Adab-Adab Seorang Murid (1)
Daras AkhlakDengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Taisir al-Khallaq yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Syekh Hafidz Hasan al-Mas‘udiy, al-Fatihah.
Pada bab ini, al-Syekh Hafidz memulai penjelasannya dengan pernyataan bahwa ada 3 macam adab yang sudah sepatutnya diperhatikan oleh seorang murid. Yakni adab-adab yang berkaitan dengan dirinya sendiri, dengan guru dan dengan teman-temannya. Adapun tulisan ini akan fokus membahas poin yang pertama, yakni adab seorang murid dengan dirinya sendiri..
Bahwa sebelum memperbaiki relasinya dengan orang lain, seorang murid diarahkan untuk memenuhi adab-adab yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Ada sifat, “keadaan” dan atau karakter dirinya yang harus dibenahi dulu, sebelum memperindah hubungannya dengan yang lain. Pengabaian terhadapnya, sering kali berakibat pada buruknya interaksi antara dirinya dengan yang lain, siapa pun itu, lebih-lebih gurunya. Ibarat tandon, bagaimana dapat mengalirkan air jernih, jika isinya saja air keruh atau bahkan kotoran?
Lantas apa saja adab-adab itu? Al-Syekh Hafidz menyebutkan setidaknya 4 adab. Pertama, meninggalkan ujub, sombong. Caranya dengan menyadari empat hal, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Laits al-Samarqandiy. Yakni (a) menyadari bahwa keniscayaan taufik yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya sehingga dengan taufik-Nya itu ia mampu mempelajari materi-materi yang disampaikan oleh gurunya dengan baik; (b) menyadari bahwa kejeniusan, kecerdasan dan kepintarannya adalah semata-mata nikmat dari-Nya, Dia berkuasa menganugerahkan dan mencabutnya kepada-dari siapa pun dan kapan pun; (c) menyadari bahwa kebajikan yang telah ia lakukan seperti belajar, mengajar, ngamal belum tentu diterima oleh-Nya karena satu-dua sebab tertentu; dan (d) menyadari betapa banyak dosa yang telah ia lakukan. Empat kesadaran esensial inilah yang menghalangi si murid bersifat sombong dan bertingkah congkak. Apa lagi yang layak disombongkan bila segala “kelebihan” dirinya tidak lain adalah atribut yang dianugerahkan oleh-Nya?
Kedua, tawaduk dan jujur. Dengan kedua sifat ini, si murid disenangi dan dipercaya oleh siapapun, baik guru, teman seperjuangan maupun masyarakat sekitar. Namun tentu saja motifnya bukan itu, disenangi dan dipercaya, bukan pula agar dianggap tawaduk, menyandang status “orang baik”, memperoleh jabatan penting/terhormat, dan lain sebagainya. Karena seandainya motif-motif itu tidak terwujud, yang ia rasakan hanyalah kecewa, bahkan boleh jadi membuatnya enggan dan kapok berlaku tawaduk dan jujur. “Menata” motif atau niat inilah yang sering kali diabaikan si murid. Mestinya, satu-satunya motif, niat atau alasan dirinya berlaku tawaduk dan jujur adalah semata-mata karena Allah SWT (lilllah). Pada konteks ini, Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an yang maknanya lebih kurang sebagai berikut:
“Janganlah sekali-kali engkau mengarahkan kedua matamu (yakni jangan memberikan perhatian yang besar) kepada apa yang dengannya Kami telah menyenangkan golongan dari mereka (orang-orang kafir) dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan rendahkanlah sayapmu (yakni hatimu) kepada orang-orang mukmin.” (Surah al-Hijr [15]: 88)
\n\n \n\n“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Surah al-Taubah [9]: 119)
“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, lagi tepat (yakni jangan mengucapkan kebohongan dan tuduhan palsu).” (Surah al-Ahzab [33]: 70)
Baca Juga : Agenda Setting Media Sosial dan Politik
Juga sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa tawaduk karena Allah, niscaya Allah (pasti) mengangkat derajatnya.”
Ketiga, berjalan dengan tenang/sopan seraya memejamkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Ada banyak sekali teks yang menegaskan pentingnya menjaga pandangan ini. Di antaranya sebuah riwayat yang konon disampaikan oleh Nabi ‘Isa AS, “Berhati-hatilah dengan pandanganmu, karena ia bisa menanamkan syahwat di dalam hati. Cukuplah pandangan itu sebagai bencana/musibah bagi si empunya.” Rasulullah SAW diriwayatkan juga bersabda, “Sungguh, pandangan pada keindahan-keindahan perempuan itu adalah salah satu busur beracun si iblis. Barang siapa yang meninggalkannya, Allah SWT (pasti akan) membuatnya merasakan lezatnya beribadah yang akan membuatnya bahagia.”
Lebih lanjut, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali mengilustrasikan dengan baik bahaya “melepaskan” pandangan ini. Bahwa permulaan kesenangan-kerinduan yang dapat menghilangkan akal sehingga si empu tidak lagi mampu mengontrol dirinya adalah pandangan yang tak disengaja pada suatu bentuk, gambar, atau apapun. Kemudian lambat laun pandangan itu semakin menguat dan tak terarah dilepaskan pada apa saja yang ia lihat atau ingin lihat sehingga bertranformasilah menjadi kobaran kerinduan. Akibatnya, si empu bisa jadi terbunuh bila ia berusaha menahannya. Bila tidak berusaha menahan, maka ia akan terjatuh pada lubang zina zina mata atau bahkan berlanjut pada zina-zina yang lain. Maka hancurlah agamanya. Tetapi bila sebaliknya, yakni ia meninggalkan pandangan, niscaya selamatlah fikirannya dan selamat pula dari perbuatan zina. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW, “Mata itu berzina, dan hati membenarkan atau mendustakannya (al-‘ain tazni wa al-qalb yushaddiqu dzalika aw yukadzdzibuhu).” Oleh karena itu, kembali pada ilustrasi awal, “Kebergantungan (al-ta‘alluq) pada bentuk-bentuk/gambar-gambar itu mengakibatkan rusaknya akal, butanya mata hati dan mabuknya/terombang-ambingnya hati.” Semoga kita senantiasa memperoleh taufik-Nya agar mampu menjaga pandangan, Allaahumma aamin.
Keempat, amanah terhadap ilmu yang telah dianugerahkan kepadanya sehingga si murid tidak menjawab suatu persoalan dengan selain ilmu yang ia ketahui. Adab terakhir yang disebut oleh al-Syekh Hafidz ini sekurang-kurangnya menggarisbawahi dan mengingatkan tiga hal penting. Pertama, memahami disiplin ilmu yang ia pelajari, senantiasa mendalami dan mengulang-ngulangnya (muraja‘ah, tadzakur); karena, “Di antara bahaya ilmu adalah lupa (min afat al-‘ilm al-nisyan).” Di samping itu, juga karena salah satu tanggung jawab seorang pelajar adalah tidak berhenti belajar.
Kedua, mengajarkan ilmu yang telah ia pelajari dan pahami, karena bukankah mengajar juga bagian dari amanah ilmu? Apalagi bila keilmuannya dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah Allah SWT menganugerahkan ilmu kepada seorang alim melainkan Dia juga mengambil janji agung (al-mitsaq) sebagaimana yang Dia ambil dari para nabi, yakni menjelaskannya (kepada yang lain) dan tidak menyembunyikannya.” Sabda beliau pula, “Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian dia menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatnya dengan ikatan neraka di Hari Kiamat.”
Ketiga, menyadari kapasitas keilmuannya sehingga bila ditanya tentang suatu hal dan ia tidak mengetahui jawabannya, maka tidak segan untuk mengatakan, “Mohon maaf, saya tidak/belum tau.” Bukan sebaliknya, memaksakan diri menjawab dengan terkaan-terkaan, karena malu dianggap tak berkompeten misalnya. Apa susahnya mengatakan kalimat itu? Atau kalau mau memberikan alternatif solusi, bisa saja mengatakan, “Coba Anda tanya ke Kyai/Gus/Ustadz/Pak Fulan. Saya yakin beliau lebih memahami persoalan yang Anda tanyakan.” Karena disadari atau tidak, diakui atau tidak, potensi “menyesatkan” atau dengan bahasa yang lebih halus, “tergelincir”saat ia memaksakan diri menjawab, sangat besar. Bahwa, “Di antara ilmunya orang alim adalah ia mengatakan terhadap sesuatu yang tidak ia ketahui, ‘Saya tidak tahu,’ atau, ‘Wallahu A‘lam’,” demikian dawuhnya Imam al-Nawawi.
Demikian kajian kitab Taisir al-Khallaq pada kesempatan kali ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, wa shalla Allah ‘ala Sayyidina Muhammad al-Mushthafa.
Sumber Rujukan
M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 206, 266,
Hafidz Hasan al-Mas‘udiy, Taisir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, terj. Ibnu Fauzan Zuhdi Demak (Surabaya: Maktabah Balai Buku, t.t.), 9-10.
Al-Faqih Nashr b. Muhammad b. Ibrahim al-Samarqandiy, Tanbih al-Ghafilin (Jeddah: al-Haramain, t.t.), 176.
Al-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kediri, Siraj al-Thalibin Syarh ‘ala Minhaj al-‘Abidin, Vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), 354-355, 359, 361.
Al-Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Da’ wa al-Dawa’ (Makkah: Dar ‘Alam al-Fawa’id, 1429 H), 418.
Al-Habib Zein b. Ibrahim b. Smith Ba‘alawi al-Husainiy, al-Manhaj al-Sawiy Syarh Ushul Thariqat al-Sadah Ali Ba‘alawiy (Tarim: Dar al-‘Ilm wa al-Da‘wah, Amman: Dar al-Fath li al-Dirasat wa al-Nasyr, 2005), 125-126, 201.

