Kajian Antropologi: Mengamati, Mendengar Dan Menuliskan Kehidupan Manusia
Semula antropologi mengkaji perilaku individu-individu dengan berbagai kehidupannya yang berbeda dengan orang barat. Ada yang datang ke Turki, lalu menggambarkan perilaku orang bersembahyang di Turki. Lalu cerita-cerita itu ditulis. Datang orang lain memperoleh hal yang sama, dan kemudian terus dikaji dalam kaitannya dengan keyakinan atau believe, upacara-upacara keagamaan atau ritual dan ekspresinya dalam berhadapan dengan Tuhan. Lalu, digambarkan bahwa ada kekuatan lain selain kekuatan manusia, yang disebut sebagai kekuatan adikodrati, yang diyakini kebenarannya. Dari kajian-kajian tersebut kemudian menghasilkan laporan-laporan yang kemudian diberi nama antropologi atau kajian tentang manusia dan kebudayaannya.
Inilah yang saya sampaikan pada forum bertemu dengan para dosen muda PTKI seluruh Indonesia, yang terdiri dari dosen PTKIN dan PTKIS yang sedang mengikuti acara persiapan keberangkatan pendidikan di luar negeri dalam tajuk kegiatan “Inspirational Talk” dengan tema “Pendekatan Antropologi Agama.” Acara ini diikuti oleh 40 orang peserta yang dinyatakan lulus untuk pendidikan di luar negeri. Yang utama adalah pembekalan kemampuan bahasa Inggris, tetapi terdapat beberapa sesi yang terkait dengan pembekalan akademis berbasis pengalaman lapangan melakukan penelitian. Acara diselenggarakan di Sekolah Pascasarjana Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta. 16/07/2026
Salah satu yang menarik bagi antropolog adalah agama. Dianggapnya bahwa agama memiliki keunikan dalam kaitannya dengan pikiran dan tindakan manusia. Agama dianggap sebagai pattern for behaviour dan pattern of behaviour. Yang dikaji adalah agama yang ada di dalam pikiran manusia yang bagi mereka masuk akal atau rasional dan yang dapat diobservasi atau dilihat dalam tindakan keagamaannya. Sebagai ilmu, antropologi dapat dinyatakan ilmiah jika memenuhi standart ilmu: rational and observable. Yang tidak memenuhi standar itu tidak dianggap sebagai ilmu. Epistemologinya adalah Burhani dan Tajribi, sementara itu epistemologi Bayani dan Irfani masih bisa diragukan.
Ada lima Madzhab dalam kajian tentang manusia dan kebudayaannya. Madzhab evolusionisme, yang menjadikan subyek kajiannya pada perubahan kebudayaan manusia. Perubahan terjadi secara perlahan. Tokoh utamanya adalah E.B Taylor. Secara metodologis mengkaji perubahan budaya secara sinkronik dan diakronik. Misalnya mengkaji budaya korupsi pada zaman Orde Baru dan Orde Reformasi. Apakah ada kesamaannya dan apakah ada perbedaannya. Apakah ada pola umum dan khususnya. Pola umum berlaku mendasar dan pola khusus berlaku mendalam.
Lalu kajian dalam madzhab fungsional. Kebudayaan memiliki fungsi dalam kehidupan individu dan masyarakat. Madzhab ini menjadikan kebudayaan sebagai fenomena yang memiliki nilai dan norma yang menjadi basis pengetahuan dan perilaku di dalam kehidupannya. Di antara tokohnya adalah Malinowsky. Di dalam kajiannya dinyatakan bahwa mitos di dalam masyarakat dapat memiliki fungsi untuk mengatur keteraturan masyarakat. Magi menjadi fungsional di kala kemampuan rasional manusia tidak lagi dapat menyelesaikan masalah.
Madzhab kognitivisme menjadikan fenomena relasi antara budaya, kognisi dan bahasa di dalam kehidupan masyarakat. Bahasa menjadi ekspresi kognisi dalam budaya. Apa yang dipikirkan di dalam kebudayaan dapat diekspresikan dalam bahasa. Bahasa menjadi alat ekspressi pikiran dalam kebudayaan di dalam suatu masyarakat. Masyarakat dapat memahami apa yang dipikirkan dalam kebudayaannya melalui ungkapan dalam bahasa. Tokoh antropologi kognitif adalah Ward Goodenough dan James P. Spraedly.
Madzhab simbolis interpretatif. Apa yang menjadi fenomena di dalam madzhab antropologi ini adalah pemahaman atas simbol-simbol yang terdapat di dalam masyarakat atau makna budaya di dalam kehidupan manusia. Simbol tersebut dipahami secara bersama-sama namun memiliki makna yang unik sesuai pemahaman atas simbol dimaksud. Ada dua pola yang dapat dipahami oleh manusia, yaitu pola bagi tindakan dan pola dari tindakan. Agama memiliki dua pola ini, yaitu agama sebagai pedoman di dalam kehidupan. Agama momot dengan nilai atau norma yang dipahami bersama. Agama juga dapat dipahami dan dilakukan oleh para pemeluknya. Agama dapat dipahami dari dimensi believe, ritual dan. Ekpressi beragamanya berbasis pada interpretasi pelakunya. Tokoh utamanya adalah Clifford Geertz.
Madzhab strukturalisme. Fenomena yang dikaji adalah struktur dalam kebudayaan, baik struktur pikiran maupun struktur tindakan. Terdapat pola umum dalam struktur pikiran dan tindakan di dalam kebudayaan manusia. Yang dikaji adalah struktur luar dari pikiran dan tindakan dalam kebudayaan. Pada masyarakat kesukuan yang berbeda akan tetapi terdapat pola umum pikiran dan tindakan di dalam kebudayaannya. Tokoh utamanya adalah Levi-Strauss, Ferdinand de Saussure, Mary Douglas, Roman Yacobson. Yang dikaji adalah mitos, totemisme, kekerabatan dengan menemukan struktur pikiran dan tindakan dalam kebudayaannya. Karya pentingnya adalah The Elementary Structure of Kinship (1949): Levi- Strauss.
Sebagai ilmu pengetahuan, maka tentu terdapat perubahan, misalnya dari thick description ke thin description. Dari deskripsi rinci ke deskripsi ringan. Contoh dua buku saya: “Perjalanan Etnografis lima Benua”, hasil jepretan di Asia, Australia, Afrika, dan Amerika dengan pengamatan selayang pandang. Lalu “Perjalanan Etnografi Spiritual” yang terkait dengan perjalanan di Vatikan, Arab Saudi, dan Asia dalam perspektif religius.
Di antara kajian di dalam antropologi, misalnya adalah Fenomenologi yang mengkaji fenomena untuk memahami pengalaman hidup dan makna dari sudut pandang subyek yang mengalami, Etnografi mengkaji tentang fenomena kehidupan dan makna mendalam yang terkandung di dalamnya, Netnografi mengkaji kehidupam manusia dan masyarakat dalam perspektif individu yang mengalaminya dari aspek relasi digital. Jika mengkaji kehidupan individu dan masyarakat dalam perspektf kajian etnografi, maka dapat menggunakan Analysis componential, Analisis Domain, Analisis taxonomy , Analisis Tema budaya.
Perubahan yang sangat mendasar adalah di masa lalu antropologi mengkaji tentang masyarakat kesukuan, seperti masyarakat Yucatan, Suku Pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Papua, suku-suku di Timur Jauh dan sebagainya. Antropologi sekarang mengkaji masyarakat modern dengan kebudayaannya. Masa penelitian di antara 1,5 tahun sampai 2 tahun. Geertz dan Hildred Geertz mengkaji masyarakat Mojokuto (Pare) selama 2 tahun. Hiroko Horikoshi meneliti Kyai dan Perubahan Sosial selama 2 tahun, Nakamura meneliti Muhammadiyah selama 2 tahun, Nur Syam, Islam Pesisir selama 1,5 tahun dan sebagainya. Kajian-kajian memerlukan waktu lama sebab akan memahami makna kebudayaan melalui wawancara mendalam dan observasi terlibat.
Perkembangan selanjutnya adalah kajian Antropologi Iingkungan yang mengkaji tentang relasi manusia, kebudayaan dan ekosistem lingkungan, termasuk praktik lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. Antropologi Kesehatan mengkaji tentang relasi manusia, kebudayaan dan kesehatan. Antropologi Digital mengkaji budaya, identitas dan interaksi manusia yang terbentuk melalui internet dan teknologi digital. Antropologi Urban mengkaji tentang relasi antara manusia, dan kebudayaan perkotaan. Antropologi Post Truth mengkaji tentang relasi manusia, kebudayaan dan pasca kebenaran. Antropologi Post colonial mengkaji tentang budaya kolonial yang masih tersisa dan berpengaruh terhadap suatu masyarakat yang pernah dijajah.
Antropologi menjadi kajian yang sangat menarik di dalam khazanah ilmu sosial dan humaniora. Di tengah perkembangan ilmu keislaman integratif, maka fenomena Islam dan kebudayaan dapat dikaji dengan menggunakan berbagai bidang dan disiplin ilmu untuk memperoleh disiplin ilmu baru yang unik dan menarik.
Wallahu a;lam bi al shawab.
You may also like

Tujuh Belasan: Sudah 81 Tahun Merdeka

Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi

