Sebuah Kajian dalam Perspektif Tafsir: Ayat-Ayat Gelisah
Daras TafsirOleh: M. Sa'ad Alfanny
Wahai Tuhan yang Maha Membolak-balikkan Hati, kecemasan merupakan salah satu aspek psikologis manusia yang sering kali menghantui, menghantui hati, dan membelenggu pikiran. Sebagai manusia yang dibekali akal dan perasaan, kecemasan muncul ketika seseorang menghadapi ancaman, baik itu terkait dengan masa depan, nasib, ataupun ketidakmampuan mengatasi tantangan hidup yang terus menerus datang. Dalam konteks ini, Al-Qur\'an memberikan petunjuk yang mendalam dan solusi konkret untuk mengatasi perasaan tidak nyaman tersebut. Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab dan Tafsir Ibnu Katsir mengungkapkan bagaimana ayat-ayat Al-Qur\'an bisa menjadi pengobat hati yang gelisah dan penuntun dalam menghadapi tantangan hidup.
Salah satu ayat yang sering dibahas dalam diskusi mengenai kecemasan adalah Surah Al-Baqarah [2:286], yang menyatakan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” Ayat ini memiliki berbagai dimensi pemahaman yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi kecemasan yang timbul akibat berbagai ujian hidup. M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Misbah, menafsirkan ayat ini dengan fokus pada kekeliruan persepsi manusia dalam memandang ujian hidup. Menurut Shihab, perasaan gelisah atau cemas muncul bukan karena beban itu sendiri, tetapi karena ketidakpastian seseorang dalam menilai kapasitas dirinya. Misalnya, seseorang yang menghadapi masalah ekonomi berat mungkin merasa bahwa beban tersebut terlalu besar, padahal sebenarnya beban itu sesuai dengan kapasitasnya untuk menghadapinya. Kesalahan persepsi menjadi akar dari kecemasan tersebut, yang bisa diatasi dengan meningkatkan pemahaman tentang takdir dan kemampuan diri.
Namun, pemahaman ini juga memerlukan perhatian kritis. Dalam konteks kehidupan modern yang penuh dengan dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang kompleks, kecemasan sering kali bukan sekadar masalah persepsi atau interpretasi terhadap ujian. Banyak orang yang tidak hanya cemas karena merasa kelebihan beban, tetapi juga karena mereka dihadapkan pada kondisi-kondisi sosial yang tak terduga dan di luar kendali mereka, seperti mempublikasikan ekonomi, krisis global, atau ketidakadilan sosial. Persepsi tentang ujian mungkin tidak cukup untuk menanggulangi kecemasan tersebut jika tidak disertai dengan upaya konkret untuk mengubah keadaan sosial atau mencari solusi praktis untuk masalah yang dihadapi. Jadi, sementara tafsir Al-Misbah memberi solusi untuk mengatasi kecemasan dengan menyesuaikan persepsi terhadap takdir, dunia nyata seringkali menuntut upaya kolektif yang lebih besar untuk menciptakan perubahan.
Tafsir Ibnu Katsir memberikan perspektif yang berbeda, namun juga sangat relevan dalam konteks kecemasan. Dalam Surah At-Taubah [9:51], Allah berfirman, \"Katakanlah: \'Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditentukan Allah bagi kami. Dia adalah pelindung kami, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman harus bertawakal.\'\" Bagi Ibnu Katsir, ayat ini adalah seruan untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah, meyakini bahwa setiap peristiwa yang menimpa manusia adalah bagian dari takdir yang telah ditentukan-Nya. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menekankan bahwa tawakal kepada Allah adalah jalan utama untuk menghadapi perasaan gelisah dan takut terhadap masa depan.
Ibnu Katsir melalui tafsirnya mengajarkan bahwa tawakal bukanlah bentuk kepasrahan yang pasif, melainkan pengakuan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah. Tawakal dalam pengertian ini bukan berarti menyerah tanpa berusaha, tetapi lebih kepada pengakuan akan keterbatasan manusia di hadapan kebesaran takdir Ilahi. Penerimaan terhadap takdir ini memberikan ketenangan batin dan meringankan beban psikologis, karena seseorang yang bertawakal akan merasa tenang, tidak khawatir akan hasil dari segala usahanya, karena ia yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.
Namun, ada pula yang menilai bahwa ajaran tawakal ini sering kali disalahpahami sebagai fatalisme atau sikap pasif yang hanya menyerah pada takdir tanpa usaha. Dalam masyarakat yang semakin kompleks dan penuh tantangan, mengandalkan tawakal tanpa upaya konkret untuk mengubah kondisi sosial, ekonomi, dan politik dapat memunculkan ketidakadilan atau bahkan ketidakberdayaan kolektif. Kecemasan yang timbul akibat faktor-faktor eksternal, seperti ketidaksetaraan sosial, krisis ekonomi, atau kekerasan, tidak dapat diselesaikan sepenuhnya dengan menyerahkan diri kepada takdir semata tanpa disertai upaya untuk memperbaiki keadaan tersebut. Tawakal yang murni tanpa disertai upaya konkret dalam menghadapi ketidakadilan bisa menjadi bentuk pengungsi dari kenyataan, sebuah penghindaran dari tanggung jawab sosial dan moral.
Selain tawakal, dalam Tafsir Ibnu Katsir, dzikir menjadi aspek penting dalam meredakan kecemasan. Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra\'d [13:28], \"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.\" Dzikir di sini tidak hanya sebagai amalan spiritual, tetapi lebih sebagai jalan untuk menenangkan jiwa yang gelisah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dzikir berfungsi sebagai pengingat akan kebesaran Allah, sebagai penyejuk hati, yang mampu meredakan kegelisahan dan kegelisahan.
Baca Juga : Wacana Gender dalam Memposisikan Pekerja Migran Perempuan di Indonesia
Namun, perlu dicatat bahwa meskipun dzikir memiliki manfaat spiritual yang luar biasa, ia tidak serta merta dapat menyelesaikan kecemasan yang bersumber dari masalah-masalah yang lebih praktis dan terstruktur, seperti menangani masalah ekonomi atau ketidakstabilan sosial. Dzikir sebagai suatu bentuk ibadah tentu mendekatkan seorang hamba kepada Allah, namun ia harus dipandang sebagai bagian dari usaha holistik untuk mengatasi kecemasan. Dalam hal ini, perhatian terhadap realitas sosial dan ekonomi yang lebih besar tetap menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Kesimpulannya, Tafsir Al-Misbah dan Ibnu Katsir memberikan perspektif yang mendalam mengenai bagaimana seorang muslim dapat mengelola kecemasan dengan berserah diri kepada Allah, meyakini takdir, dan melakukan dzikir sebagai upaya untuk menenangkan hati. Namun, penerapan ajaran-ajaran ini dalam kehidupan modern yang penuh tantangan dan tantangan memerlukan penyesuaian dan pemahaman yang lebih dalam. Tawakal dan dzikir, meskipun sangat penting, tidak dapat dipisahkan dari upaya konkret untuk memperbaiki keadaan dan menghadapi masalah sosial yang seringkali menjadi sumber utama kecemasan. Oleh karena itu, ayat-ayat ini mengajarkan kita untuk tidak hanya berserah kepada Allah, tetapi juga melakukan upaya nyata dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks.
Referensi:
Ibnu Katsir, Ismail. Tafsir al-Qur\'an al-Azim. Jilid 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1999. (Rangkuman Tentang Kegelisahan)
Raihanah Al-Khathir. Psikologi Islam dalam Menghadapi Masalah Hidup. Jakarta: Penerbit Ilmiah, 2015
M.Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur\'an. Jakarta:
Lentera Hati, 2002.

