Berharap Surga Melalui Pintu Mana?
Oleh: H. Imron Rosyadi
Ketua STIT Raden Wijaya Mojokerto
Catatan perbincangan penuh bersahaja bersama Bapak Dr. Andi Bunyamin, M.Pd., Asesor Lamdik ketika menjalankan tugas sebagai asesor di kampus STIT Raden Wijaya Mojokerto pada hari Jum’at dan Sabtu 31 Juli – 01 Agustus 2026.
Akhir-akhir ini kita disuguhi berbagai berita tentang hiruk-pikuk dunia: politik, ekonomi, sosial, kriminalitas, korupsi, hingga berbagai konflik yang silih berganti. Informasi datang tanpa henti melalui berbagai media. Alih-alih menghadirkan ketenangan, berita-berita tersebut sering kali membuat pikiran dipenuhi kecemasan, kegelisahan, bahkan kemarahan. Namun, sering kali kemarahan itu pun tidak memiliki arah yang jelas.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika ketidakpuasan masyarakat mencapai puncaknya, dapat terjadi pergolakan besar. Salah satu contohnya adalah Revolusi Prancis yang dimulai pada tahun 1789 dengan penyerbuan Penjara Bastille. Ketidakpuasan rakyat terhadap kemiskinan, ketimpangan sosial, serta krisis politik dan ekonomi berkembang menjadi revolusi yang akhirnya berujung pada eksekusi Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette pada tahun 1793.
Peristiwa lain terjadi di Nepal pada 1 Juni 2001. Dalam tragedi di Istana Narayanhiti, Raja Birendra beserta sejumlah anggota keluarga kerajaan tewas ditembak. Berdasarkan hasil penyelidikan resmi, pelaku penembakan adalah Putra Mahkota Dipendra, yang kemudian meninggal akibat luka tembak yang dilakukannya sendiri. Tragedi ini mengguncang Nepal dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah monarki negara tersebut.
Di Sri Lanka pada tahun 2022, krisis ekonomi yang sangat berat memicu demonstrasi besar-besaran. Presiden Gotabaya Rajapaksa menghadapi tekanan luar biasa dari masyarakat. Massa memasuki kompleks kediaman presiden, sementara beliau meninggalkan negara itu dan kemudian mengirimkan surat pengunduran diri. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa krisis kepemimpinan dan ekonomi dapat mengguncang sebuah bangsa.
Berbagai peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kekuasaan, kekayaan, dan jabatan tidak selalu membawa ketenteraman. Sebaliknya, ketika kepercayaan masyarakat hilang, yang muncul adalah konflik, kemarahan, dan penderitaan.
Di tengah berbagai kisah tersebut, saya teringat sebuah cerita sederhana dari seorang sahabat di Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau adalah seorang dosen yang juga bertugas sebagai asesor di berbagai perguruan tinggi. Ketika menceritakan pengalamannya, beliau berkata bahwa setiap perjalanan tugas tidak hanya dimaknai sebagai pekerjaan profesional, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperluas persaudaraan. Beliau mengatakan, “Saya berkunjung ke berbagai kampus bukan sekadar menjalankan tugas sebagai asesor. Yang lebih berharga adalah saya dapat bersilaturahmi dan memperbanyak saudara.” Kemudian beliau melanjutkan dengan penuh kerendahan hati, “Mungkin ibadah saya biasa-biasa saja, amal saya juga tidak istimewa. Namun saya berharap, melalui tugas yang mempertemukan saya dengan banyak orang dan mempererat silaturahmi, Allah SWT berkenan membuka salah satu pintu surga bagi saya.”
Ucapan itu sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Di tengah dunia yang dipenuhi persaingan, konflik, dan ambisi, beliau justru memilih membangun hubungan baik dengan sesama manusia. Ia memandang setiap pertemuan sebagai ladang amal, bukan sekadar kewajiban pekerjaan.
Sebagai seorang Muslim, kita mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memastikan melalui amal apa ia akan memperoleh rahmat Allah SWT. Surga adalah anugerah Allah, sedangkan amal saleh merupakan ikhtiar seorang hamba. Karena itu, setiap amal kebaikan patut dijaga dan dilakukan dengan ikhlas, termasuk menjaga silaturahmi.
Semoga kita semua diberi kemudahan untuk memperbanyak amal saleh, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan memperoleh rahmat Allah SWT sehingga kelak dipanggil memasuki surga melalui pintu yang Allah kehendaki. Aamiin.
You may also like


