Cerita di Balik Gapura dan Joglo Pejaton di Kawasan Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi
Bumi Wali itulah sebutan untuk kota Tuban, saat berkunjung ke Tuban maka akan ditemukan hampir setiap kecamatan terdapat makam para wali atau sesepuh agama. Pada zaman dahulu para wali berjuang menyebarkan agama Islam di Tuban. Selain Sunan Bonang yang kerap banyak dikenal, salah satunya makam wali yang ada di Tuban adalah Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi di Gesikharjo, Palang, Tuban yang juga banyak dikenal.
Tampak di area makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi, ayah dari Sunan Ampel ini, berdiri sebuah pondok pesantren. Adapun pondok pesantren itu konon milik Kiai Thoyyib Sumengko atau yang kerap disapa Abah Toyib.
Enam Pedoman Hidup
Berdasarkan cerita warga setempat, Abah Toyib dikenal sebagai Kiai yang begitu kuat menanamkan nilai-nilai penting yang dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, yaitu ‘Sabar, Neriman (menerima apa adanya), Ngalah (mengalah), Loman (dermawan), Akas (giat), Temen (sungguh-sungguh)’.
Lantas kemudian enam pedoman hidup tersebut kini terukir jelas di depan gapura besar bernuansa klasik sebelum masuk ke Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi. Sebuah makam yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai kota. Seperti halnya disampaikan oleh salah seorang warga setempat yang tak ingin disebutkan namanya dan yang telah menetap selama 34 tahun bercerita bahwa enam kata yang terukir di kedua sisi gapura, yaitu samping kanan dan samping kiri merupakan pedoman hidup yang dari Abah Toyib.
“Enam kata itu dari Abah Toyib pendiri pondok pesantren ini. Beliau adalah pendatang. Aslinya dari Pasuruan. Lalu, enam kata itu sampai sekarang dipedomani masyarakat sini,” ucap ibu paruh baya tersebut.
Joglo Pejaton adalah Tempat Berkumpul Para Wali
Sementara, di samping gapura besar klasik yang berdiri kokoh dengan susunan batu bata yang tertata hingga membentuk corak bangunan gapura khas Jawa. Bahkan, semakin terbukti dengan adanya tambahan lampu kuno lengkap dengan ganggang yang berbentuk melingkar dan penutup lampu yang berbentuk cembung di kedua sisi gapura. Selain itu, terdapat juga sebuah bangunan yang tak kalah klasik dan juga khas Jawa yakni Joglo Pejaton Asmoro Qondi.
Bangunan Joglo Pejaton Asmoro Qondi ini tampak indah nan memukau bagi yang melihat bangunan tersebut untuk pertama kali. Sebab, Joglo Pejaton Asmoro Qondi dibangun dengan bentuk bangunan yang super klasik dan khas Jawa yang diperindah dengan sentuhan ornamen sulur tanaman di setiap penyangga bangunan Joglo Pejaton Asmoro Qondi dan yang dilengkapi dengan lampu gantung unik yang terdiri dari banyak lampu-lampu kecil. Sementara, warna dari bangunan Joglo Pejaton sama persis dengan gapura masuk ke makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi.
Berdasarkan hasil wawancara, konon bangunan Joglo Pejaton yang mirip pendopo itu awal mulanya adalah sebuah musholla yang posisinya berada di dekat pondok pesantren Abah Toyib. Sedang, warga setempat menyampaikan bahwa dahulu di Joglo Pejaton adalah tempat para wali berkumpul. Namun, sebelumnya tempat tersebut adalah musholla. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh wanita paruh baya yang tak ingin disebutkan namanya bercerita bahwa sebelum menjadi bangunan Joglo Pejaton, awal mulanya adalah sebuah musholla.
“Iya awal mula sebuah musholla. Musholla dulunya di area tempat parkir kendaraan di Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi. Soalnya peziarah semakin banyak. Terus musholla beserta gapura dipindah lokasinya sehingga menjadi seperti yang baru sekarang yaitu Joglo Pejaton dan gapura yang seperti ini. Disini dulu tempat para wali berkumpul. Tapi, sekarang tempat ini menjadi tempat peristirahatan peziarah,” jelasnya saat ditemui sedang menyapu di sekitar halaman Joglo Pejaton.
Namun, setelah diminta keterangan terkait nama-nama para wali yang berkumpul di Joglo Pejaton, ibu paruh baya tersebut tidak mengetahuinya secara jelas sebab dirinya tak mengetahui banyak terkait informasi Joglo Pejaton. Demikian tepat di depan Joglo Pejaton terdapat sumur yang demikian bercorak klasik dan warna yang sama dengan gapura dan Joglo Pejaton disampaikan sebagai peninggalan Syaikh Ibrahim Asmaraqandi yang hingga kini masih terdapat air di sumur tersebut. (Nin)
You may also like

Kenapa Makanan Kampung Harus Viral Dulu untuk Dihargai?

Kimpul Viral dan Ironi Negeri yang Lupa Kekayaan Pangannya

Dulu Kita Mengangsu Air, Kini Air Harus Dibeli

