Pusat Pendidikan Islam: Pesantren Nasy’atul Mutallimin Sumenep
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Sumenep, saya merasa sangat berbahagia sebab bisa bertemu dengan para Kiai dan juga alumni Pondok Pesantren ini. 30/06/2026. Acara ini memang didesain sebagai acara untuk mendatangkan para alumni dalam kaitannya dengan upaya pesantren untuk mengikat jaringan pesantren, alumni dan masyarakat.
Saya bersyukur bisa bertemu dengan para Kiai dan pimpinan pondok pesantren, para ustadz dan juga santri-santri yang masih aktif di pondok. Hadir di dalam acara tersebut adalah Kiai Muhammad Daldiri, Kiai Roji Fawaid, Kiai Kamali Irsyad, Kiai Syahid, Dr. Syaiful A’la, Dr. Amiruddin, Cand. Doktor Anas Musthofa, sejumlah guru, pengurus dan juga alumni pondok, yang jumlahnya tidak kurang dari 300 orang. Ruang aula pertemuan penuh dan juga di luar ruangan. Kiai Daldiri selaku pimpinan pesantren juga memberikan nasehatnya kepada para alumni dan hadirin lainnya.
Di dalam kesempatan ini, saya sampaikan tiga hal mendasar dalam kaitannya dengan peran pesantren sebagai pusat pendidikan Islam, yaitu:
Pertama, kita perlu mengedepankan rasa syukur kepada Allah diciptakan sebagai bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang aman dan damai, tenang dan rukun. Coba kita bayangkan andaikan kita lahir di Palestina, maka hidup kita sehari-hari hanya mendengarkan bom, senapan menyalak dan kekerasan sosial bahkan pembunuhan. Tetapi kita hidup di Indonesia yang mau apa saja dalam keadaan aman. Mau shalat, mau mengaji, mau sekolah, mau ikut pengajian, mau rekreasi dan sebagainya, semua dalam keadaan yang nyaman. Dan yang penting kita juga sehat. Sehat adalah segala-galanya. Mungkin saja karena doa kita kepada Allah untuk memberi sedekah kepada badan kita. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda: “setiap pagi ruas-ruas tulang kita membutuhkan sedekah. Dan sedekahnya adalah dengan kata tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar). “Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar”. Mari kita perbanyak bacaan kalimat istimewa ini, semoga kita semua menjadi semakin sehat.
Kedua, kita harus bersyukur karena kehadiran pesantren di Indonesia. Bagi kita semua, pesantren adalah lembaga pendidikan yang menghadirkan Islam murni. Islam yang dihadirkan oleh para ulama masa lalu, ulama salafus shaleh. Peninggalan para ulama yang berupa teks turats adalah kitab yang orisinil. Kitab sebagaimana yang ditulis oleh para ulama. Tidak ditambah atau dikurangi. Dikaji dan diajarkan secara apa adanya. Jika kita mau belajar tentang kitab Riyadhus Shalihin karya Syekh Imam Nawawi, maka kita akan belajar di pesantren. Kitab yang dikaji apa adanya. Bukan kitab terjemahan yang bisa dikurangi dan disesuaikan dengan madzhabnya. Ada banyak kitab yang diterjemahkan di dalam Bahasa Indonesia tetapi sudah disesuaikan dengan paham keagaman tertentu. Jadi tidak lagi orisinil. Oleh karena itu tidak salah jika kita semua harus belajar Islam di Pesantren. Kita harus mengkaji Islam dari sumber yang otentik. Ajaran Islam yang diajarkan dan ditransformasikan oleh para ulama atau Kiai yang memang memiliki pengetahuan yang sesuai dengan keyakinan kita tentang agama. Tidak kurang tidak lebih.
Kitab tafsir, kitab hadits, kitab tasawuf, kitab fiqih dan ushul fiqih diajarkan sesuai dengan kitab aslinya. Jika perlu untuk dikaji, maka isi kitab tersebut disesuaikan dengan situasi zamannya. Tetapi bukan membuang yang tidak sesuai dengan madzabnya. Bagi kita, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas Indonesia. Ditumbuhkembangkan oleh Pangeran Diponegoro, lalu dikembangkan oleh Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari dan terus dipelihara dan dikembangkan oleh Kiai pada tahap berikutnya, sehingga kita bisa menikmati pendidikan pesantren yang Islam orisinal tersebut. Pesantren telah berkembang sedemikian rupa. Ada pesantren khas mengkaji teks turats dalam berbagai varian ilmunya, ada pesantren yang mengembangkan enterprener dan mengkaji Ilmu keislaman dan ada pesantren yang bergerak di dalam kajian sains dan teknologi dan juga ada pesantren yang mengembangkan teknologi dan informasi. Semua bergerak di dalam menyongsong perubahan sosial yang adaptif.
Ketiga, kita bersyukur sebab era Pak Jokowi hadir bagi santri tentang Hari Santri Nasional (HSN) yang selalu diperingati pada tanggal 22 Oktober. Merupakan momentum untuk mengingat dan menghargai perjuangan para Ulama, khususnya Resolusi Jihad bagi perjuangan bangsa Indonesia. Resolusi Jihad merupakan momentum keterlibatan pada Santri dalam membela negara dan bangsa. Resolusi jihad menghadirkan Perang Soerabaya, tanggal 10 Nopember 1945. Peperangan ini menghardirkan keputusan untuk menjadikan tangga 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan. Doa dalam perang ini, seruan dan pekik Allahu Akbar dikumandangkan dan berhasil dengan kesuksesan. Bisa dibayangkan senjata Bambu Runcing melawan senjata otomatis. Dan bangsa Indonesia berhasil.
Juga lahirnya UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Melalui Undang-Undang ini, maka kemudian dapat dihadirkan Direktorat Jenderal Pesantren, yang sudah memasuki tahap diskusi tentang organisasi dan tata kelolanya. Melalui Undang-Undang ini kita berharap agar pemerintah semakin kuat dalam pemihakannya di dunia pesantren. Ada rekognisi, fasilitasi dan afirmasi tentang pesantren.
Dari dimensi rekognisi, maka sudah sangat jelas pengakuan negara terhadap pesantren. Jika selama itu, belum ada pengakuan resmi negara terhadap pesantren, maka melalui Undang-Undang ini, maka kepastian tentang pengakuan pesantren didapatkan. Tidak hanya lembaganya, akan tetapi juga atas produk pesantren. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan adalah terkait dengan fasilitasi, sebab ini menyangkut penganggaran dan dana yang tersedia. Tetapi yang jelas, bahwa dengan Undang-Undang ini, maka akan memungkinkan hadirnya anggaran dari pusat melalui Ditjen Pesantren dan juga anggaran dari pemerintah daerah.
Kita semua berharap bahwa melalui skema yang diharapkan tentang pemihakan atas pesantren, maka program fasilitasi dan afirmasi akan dapat dilakukan. Berbasis pada kehadiran negara dalam dunia pesantren yang lebih kongkrit, maka pesantren akan dapat menjadi institusi yang leading dalam aktualisai Islam rahmatan lil alamin. Islam yang bersearah dengan Islam ahli Sunnah wal Jamaah. Islam yang menghadirkan umatnya yang berprinsip pada moderasi beragama.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

Tujuh Belasan: Sudah 81 Tahun Merdeka

Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi

