Dari Kampus Untuk Bangsa: UIN Sunan Kudus
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 35 ayat 1 dan UU No. 12 Tahun 2012 pasal 35 ayat 1, bahwa perguruan tinggi di Indonesia mengemban tiga kewajiban penting pendidikan/ pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Pernyataan ini saya sampaikan pada acara “Meeting Professor” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Kudus. Saya diundang oleh Prof. Abdurrahman Kasdi, Rektor UIN Sunan Kudus, untuk memberikan taushiyah akademis kepada para mahasiswa baru Magister dan Doktor. Hadir Direktur PPs, Prof. Ihsan, Asdir, Prof. Abu Khoir, dan para Ketua Prodi PPs UIN Sunan Kudus. 14/09/2026. Saya sampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, Pendidikan/pengajaran yaitu proses transformasi ilmu pengetahuan yang dilakukan berbasis pada etika akademik untuk menghasilkan produk pendidikan yang kompetitif, cerdas dan berakhlak mulia. Penelitian yaitu proses untuk menemukan kebenaran ilmiah berbasis pada prinsip empiris sensual (epistemologi Tajribi), empiris rasional (epistemologi burhani), empiris etis (epistemologi bayani) dan empiris transendental (epistemologi irfani). Pengabdian masyarakat yaitu proses untuk mengamalkan produk pengetahuan dan riset untuk menghasilkan masyarakat yang berdaya dalam aspek-aspek kehidupan.
Tri Darma PT merupakan satu kesatuan sistem. Tidak bisa dipisahkan. Pendidikan/pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat merupakan rangkaian kegiatan yang sistemik. Pengajaran menghasilkan program riset dan riset menghasilkan program pengabdian. Pengabdian akan menjadi basis program pengajaran dan akan berlanjut pada penelitian. Penelitian akan menjadi basis bagi program pengabdian dan akan berlanjut pada program pengajaran. Terus berputar seperti itu.
Sesungguhnya diperlukan kerja sama untuk mengembangkan ekosistem tri darma PT. PTKIN dapat melakukan pengembangan kerja sama dengan ABCD atau Akademisi (kampus/professor/doktor atau dosen) dengan birokrasi (pemerintah dan lembaga riset nasional atau daerah) dengan Community (kamunitas NGO dan lembaga-lembaga profesi, keagamaan, ekonomi, sosial, politik dan budaya) dan Dunia Usaha Dunia Industri. Temukan kesamaan isu dalam tantangan dan peluang yang dapat dikerjasamakan. Dengan pemerintah, lembaga riset, NGO, DUDI, lembaga keagamaan dan sebagainya.
Sekedar contoh tentang radikalisme di Indonesia, bisa bekerja sama institusional dengan Pemerintah daerah, Densus 88, BNPT, NGO dan Dunia usaha. Sekedar contoh mengembangkan moderasi beragama, bisa bekerja sama dengan organisasi keagamaan, politik, ekonomi dan BNPT, Densus 88, pemerintah yang fokus pada isu beragama yang moderat.
Kedua, ada beberapa isu tentang Indonesia. Isu kontestasi otoritas keagamaan: sebagai kelompok mayoritas Ahlu Sunnah wal Jamaah (bukan hanya NU), kebanyakan mengabaikan isu kecil karena dianggap tidak signifikan. Dalam algoritma otoritas keagamaan, media sosial sudah dikuasai oleh kaum Ahlu Sunnah. Periksa viewer dan followernya. Cek komunitas-komunitasnya, misalnya komunitas Hijrah di kota-kota besar. Para dosen/professor atau doktor di dalam Institusi PTKIN harus melibatkan diri di dalam percaturan media sosial. Harus speak up. Diam bukan emas.
Kemudian, isu ekonomi syariah dapat menjadi tantangan yang realistis di tengah issue keagamaan, sosial dan ekonomi. Jumlah umat Islam semakin meningkat. Ada potensi tentang pengembangan Islamic Studies melalui penambahan populasi Muslim dunia sebesar 347 juta pada 2010–2020, terbesar di antara semua kelompok agama dalam proporsi Muslim dunia pada 2020.
Menurut Pew Research Center, jumlah Muslim diproyeksikan mendekati 2,8 miliar atau 30% populasi global pada 2050. Pertumbuhan populasi Muslim membuat isu pendidikan Islam, seperti hukum keluarga, ekonomi syariah, minoritas Muslim, dan dialog antaragama semakin relevan—tidak hanya bagi kampus keagamaan, tetapi juga pembuatan kebijakan, lembaga internasional, dan industri halal. Kerja sama PTKIN dengan BPJPH, BRIN, DUDI, pemerintah daerah dan NGO teramat penting.
Tidak kalah penting adalah Issue sosial, politik dan agama yang menjadi isu yang menarik. Ketiganya saling berkait kelindan. Fenomena jihad, radikalisme, ekstrimisme dan agama merupakan issue yng akan tetap menarik untuk dikedepankan. Isu pendidikan berkelanjutan juga terkait dengan dimensi politik (kebijakan publik), sosial (pemerataan dan isu kualitas yang merata dan peluang berpendidikan) serta bagaimana peran agama di dalam mendorong kualitas pendidikan juga sangat mendasar.
Kualitas PTKIN berkelanjutan masih perlu ditingkatkan terkait dengan pemeringkatan internasional. Isu demokrasi berkelanjutan yang semakin kehilangan orientasi terkait dengan masa depan bangsa. Perlu kerja sama antara PTKIN dengan DPR/MPR, partai politik, LSM, Lembaga keagamaan sosial, ekonomi dan politik dan BRIN dan DUDI. Riset ini diarahkan agar bangsa Indonesia ke depan dapat menuju pada arah yang benar dalam banyak aspek kehidupan.
Termasuk isu mendasar tentang lingkungan. Alam lingkungan kita hidup bukan warisan untuk generasi mendatang tetapi pinjaman dari generasi mendatang untuk kita. Hutang harus dikembalikan sebagaimana adanya. Lingkungan yang utuh dan bermanfaat untuk generasi yang akan datang. Terjadi kerusakan lingkungan hidup yang dahsyat di Indonesia, Sumatera, Kalimantan dan Papua. Masyarakat Indonesia belum saleh lingkungan. Sudah saleh ritual dan sosial. Tapi lemah kesalehan lingkungannya. Diperlukan upaya riset dan aksi untuk kelesterian lingkungan dalam ekoteologi berkelanjutan. Mengembangkan pendidikan berbasis ekoteologi berkelanjutan.
Isu identitas kebangsaan juga penting. Identitas dan kebangsaan adalah imajinasi yang dikonstruksi oleh negara. Batas identitas menjadi sangat tipis dalam berhadapan dengan issu-issu global. Issu yang mengedepan terkait agama, identitas dan kebangsaan adalah tentang identitas keagamaan yang dominan, menihilkan lainnya. Issue kesukuan dan golongan sosial yang ekstrim, sehingga yang lain dianggap sebagai lawan, sang liyan, the otherness.
Termasuk juga budaya global versus lokal. Generasi Z sangat mengapresiasi budaya luar dibanding budaya sendiri. K. Pop, Dracin, drakor, dan sebagainya. Issue politik identitas, agama dan kebangsaan. Agama dijadikan sebagai identitas politik masyarakat. Issu genzi yang rendah wawasan kebangsaannya, lemah nasionalisme dan sense of belonging ideologi kebangsaan.
Di dalam kerangka untuk mengembangkan PTKIN, maka penting untuk mengembangkan Pusat pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat untuk moderasi beragama. Pusat pendidikan, riset jaringan sosial dan pengabdian berbasis isu-isu lokal dan global. Pusat pendidikan dan riset dan pengembangan masyarakat berbasis sosial politik dan agama. Pusat pendidikan, riset dan Pengabdian untuk memperkuat identitas sosial dan kebangsaan. Pusat pendidikan, riset dan Pengabdian untuk keselarasan budaya global dan lokal. Pusat pendidikan, riset dan Pengabdian untuk ekotelogi berkelanjutan. Pusat pendidikan, riset dan Pengabdian untuk ekonomi syariah dan produk halal. Pusat pendidikan dan riset dan pengabdian masyarakat untuk demokrasi, hukum dan HAM. Pusat pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat untuk gender, identitas dan kemandirian. Pusat Bahasa dan Budaya Lokal dan Kawasan. Pusat Sertifikasi Nasional dan Global atau Student Career. Rumah riset dan pengabdian berbasis kebangsaan.
Ketiga, mahasiswa adalah agen perubahan. Mereka harus menjadi agen perubahan sosial berbasis kebangsaan. Agen moderasi beragama berbasis kebangsaan. Agen pengembangan ekoteologi berkelanjutan. Agen pemikiran, ide dan gagasan tentang kelestarian dan pengembangan wawasan kebangsaan. Agen pengembangan gagasan dan aksi dalam gerakan kampus untuk bangsa. Agen-agen pengembangan ekonomi, sosial dan politik berbasis kebangsaan. Agen-agen penyebaran Islam rahmatan lil alamin untuk keagamaan, keindonesiaan dan kemoderenan.
Oleh karena itu, Civitas Akademika hakikatnya adalah agen penggerak wawasan kebangsaan. Civitas akademika hakikatnya adalah manusia terdidik untuk speak up tentang wawasan kebangsaan. Civitas akademika merupakan orang yang paling sadar tentang kejujuran, kemaslahatan dan kebermaknaan bangsa untuk kemajuan berkelanjutan. Civitas akademika merupakan garda depan bagi Keindonesaan, Keislaman Dan Kemoderenan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

Profesionalitas dan Integritas Pembimbing Haji

Transformasi Nilai Keislaman Dalam Pendidikan Islam

NU, PTNU dan Tantangan Global (2)

