Foto 80-an yang Viral dan Harga yang Dibayar Lingkungan
Eva Putriya Hasanah
Belakangan, media sosial kembali dipenuhi foto bergaya 80-an. Rambut dibuat bergelombang, pakaian bergaya retro, warna foto dibuat sedikit pudar, dan latar belakang seolah-olah diambil dari ruang keluarga beberapa dekade lalu. Bedanya, kali ini seseorang tidak perlu mencari studio foto atau membuka perangkat lunak penyuntingan yang rumit. Cukup mengunggah foto dan memberikan perintah kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), gambar bergaya 80-an dapat dihasilkan dalam hitungan detik.
Fenomena ini tampak sebagai hiburan digital yang sederhana. Namun, di balik satu gambar yang muncul di layar terdapat proses komputasi yang membutuhkan pusat data, server, listrik, dan sistem pendinginan. Di sinilah tren penggunaan AI bersinggungan dengan persoalan lingkungan, termasuk kebutuhan terhadap air.
Mengapa AI Membutuhkan Air?
Pusat data merupakan fasilitas yang menampung perangkat komputasi dalam jumlah besar. Ketika prosesor bekerja menjalankan model AI, energi listrik yang digunakan sebagian besar berubah menjadi panas. Panas tersebut harus dikeluarkan agar perangkat tetap beroperasi dengan baik. Salah satu metode pendinginan yang digunakan adalah sistem berbasis air. Dalam sistem tertentu, air membantu menyerap dan membuang panas, dan sebagian air dapat hilang melalui proses penguapan. Karena itu, meningkatnya kebutuhan komputasi AI dapat berhubungan dengan meningkatnya kebutuhan air, meskipun besarnya sangat bergantung pada teknologi yang digunakan.
Penelitian tentang jejak air AI juga menunjukkan bahwa persoalannya tidak hanya berada pada pusat data. Air dapat digunakan secara tidak langsung dalam pembangkitan listrik dan berbagai tahapan rantai pasok teknologi, termasuk produksi perangkat semikonduktor.
Berapa Banyak Air yang Digunakan AI?
Pertanyaan tentang seberapa banyak air yang digunakan AI tidak memiliki satu jawaban yang sederhana. Pada Juni 2025, CEO OpenAI Sam Altman menyebut bahwa rata-rata satu kueri ChatGPT menggunakan sekitar 0,000085 galon air, atau sekitar 0,32 mililiter—kira-kira seperlima belas sendok teh. Angka tersebut terdengar sangat kecil jika dilihat dari satu kali penggunaan. Namun, angka itu merupakan klaim dari pihak perusahaan dan metode perhitungannya tidak dijelaskan secara rinci kepada publik.
Angka berbeda muncul dari penelitian akademik. Penelitian yang dilakukan peneliti dari University of California Riverside, University of Texas at Arlington, dan University of Colorado Riverside mengenai jejak air GPT-3 memperkirakan bahwa sekitar 10–50 respons dapat berkaitan dengan penggunaan sekitar setengah liter air, tergantung pada lokasi dan kondisi pengoperasian. Jika dihitung secara sederhana, jumlah tersebut setara dengan sekitar 10–50 mililiter per respons.
Skalanya bahkan semakin besar ketika seluruh ekonomi AI diperhitungkan. Menurut World Economic Forum, yang mengutip penelitian Global Water Intelligence dan Xylem, ekonomi AI saat ini diperkirakan menggunakan sekitar 23 kilometer kubik air per tahun. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 54 kilometer kubik per tahun pada 2050, atau meningkat lebih dari dua kali lipat. Jika proyeksi tersebut terjadi, diperlukan tambahan sekitar 31 kilometer kubik air setiap tahun untuk menopang ekonomi AI.
Bahaya Tren Viral yang Muncul Terus-Menerus
Persoalan lingkungan menjadi lebih menarik ketika melihat pola munculnya tren digital. Hari ini foto bergaya 80-an menjadi viral. Sebelumnya mungkin ada gaya ilustrasi tertentu, transformasi wajah, foto bergaya film, atau pembuatan video menggunakan AI. Setelah sebuah tren mendapatkan perhatian besar, jutaan pengguna dapat melakukan aktivitas serupa dalam waktu yang relatif singkat.
Di sinilah persoalannya bukan semata-mata terletak pada satu gambar, melainkan pada skala penggunaan. Jika satu permintaan AI memiliki kebutuhan komputasi tertentu, jutaan permintaan yang dilakukan secara bersamaan tentu menghasilkan kebutuhan komputasi yang jauh lebih besar. Konsekuensinya dapat berupa peningkatan kebutuhan listrik dan infrastruktur pusat data, serta potensi peningkatan kebutuhan air pada sistem yang menggunakannya.
Pola ini juga memperlihatkan karakter ekonomi digital: sesuatu yang tampak ringan bagi pengguna dapat memiliki infrastruktur yang besar di belakangnya. Pengguna cukup menekan tombol “generate”, tetapi di sisi lain terdapat server yang bekerja memproses permintaan tersebut.
Menggunakan AI Secara Bertanggung Jawab dan Bijaksana
Menggunakan AI secara bertanggung jawab dapat dimulai dari hal sederhana. Gunakan AI ketika memang memberikan manfaat, bukan semata-mata karena setiap tren baru sedang viral. Jika ingin membuat satu gambar, tidak selalu diperlukan puluhan versi hanya untuk memilih satu yang paling sesuai. Begitu pula ketika sebuah tugas dapat diselesaikan dengan metode sederhana, tidak semua pekerjaan harus dialihkan kepada AI.
Kebijaksanaan juga berarti memahami bahwa efisiensi bukan hanya persoalan waktu pengguna. Ada sumber daya yang bekerja di belakang layar setiap kali sebuah permintaan diproses. Semakin kompleks pekerjaannya—misalnya menghasilkan gambar berulang kali, video beresolusi tinggi, atau proses komputasi yang berat—semakin relevan pertanyaan mengenai energi dan sumber daya yang dibutuhkan.
Pada saat yang sama, tanggung jawab tidak seharusnya dibebankan hanya kepada pengguna. Perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena mereka mengendalikan model, pusat data, teknologi pendinginan, pemilihan lokasi fasilitas, serta sumber energi dan air yang digunakan. Transparansi mengenai konsumsi air, penggunaan air daur ulang, efisiensi pusat data, dan dampak terhadap daerah sekitar menjadi bagian penting dari pengelolaan AI yang berkelanjutan.
Dengan demikian, persoalan AI dan air bukanlah cerita sederhana tentang teknologi yang “menghabiskan air”. Persoalannya adalah bagaimana manusia menentukan batas penggunaan sumber daya ketika kebutuhan digital terus bertambah. AI boleh berkembang, tren digital boleh datang silih berganti, tetapi air tetap memiliki fungsi yang tidak dapat digantikan: untuk diminum, menjaga kesehatan, menghasilkan pangan, dan mempertahankan kehidupan.
Teknologi yang bijaksana bukan hanya teknologi yang mampu menghasilkan sesuatu dalam hitungan detik. Teknologi yang bijaksana adalah teknologi yang kemajuannya tetap memperhitungkan apa yang mungkin tidak terlihat di layar—termasuk air yang menopang kehidupan.
You may also like


Ketika Negara Mulai Menghitung Nilai Sebuah Kelahiran

Kenapa Makanan Kampung Harus Viral Dulu untuk Dihargai?

