Menulis Disertasi Studi Islam Integratif: Program Doktor UIN Mataram

Ada sebuah keyakinan di kalangan pimpinan, dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Doktor, yang harus menghayati sejarah pengembangan studi Islam di masa lalu. Di antara yang perlu dicermati adalah adanya “kemenyatuan” dalam rumpun, bidang dan disiplin ilmu. Oleh karena itu, kemenyatuan studi Islam, atau sekarang disebut sebagai program integrasi ilmu sudah menjadi realitas historis di masa lalu, dan kini diupayakan kembali untuk menyatukannya.
Pernyataan ini saya sampaikan di UIN Mataram, pada mahasiswa Program Doktor Islamic Studies pada hari Jum’at, 12/06/2026 di Pendopo Wakil Wali Kota Mataram. Meeting ini menjadi istimewa sebab diselenggarakan di Rumah Jabatan Wawali Mataram, Tuan Guru Mujiburrahman, dengan pelayanan prima oleh staf layaknya seperti tamu agung. Acara sehari yang menarik sebab membincang tema-tema integrasi ilmu secara tuntas.
Mahasiswa Program Master dan Doktor harus melakukan penelitian tesis atau disertasi dengan menggunakan integrasi ilmu. Mahasiswa program magister dan program doktor harus menulis tesis atau disertasi dalam konteks integrasi ilmu. Integrasi ilmu menjadi kewajiban sesuai dengan KKNI, Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Integrasi ilmu menjadi kewajiban sesuai dengan SE Dirjen Pendidikan Islam, Nomor 2498 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Integrasi Ilmu di PTKIN. Dengan integrasi ilmu, maka ilmu keislaman akan maju lebih pesat.
Namun demikian, untuk mengintegrasikan ilmu haruslah memahami tentang rumpun, bidang dan disiplin ilmu. Ada dua madzhab dalam rumpun ilmu. Menurut Madzhab UNESCO yaitu ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora. Sedangkan rumpun ilmu dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yaitu ilmu agama, ilmu Humaniora, Ilmu Sosial, sains dan teknologi, ilmu terapan dan ilmu formal. Adapun bidang ilmu dalam rumpun ilmu agama, yaitu: Bidang ilmu Al-Qur’an, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Fikih, ilmu tasawuf, ilmu dakwah, ilmu tarbiyah, ilmu bahasa arab, ilmu sastra Arab, ilmu akhlak, dan lain-lain. Rumpun ilmu humaniora dengan bidang Ilmu sejarah, filsafat, bahasa, sastra, seni dan lain-lain. Rumpun Ilmu sosial dengan bidang Ilmu sosiologi, ilmu antropologi, ilmu hukum, ilmu politik, ilmu komunikasi, dan lain-lain. Sains dan Teknologi, dengan bidang Arsitektur, Ilmu kesehatan, ilmu kedokteran, ilmu matematika, fisika, geologi dan lain-lain.
Marilah kita berfokus pada studi Islam, sebagai bidang dan disiplin dari rumpun Ilmu Agama. Mengenai bidang dan disiplin dalam rumpun ilmu agama yaitu: Ilmu Al-Qur’an (misalnya: ilmu qiraat, Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu Tajwid). Ilmu tafsir (misalnya tafsir bir ra’yi, tafsir bil ma’tsur, tafsir ilmi). Ilmu Hadits (ilmu Hadits dirayah dan Ilmu Hadits Riwayah). Ilmu Fiqih (fiqih ibadah, fiqih munakahat, fiqih muamalah, fiqih tata negara, fiqih muqarin). Ilmu Tasawuf (misalnya tasawuf amali, tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi). Ilmu Akhlak (akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah). Ilmu sejarah Islam (klasik, pertengahan dan modern). Ilmu filsafat Islam (aliran peripatetik/al masyaiyah, iluminasi/isyraqiyah, teosofi transendental /hikmah mutaliyah/ dan teologi filosofis). Ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf, maani, badi’). Ilmu sastra Arab (sejarah sastra, teori sastra dan kritik sastra). Ilmu Dakwah (bil hal, bil kalam, bil lisan). Ilmu Tarbiyah (kognisi, behavioral dan konstruksi pendidikan). Ilmu Kalam (jabariyah, qadariyah, mu’tazilah, ahli sunnah wal jamaah, khawarij). Ilmu Falaq (ilmu falaq ilmi dan ilmu falaq amali, trigonometri, astronomi )
Di dalam mengkaji ilmu Keislaman, maka ada tiga fenomena (teks atau konteks) yang dikaji di dalam PTKIN: studi Islam murni, studi Islam terapan dan studi Islam integratif. Studi Islam murni sebagaimana teks dan konteks yang merupakan bidang-bidang dalam Studi Islam. Misalnya fenomena ilmu tafsir, ilmu hadits, baik dalam teks maupun konteks. Teks dalam turats ilmu tafsir maupun the living tafsir Al-Qur’an, ilmu fikih dalam turats dan konteks fikih dan lain-lain.
Studi Islam terapan, sebagaimana ilmu terapan tentang studi Islam, misalnya Bimbingan Konseling Islam, jurnalisme dakwah, Komunikasi digital, pendidikan Islam multikultural, manejemen dakwah, manajemen pendidikan Islam, hukum pidana Islam, hukum tata negara Islam dan sebagainya. Studi Islam Integratif; merupakan disiplin ilmu hasil penggabungan atau integrasi antara satu bidang dengan bidang lainnya dalam coraknya yang interdisipliner, cross disipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Crossdisipliner atau lintas disiplin untuk melengkapi gambaran tentang integrasi ilmu yang hanya tiga coraknya, yaitu interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner.
Di dalam artikel ini, hanya dijelaskan beberapa contoh tentang integrasi ilmu, yang saya konsepsikan sebagai ilmu transcendental. Sosiologi transendental adalah bentuk integrasi antara ilmu agama dan ilmu sosial. Fenomena keberagamaan masyarakat Islam dijadikan sebagai subjek kajian atau subject matter, sedangkan teori sosiologi digunakan sebagai alat analisis. Pendekatan ini membaca perilaku sosial, tradisi, ritual, dan pengalaman keagamaan sebagai realitas empiris yang tetap memiliki dimensi ketuhanan atau transendental
Ilmu komunikasi transendental adalah kajian integratif antara ilmu dakwah/keislaman dan ilmu komunikasi. Fokusnya adalah membaca proses penyampaian pesan keagamaan melalui subjek dakwah, media, metode, pesan, dan dampaknya terhadap masyarakat. Yang menjadi fenomenanya adalah transformasi nilai dan aksi untuk kesejahteraan umat. Komunikasi tidak hanya dipahami sebagai proses transfer informasi, tetapi juga sebagai sarana transformasi nilai, iman, akhlak, dan kesadaran spiritual.
Ilmu hukum transendental adalah kajian integratif antara ilmu hukum dan ilmu keislaman. Hukum tidak hanya dipahami sebagai aturan formal, norma, dan proses penyelesaian masalah, tetapi juga sebagai instrumen untuk menegakkan keadilan, persamaan, kemanusiaan, dan nilai ketuhanan. Dalam pendekatan ini, fenomena hukum dapat dikaji melalui perspektif agama, sosial, humaniora, bahkan sains dan teknologi.
Ilmu filsafat transendental adalah kajian integratif antara filsafat dan ilmu keislaman. Filsafat digunakan untuk menelaah hakikat manusia, realitas, kebenaran, nilai, dan tujuan hidup, sementara agama memberi dasar transendental berupa iman, wahyu, etika, dan kesadaran ketuhanan. Pendekatan ini tidak hanya bertanya tentang “apa yang benar”, tetapi juga untuk apa kebenaran itu digunakan.
Ilmu sastra transendental adalah kajian integratif antara sastra dan ilmu keislaman. Sastra dipahami sebagai karya kreatif yang menggunakan bahasa untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, pengalaman manusia, serta relasinya dengan alam, masyarakat, dan Tuhan. Dalam pendekatan ini, karya sastra tidak hanya dibaca sebagai teks estetis, tetapi juga sebagai ruang hadirnya nilai spiritual, moral, dan makna ketuhanan. Ilmu bahasa transendental adalah kajian integratif antara ilmu bahasa, dan ilmu keislaman. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media pembentuk makna, budaya, pemikiran, nilai, dan ekspresi spiritual manusia. Dalam pendekatan ini, bahasa dibaca sebagai jembatan antara manusia, masyarakat, kebudayaan, dan Tuhan.
Arsitektur transendental adalah kajian integratif antara arsitektur dan ilmu keislaman. Bangunan tidak hanya dipahami sebagai struktur fisik, tetapi juga sebagai ruang yang memuat nilai iman, syariah, akhlak, spiritualitas, fungsi sosial, estetika, keamanan, dan kemaslahatan manusia. Ilmu lingkungan transendental adalah kajian integratif antara ilmu lingkungan dan ilmu agama. Alam tidak hanya dipahami sebagai objek kajian ekologis, tetapi juga sebagai amanah Tuhan yang harus dijaga. Pendekatan ini menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam atau hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam.Ilmu kesehatan transendental adalah kajian integratif antara ilmu kesehatan dan ilmu keislaman. Kesehatan tidak hanya dipahami sebagai persoalan tubuh, penyakit, pengobatan, dan terapi, tetapi juga dikaitkan dengan nilai agama, etika, spiritualitas, dan kemaslahatan manusia. Dalam pendekatan ini, fenomena kesehatan dapat dilihat dari perspektif Islam, dan fenomena keagamaan juga dapat dianalisis melalui perspektif kesehatan
Dengan demikian, Ilmu transendental merupakan pendekatan integratif yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu dengan ilmu keislaman, untuk memahami realitas secara lebih utuh dan bermakna. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek formal atau empiris, tetapi juga pada nilai-nilai, seperti: iman, etika, spiritualitas, dan kemaslahatan manusia sebagai tujuan utama.
Integrasi antara ilmu agama dan ilmu sosial, humaniora, sains, dan teknologi menghasilkan perspektif holistik untuk menjawab tantangan kehidupan modern secara seimbang. Ilmu transendental menjadi landasan penting untuk membangun ilmu pengetahuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara spiritual dan bermanfaat bagi kehidupan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




