beda? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada persoalan redaksi riwayat Asbab al-Nuzul terlebih dahulu. Secara umum, redaksi riwayat Asbab al-Nuzul terbagi menjadi dua, yakni sharih (jelas) dan muhtamal (fifty-fifty). Yang dimaksud dengan á¹£arīḥ ialah sang perawi—dalam hal ini

Bagaimana\nbila dalam satu ayat, kita temukan beberapa riwayat Asbāb al-Nuzūl yang\nberbeda-beda? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada persoalan redaksi\nriwayat Asbāb\nal-Nuzūl terlebih dahulu. Secara umum, redaksi riwayat Asbāb al-Nuzūl terbagi menjadi\ndua, yakni ṣarīḥ (jelas) dan muḥtamal (fifty-fifty).\nYang dimaksud dengan ṣarīḥ ialah sang perawi—dalam hal ini Sahabat atau Tābi‘īn—mengungkapkan\ninformasinya dengan redaksi yang gamblang, yang mengindikasikan bahwa ia\nbenar-benar

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk Abuya al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki, al-Fatihah.    Pembukaan    Gambaran umum terkait Sabab al-Nuzul—bentuk pluralnya Asbab al-Nuzul, dan ini yang kita gunakan pada kesempatan kali ini, mengikuti

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk Abuya al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki, al-Fatihah.    Pendahuluan    Pada kesempatan yang lalu, kita telah membahas urgensi Sabab al-Nuzul dalam memahami pesan yang terkandung dalam sebuah ayat.

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah kepada penulis Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk Abuya al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki, al-Fatihah.    Pendahuluan    Sebelum memasuki pembahasan lebih jauh, terlebih dahulu patut dipahami bahwa turunnya Al-Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama, yang

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah, kita hadiahkan kepada penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki, al-Fatihah.    Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat al-Qur’an yang terakhir kali turun kepada Nabi SAW. Abuya menjelaskan bahwa ada 4

Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah kepada penulis kitab Zubdat al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk Abuya al-Sayyid Muhammad b. ‘Alwi al-Maliki, al-Fatihah.    Pada kesempatan ini, kita akan membahas seputar ayat/surah yang pertama kali turun dalam beberapa konteks yang berbeda. Selain dapat digunakan

1 3 4 5 6 7