Faktor Pendorong Takwa (2)
Daras AkhlakOleh: Kobirul Amru
Dengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak kita membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Taisir al-Khalaq yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Syekh Hafidz Hasan Mas‘udi, al-Fatihah.
Urgensi Mengingat Nikmat dan Mensyukurinya
Setelah menjelaskan faktor pertama pendorong takwa, pada kesempat kali ini al-Syekh Hafidz melanjutkan:
Dan di antara sebab takwa adalah hendaknya seseorang mengingat-ingat kebaikan Allah SWT kepadanya, dalam semua keadaan/tingkah-laku(nya). Dzat yang demikian itu, tentu tidak patut diingkari nikmat-Nya.
Tegasnya, faktor pendorong takwa yang kedua adalah selalu mengingat nikmat-nikmat Allah SWT yang telah, sedang dan selalu dianugerahkan kepada kita. Karena dengan demikian, akan lahir rasa cinta kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh al-Syekh Nawawi bin ‘Umar al-Jawi. Pada konteks ini, Allah SWT mengabadikan perkataan Nabi Hud AS kepada kaumnya dalam surah al-A‘raf [7]: 69, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:
Maka, ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
Baca Juga : Pendidikan Ramadhan Menuju Insan Takwa
Tentu, selain rasa cinta kepada Dzat yang telah menganugerahkan nikmat-nikmat kepada kita, diharapkan pula lahir rasa syukur atas nikmat-nikmat itu. Karena:
Dan (ingatlah), ketika Tuhan Pemelihara kamu memaklumkan, “Demi (kekuasaan-Ku)! Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-nikmat-Ku) kepada kamu dan tentu jika kamu mengingkari (nikmat-nikmat-Ku), maka sesungguhnya siksa-Ku benar-benar sangat keras. (Surah Ibrahim [14]: 7)
Bahkan, dalam satu satu hadis qudsi, Allah SWT berfirman:
Barang siapa tidak rida dengan keputusan-Ku, tidak bersabar atas ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku dan tidak rela menerima pemberian-Ku, maka hendaklah menyembah tuhan selain Aku!
Sepercik Makna Syukur dan Caranya
Secara bahasa, syukur adalah sebuah perbuatan baik dengan lisan, hati atau anggota tubuh yang timbul karena mengagungkan Dzat yang telah memberinya nikmat. Sedangkan secara istilah, syukur berarti penggunaan seorang hamba terhadap nikmat yang dianugerahkan kepadanya, untuk tujuan diciptakannya nikmat tersebut. Tujuan itu tidak lain adalah ketaatan dan tafakkur dalam rangka mengambil pelajaran (dari semua ciptaan-ciptaan-Nya). Demikian penjelasan al-‘Allamah ‘Abdullah bin Sulaiman al-Jarhazi dalam al-Mawahib al-Saniyyah-nya, yang kemudian dikomentari oleh al-Syekh Yasin bin ‘Isa al-Fadani.
Baca Juga : Sarjana, Peluang Kerja dan Masa Depan
Dari sini dapat dipahami bahwa mensyukuri nikmat itu tidak cukup dengan lisan saja. Misalnya dengan mengucapkan, “Segala puji hanya bagi Allah”. Tetapi lebih lanjut, disertai dengan hati dan diaktualisasikan dalam perbuatan oleh anggota tubuh. al-Syekh Ibnu ‘Allan mencontohkan, “Seperti menggunakan pendengaran untuk mendengar ayat-ayat (Allah) dan (menggunakan) pandangan untuk bertafakur tentang ciptaan-ciptaan (Allah).”
Berkenaan dengan cara mensyukuri nikmat anggota tubuh ini, Imam al-Ghazali menjelaskan secara terperinci di dalam Ihya’-nya, khususnya pada Kitab al-Tafakkur. Sederhananya, mula-mula seorang hamba hendaknya selalu meneliti dan introspeksi terhadap seluruh anggota tubuhnya setiap pagi hari. Lisan misalnya, apakah ia gunakan untuk ngerasani, berbohong, mengolok-olok orang lain, menipu dan perbuatan tercela lainnya? Juga pendengarannya, apakah ia gunakan untuk mendengarkan rasan-rasan, kebohongan, omongan yang berlebihan, senda gurau? Pun demikian dengan anggota tubuh yang lain. Nah, berangkat dari introspeksi ini lah, seorang hamba diharapkan berusaha untuk “memalingkan” perbuatan buruknya itu kepada ketaatan-ketaatan.
Oleh karena itu, al-Sayyid Ahmad bin Zain Dahlan menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah, “Engkau menggunakan semua nikmat yang telah dianugerahkan kepadamu untuk tujuan diciptakannya nikmat-nikmat itu. Maka, hal itu mencakup harta, badan, anggota tubuh, baik lahir maupun batin. Tatkala engkau menggunakan satu saja dari semua itu untuk sesuatu yang bertentangan dengan tujuan diciptakannya, niscaya (perbuatanmu) itu adalah suatu kekufuran terhadap nikmat tersebut.”
Sebagai penutup, patutlah kiranya kita mencontoh doa Nabi Sulaiman AS yang diabadikan di dalam surah al-Naml [27]: 19, yang terjemahannya kurang lebih berikut ini:
Tuhan Pemeliharaku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu dalam golongan para hamba-Mu yang saleh.
Juga doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Mu‘adz RA, “Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri (nikmat)-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Demikian kajian kitab Taisir al-Khalaq pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, dan bisa kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya, bi idzni Allah, wa shalla Allah ‘ala sayyidina Muhammad al-Musthafa.
Referensi:
Baca Juga : Hari Raya Idul Fitri Sebagai Milik Bangsa
Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi, Kasyifah al-Saja (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2011), 38.
Abi Hamid al-Ghazali, al-Mawa‘idz fi al-Ahadits al-Qudsiyyah, dalam Majmu‘ Rasa’il al-Imam al-Ghazali (Kairo: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.t.), 609.
Muhammad Yasin bin ‘Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawa’id al-Janiyyah: Hasyiyah al-Mawahib al-Saniyyah Syarah al-Fara’id al-Bahiyyah (t.tp.: Dar al-Rasyid, t.t.), 47.
Muhammad bin ‘Allan al-Siddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, t.t.), 206-207.
Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Jeddah: Dar al-Minhaj, 2011), vol. 9, 248-249.
Ahmad bin Zaini Dahlan al-Hasani al-Makki, Taqrib al-Ushul li Tashil al-Wushul (Beirut: Dar al-Minhaj, 2019), 67.
Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Adzkar min Kalam Sayyid al-Abrar (Beirut: Dar al-Minhaj, 2005), 145.

