In Memoriam Prof. HM. Ridlwan Nasir: Tokoh Penyeimbang Dinamika Harmoni Sosial (Bagian Ketiga)
Pada hari ketujuh acara tahlilan dan yasinan dalam kerangka mengenang Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA., 21/01/2025, maka saya hadir pada acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Perkotaan Alif Lam Mim Kebonsari Surabaya. Prof. Ridlwan dimakamkan di Pendok Pesantren Alim Lam Mim yang didirikan oleh Alm. Prof. Dr. KH. Imam Mawardi, MA. Bahkan dimakamkan berdampingan.
Dua orang saleh yang dimakamkan di Pondok Pesantren, yang setiap hari dilantunkan bacaan Al-Qur’an dan program pembelajaran ilmu umum dan keislaman. Luar biasa. Tempat pemakaman itu menjadi sejarah atas kewibawaan religious yang diperlihatkan oleh Allah SWT untuk kita semua. Sungguh gambaran tentang kemuliaan yang dipertontonkan oleh Allah SWT yang Maha Kuasa untuk para santri, wali santri dan juga umat Islam lainnya.
Hadir pada acara tahlilan ini sebanyak 68 orang dari berbagai daerah. Ada yang dari UINSA, UIN Maliki Malang, UIN KHAS Jember, UIN STS Jambi, UNISMA dan para pejabat dan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain tentu para santri yang mondok di Pesantren Perkotaan Alif Lam Mim Surabaya. Hadir Bu Nyai Ika Rahmah Susiani Imam Mawardi, Dr. Ahmad Syarif Saputra (menantu Bu Nyai), dan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren. Acara dipandu oleh Ustz. Sirajul Munir dan pembacaan tahlil dan Yasin dipandu oleh Ustaz Ainun Naim.
Saya diminta oleh Cak Dr. A. Syarif Saputra untuk menyampaikan sekedar testimoni dan ucapan bela sungkawa atas wafatnya Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA. Saya sampaikan tiga hal mendasar dalam kaitannya dengan kesaksian saya terhadap almarhum Prof. Ridlwan. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu:
Pertama, selama sepekan ini kita semua melakukan acara doa, tahlilan dan yasinan dalam rangka untuk mendoakan kepergian Prof. HM. Ridlwan Nasir menuju alam baka. Kita semua yang hadir penuh dengan kekhusyuan untuk melantunkan kalimat-kalimat thayibah untuk mengiringi roh Prof. Ridlwan menuju alam barzakh. Banyak orang yang mendoakan, banyak orang yang menyaksikan tentang posisi Prof. Ridlwan sebagai hamba Allah SWT yang patuh dan taat kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW.
Dengan kepergiannya menuju alam Barzakh, maka kita melantunkan kalimat sebagaimana diajarkan di dalam Islam, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. “Sesungguhnya semua datang dari Allah dan semua akan kembali kepada-Nyaâ€. Prof. Ridlwan sudah mendahului kita dan kita semua yakin bahwa kita juga akan menyusulnya. Cuma kapan rentang waktunya yang kita tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui kapan kita akan kembali ke hadirat-Nya. Tetapi kita tentu harus tetap berdoa: “Allahumma thawwil umurana wa shahih ajsadana wa nawwir qulubana wa tsabbit imananaâ€. “Ya Allah panjangkan usia kami, sehatkan badan kami, cahayailah hidup kami dan tetapkan hati kami dalam keimananâ€. Jika kita diberi usia panjang berarti kita masih diberi peluang untuk beribadah, dan berbuat kebaikan.
Kedua, saya adalah salah satu di antara orang yang banyak bergaul dengan Prof. Ridlwan. Semenjak membersamai Beliau dalam pendampingan di LPM IAIN Sunan Ampel, lalu membersamai pada waktu di Kopertais Wilayah IV dan juga sewaktu menjadi Pembantunya di Rektorat, sehingga saya mengetahui banyak hal tentang Beliau. Apa yang sempat saya tulis hanyalah percikan-percikan hidup bersama Beliau.
Hal yang saya tahu bahwa Beliau adalah orang yang mampu menjadi perekat dan penyeimbang dalam dinamika harmoni social di tengah berbagai kepentingan yang ada di dalam lingkup institusi maupun di luarnya. Beliau yang menjadi sesepuh bagi kita semua. Jika ada masalah-masalah di dalam dinamika relasi social di tengah-tengah kita, maka beliaulah yang mempertemukannya. Beliau yang memberi solusi dalam merekatkan dan menyeimbangkan relasi social tersebut. Jika ada di antara kita perbedaan, kontestasi dan menghasilkan ketidaksepahaman, maka Prof. Ridlwanlah yang menjadi personal yang menyelesaikannya. Beliau bisa menempatkan diri dalam rentang masalah yang membelengu relasi social di antara kita.
Ketiga, Prof. Ridlwan adalah tokoh historis yang dilahirkan oleh NU, Pesantren, UIN, dan PMII. Beliau besar dengan organisasi dan institusi yang membesarkannya dan kemudian mengabdikan dirinya dalam kancah kehidupan berbagai institusi dimaksud. NU, Pesantren, UINSA dan PMII tentu berbangga dengan kehadiran Prof. Ridlwan di tengah-tengah organisasi dan institusi dimaksud. Beliau belajar, hadir dan bermanfaat bagi semua institusi tersebut.
Prof. Ridlwan adalah pengabdi sejati. Sampai akhir hayatnya, Beliau terus mengabdikan diri dan ilmunya dalam berbagai insitusi social. Dia aktif di Masjid Al Akbar, NU, Pesantren Tebuireng dan Pesantren Perkotaan Alif Lam Mim, di Yayasan Khadijah, di Bank Jatim Syariah dan sebagainya. Hal ini mengindikasikan bahwa Beliau dapat dikategorikan sebagai pribadi yang melayani umat. Hidup baginya bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk pengabdian.
Selamat menuju alam Barzakh Prof. Ridlwan. Kami semua mengenang panjenengan. Kami semua menyaksikan kebaikan demi kebaikan panjenengan, kami semua menjadi penerus panjenengan. Insyaallah kelak akan hadir orang yang seperti panjenengan. Meskipun tidak persis sama dengan panjenengan.
Pekan ini di langit bertebaran bacaan kalimat Tauhid, kalimat Tahlil dan bacaan al-Qur’an yang semuanya ditujukan kepada roh panjenengan. Lahu al fatihah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

Tujuh Belasan: Sudah 81 Tahun Merdeka

Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi

