Ibu Kota Nusantara untuk Peradaban Bangsa dan Dunia
Pro. Dr. Nur Syam, MSi
Suatu kebanggaan bagi saya secara pribadi karena dilibatkan di dalam acara yang ekselen oleh Forum Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) di Balikpapan, dalam tajuk mencermati terhadap rumpun ilmu dakwah di dalam dinamika perkembangan keilmuan di Kementeri Agama. Diskusi rumpun ilmu agama dengan bidang ilmu dakwah tentu menarik untuk diperbincangkan seirama dengan perkembangan keilmuan pada PTKIN. Sebagai tuan rumah adalah UINSI Samarinda.
Selain acara ini, maka ada satu acara yang sangat mendasar, yaitu mendiskusikan tentang masa depan IKN di dalam mengemban tugas sebagai ibu kota negara, yang dilaksanakan di ruang pertemuan IKN. Hadir Deputi Sosial dan Budaya, Dr. Alimuddin, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital, Dr. Agung Indrajid, dan Dr. Suwito, Direktur Pelayanan Dasar. Selain itu juga hadir para Guru besar, seperti Prof. Abdullah, Prof. Najahan, Prof. Hasan Sadzali, Prof. Rozaki, Prof. A. Syukri, Prof. M. Sulthon, Prof. M. Abzar, Dr. Ida Suryani, dan para Dekan dan Wakil Dekan serta Kaprodi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Jumlah hadirin sebanyak 140 orang lebih. Sebagai narasumber adalah saya, Prof. Gun Gun Haryanto, Dr. Alimuddin, Dr. Agung Indrajit dan Dr. Suwito. Acara diselenggarakan pada 05/06/2026. Saya menyampaikan tiga hal di dalam pertemuan ini, yaitu:
Pertama, visi kita semua adalah “Ibu Kota Nusantara untuk peradaban bangsa dan dunia”. Visi yang sangat penting di Tengah gelegak kehidupan berbangsa dan bernegara di dalam pergaulan dunia global yang terus berkembang secara dinamis. Kita harus memiliki mimpi untuk menjadikan IKN sebagai pusat peradaban bangsa dan dunia. Kita harus dapat menjadi pusat peradaban yang berbasis pada nilai-nilai moralitas, nilai-nilai peradaban adiluhung di dalam bingkai Pancasila dan NKRI. Kita tidak boleh meninggalkan pilar dasar berbangsa dan bernegara yang sudah diyakini sebagai pengikat kesatuan dan persatuan bangsa.
Kedua, sebagai bangsa yang plural dan multicultural dengan religiositas yang moderat, maka kita memiliki tantangan yang tidak sedikit. Tantangan tersebut adalah paham kegamaaan yang mengedepankan paham beragama yang fundamental. Paham yang mengedepankan hanya tafsir agamanya saja yang benar dan tafsir atas lainnya salah. Seakan-akan bahwa kebenaran hanya ada pada kelompoknya dan kelompok lainnya tidak absah. Jika paham keagamaan seperti ini tidak dimenej dengan sunguh-sungguh, maka ke depan akan terjadi disharmoni di dalam masyarakat Indonesia. Dewasa ini sedang terjadi pertarungan memperebutkan otoritas keagamaan, yang dengan nyata bisa dilihat dan didengar di dalam tayangan media social. Pertarungan tersebut sesungguhnya sangat keras, hanya saja dikemas di dalam media social. Bagi yang tidak memperhatikan, maka relasi social keagamaan kita dianggap baik-baik saja, akan tetapi bagi yang memperhatikannya, maka sesungguhnya terjadi “pertarungan”otoritas yang keras.
Kemudian yang tidak kalah penting adalah terjadinya algoritma religious. Siapa yang pendapatnya di media social didukung oleh banyak orang, maka dianggap sebagai ulama atau da’i atau penyebar agama yang paling otoritatif. Merekalah yang menguasai panggung media social. Ada di antara mereka yang memiliki viewer dan follower sebanyak 40-an juta. Artinya, bahwa media social dapat melambungkan nama seseorang untuk menjadi penyebar Islam yang otoritatif. Media social sungguh merupakan tempat untuk memahami agama, menggalang dukungan dan menjadi tempat untuk mengembangkan faham keagamaan dan sebagainya yang sangat dahsyat. Jika ke depan, media social tidak dimenej dengan baik, dan dikuasai oleh sekelompok kaum fundamentalis, maka dikhawatirkan akan terjadi disharmoni social yang tajam. Tidak kalah penting adalah problem lingkungan yang penting juga untuk dicermati. Jangan sampai lingkungan kita menjadi rusak karena keinginan untuk menjadikan lingkungan sebagai lahan ekonomi saja tanpa memperhitungkan dimensi manusia, kebudayaan dan eksistensi kemanusiaan.
Ketiga, diperlukan pusat-pusat pengembangan IKN sebagai pusat peradaban bangsa dan dunia. Ada sekurang-kurangnya enam pusat yang dapat digalakkan, yaitu:
1) Pusat Gerakan Moderasi Beragama. Indonesia merupakan negara dengan pluralitas dan multikulturalitas serta keberagamaan yang variative. Di sinilah relevansi Gerakan Moderasi Beragama (GMB) dikembangkan untuk tujuan menjaga kerukunan, harmoni dan slamet. Ketiganya tidak dapat diwujudkan di tengah masyarakat yang plural dan multikutural jika masyarakatnya tidak mengembangkan visi kebangsaan yang moderat. Gerakan Moderasi Beragama adalah solusinya.
2) Pusat Pengembangan SDM yang cerdas, kompetitif dan berakhlak mulia. Itulah sebabnya di IKN harus dikembangkan penguatan SDM melalui berbagai institusi pendidikan dan pelatihan yang mengusung tema penguatan SDM dalam tiga dimensi dimaksud. Pendidikan dan pelatihan yang tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas dan kompeitif, akan tetapi juga manusia yang berakhlak mulia. Cerdas dan kompetitif tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan akhlakul karimah.
3) Pusat Pengembangan Ekoteologi. Alam yang lestari adalah tujuan pembangunan berkelanjutan. Maka, kelestarian lingkungan menjadi tujuan bagi kehidupan manusia yang penuh dengan dinamika perubahan dalam banyak hal. Alam tidak hanya dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi dalam pandangan kaum kapitalis, akan tetapi juga harus dipandang sebagai tempat berbagai habitat kehidupan yang utuh. Jangan hanya memandang alam sebagai obyek perilaku manusia, akan tetapi sebagai sesama subyek produk ciptaan Allah SWT. Ekoteologi merupakan gagasan dan aksi untuk melestarikan alam berkelanjutan yang harus menjadi mindset segenap warga negara.
4) Pusat Pengembangan keberagamaan yang membahagiakan. Beragama menjadi fungsional jika agama dijadikan sebagai substansi dalam membangun masyarakat yang Sejahtera, dengan indicator terdapat keadilan, kesamaan dan kesejahteraan. Agama tidak dijadikan sebagai pembenar atas prilaku manusia yang sesungguhnya bertentangan dengan kesejahteraan dimaksud. Oleh karena itu dakwah harus dimenej menjadi dakwah yang mengembangkan beragama yang memberi rahmat bagi semua warga bangsa.
5) Pusat informasi dan media social yang mengagungkan kebenaran dan kebaikan. Tugas kemanusiaan kita adalah mengembangkan informasi yang jauh dari hoaks, disinformasi dan penyebaran kekerasan serta caci maki atau bahkan pembunuhan karakter. Orang yang memahami tentang pentingnya informasi berbingkai kebenaran harus speak up untuk hal ini. Para professor dan cerdik cendekia harus terlibat di dalam proyek literasi informasi yang baik dan benar.
6) Pusat Layanan Pemerintah yang akuntable dan transparan dalam kerangka untuk menuju pada World Class Bureaucracy (WCB). Sudah saatnya Indonesia menjadi pusat pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pusat pelayanan seperti ini akan dapat menjadi modal untuk memasuki WCB pada tahun mendatang. Jangan hanya dijadikan sebagai slogan, akan tetapi harus menjadi realitas birokrasi di negeri ini.
Sesungguhnya Indonesia dapat meraih visi di atas, akan tetapi dengan catatan bahwa kita semua harus menghargai karya para pendahulu dan kemudian mengembangkannya dengan berbagai nilai dan aksi yang berfokus di dalam berbagai program sebagai pengembangan pusat-pusat yang sudah disepakati. Membangun fisik bisa, demikian pula mengisi fisik dengan nilai dan aksi yang berkelanjutan menjadi aktivisme berikutnya pasti bisa.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




