Sarjana, Peluang Kerja dan Masa Depan
OpiniAkhir-akhir banyak keluhan terkait dengan jumlah kaum pengangguran yang terkait dengan lulusan PT. Memang di Indonesia ada ketidakseimbangan antara jumlah institusi pendidikan, antara program sains dan teknologi dengan ilmu humaniora, ilmu social dan agama. Di negara berkembang seperti Indonesia, maka seharusnya yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah prodi sains dan teknologi, karena memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia industri dan juga dunia usaha.
Di Australia, sebagai negara maju, maka yang dikembangkan secara optimal adalah program vokasional, dalam berbagai cabang ilmu. Tetapi program vokasional sains dan teknologi lebih diprioritaskan. Sementara itu, program vokasional juga diperlukan yang memiliki keterkaitan langsung dengan dunia usaha dan industri. Sementara itu di Indonesia, yang lebih banyak adalah program sarjana yang penekannya pada aspek akademis. Hal yang memprihatinkan bahwa kebanyakan adalah prodi humaniora, social dan agama.
Perbandingan jumlah antara prodi saintek dan social humaniora di PTN adalah 43 persen (prodi saintek) dan 57 persen (prodi soshum) dari sebanyak 29.618 prodi. Ini artinya bahwa prodi social humaniora jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan prodi saintek. Memang tidak didapatkan data tentang perbandingan data prodi saintek dan soshum di PTS, tetapi kiranya dapat dinyatakan bahwa jumlah prodi soshum tentu jauh lebih banyak prosentasenya dibandingkan dengan prodi saintek. Demikian pula jumlah mahasiswanya. Jumlah tersebut juga ditambahkan prodi keagamaan dalam rumpun ilmu agama yang jumlahnya cukup banyak. Jadi secara umum, prodi soshum mahasiswanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan prodi saintek di Indonesia.
Data dari Kompas.com 18/06/2021, bahwa prosentase jumlah mahasiswa prodi soshum dan sains adalah 32,1% berbanding 67,9% untuk program Sarjana/D4. Sementara itu untuk program magister dan Doktor, jumlah alumni prodi soshum juga lebih banyak dibandingkan dengan prodi sains dan hanya jenjang program profesi yang mahasiswa saintek lebih banyak dibandingkan dengan prodi soshum. Jika ditambah dengan jumlah yang kuliah di PTKI tentu jumlahnya akan jauh lebih besar.
Berdasarkan rilis yang dilakukan oleh media social, bahwa prodi saintek jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan prodi soshum, demikian pula jumlah mahasiswanya. Berdasarkan persepsi masyarakat bahwa prodi sainteks itu lebih sulit dibandingkan prodi soshum. Seseorang harus memiliki kapasitas ilmu dasar di bidang saintek. Ada banyak lulusan program non Teknik yang tidak berani memasuki prodi saintek. Sementara itu, prodi soshum bisa diikuti oleh mereka yang memiliki latar belakang Pendidikan IPA atau IPS.. Selain itu, membuka prodi saintek juga tidak mudah, sebab terkait dengan laboratorium dan kelengkapan intrastruktur untuk program pembelajaran.
Secara commonsense, di antara yang menjadi factor rendahnya daya serap pekerjaan dari alumni prodi soshum adalah keterbatasan lapangan kerja yang tersedia untuk lulusan prodi ini. Sementara itu peluang kerja bagi alumni prodi sains tentu lebih banyak seirama dengan perkembangan dunia usaha dan dunia industri. Pada Era Revolusi Industry 4.0 dan era teknologi informasi, maka yang memiliki peluang besar adalah alumni prodi sains. Melalui penguasaan atas saintek dalam berbagai variasinya, maka peluang bekerja alumni prodi saintek tentu akan jauh lebih besar.
Di Indonesia, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 145,77 juta orang, dengan rincian 66,19% bekerja penuh atau 35 jam per pekan, dan yang bekerja paruh waktu sebesar 25,81%, sebanyak 61,25% bekerja di sektor pertanian, perdagangan dan industry pengolahan, lalu 59,40% bekerja di sektor informal dan yang berstatus buruh/karyawn sebesar 37,08% dan yang bekerja komuter sebesar 5,01%, serta yang bekerja di sektor informal, 53,70%. Dari sisi pendidikan, lulusan pendidikan dasar ke bawah sebesar 53,70%. Dan yang menganggur sebesar atau setengah menganggur sebesar 8%.
Jumlah lulusan PT di Indonesia ternyata banyak yang tidak terserap di dalam lapangan kerja. Berdasarkan data BPS, bahwa selama setahun terjadi peningkatan pengangguran terdidik yang cepat. Data tersebut menyatakan jika dibandingkan antara tahun 2024 dan 2025 pada Bulan Pebruari, maka diketahui terjadi kenaikan sebesar 1,1% menjadi 7,28 juta. Dari angka kenaikan pengangguran tersebut yang paling pesat adalah pengangguran kaum terdidik atau perguruan tinggi. Angka pengangguran S1, S2 dan S3 dan D4 sebesar 12,12% pada tahun 2024 dan pada tahun 2025 sebesar 13,89%. Sedangkan untuk D1,D2 dan D3 naik dari 2,42% tahun 2024 menjadi 2,44% 2025.
Jika kita menganalisis atas data ini, maka kenaikan tersebut dapat dikaitkan dengan data jumlah prodi ilmu soshum, jumlah lulusan dan peluang kerja lulusan program studi ini. Banyaknya program studi ilmu soshum dan besarnya kontribusi jumlah mahasiswa atau lulusan prodi ini dan kehadiran variable lapangan kerja yang terbatas, maka memberikan indikasi banyaknya pengangguran pada lulusan prodi soshum.
Saya tidak mendapatkan data tentang prodi-prodi agama, sehingga belum bisa menganalisis bagaimana kontribusi banyaknya prodi agama dan keterkaitannya dengan jumlah lulusan dan peluang kerja, sehingga turut berkontribusi terhadap semakin membesarnya lulusan PT yang belum bekerja. Jika menilik angka lulusan prodi soshum yang menunjukkan indicator tersebut, maka meskipun kurang lebih , kiranya prodi agama juga memiliki kontribusi yang hampir sama.
Wallahu a’lam bi al shawab.

