(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Sisa Umur untuk Ibadah: Temu Kangan Alumni PGA Tuban 1977

Khazanah

Tanpa terasa usia sudah merambat ke arah yang lebih senior, tidak disebut tua, karena rerata usia kawan-kawan alumni Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Tuban itu sudah di atas 65 tahun. Kita itu lulus tahun 1977 dan kebanyakan sudah pension. Maklumlah rata-rata adalah guru agama di sekolah atau madrasah, baik Sekolah dasar, sekolah menengah dan ada juga yang berwirausaha. Bahkan dari alumni tahun 1977 itu juga sudah banyak yang wafat mendahului kawan-kawannya. Sudah menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah sebanyak 24 orang yang wafat, dan sisanya yang masih hidup lalu hadir pada acara reunian ini. 

  

Kang Muslih, kawan kita yang paling ganteng hingga sekarang,  yang menjadi master of ceremony. Bersama istrinya, Luluk, Cak Muslih hadir. Jauh-jauh dari Lamongan, tepatnya di Desa Kalen Babat Lamongan. Biasa di dalam acara begini kita saling merosting. Gojlokan parikena sebagai pertanda keakraban. Yang jauh misalnya Sami’an bersama istrinya dari Surabaya, Siti Asiyah atau Evi konon katanya dari Yogyakarta, dan banyak dari sekitar Tuban. Hadir di acara ini adalah Kang Shofwan, Kang Makmun, Kang Poniran, Kang Mukahar, Kang Nursaid, Kang Kasturi, Kang Hardi, Kang Imam Suyuti, Kang Samsul Hadi, Kang Hifni, Mbak Munthaharoh, Mbak Infatini, Mbak Bawuk EWR, Mbak Yunanik, Mbak Manik dan ada lainnya yang maaf tidak saya sebutkan namanya. Tentu saja Mbak Kasniti dan suaminya, Mas Hariyadi. Tidak terasa bahwa  banyak sahabat kita yang sudah wafat, yaitu Haji Nashir, Kang Ismail, Kang Warpin, Kang Imam Sukoco, Kang Tarmuji, Kang Sriyono, Kang Sonhaji, Kang Rohmat, Kang Solahuddin, Kang Muttaqin, Kang Nurali, Kang Imam Sukoco, Mbak Marfuatun, Mbak Zulaikhah, Mbak Latifah, Mbak Umi  Fatimah dan lainnya. Sementara ada sahabat kita yang sakit,  Kang Muhith. 

  

Ada tiga hal yang saya sampaikan, Yaitu: pertama, kita ini patut bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, masih bisa bernafas, masih bisa merasakan makanan, bahkan juga masih bisa minum air legen, minuman khas Tuban. Allah masih memberikan peluang kita hidup, artinya masih diberi peluang untuk beribadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Saya jadi teringat bagaimana “kendablegan” sahabat-sahabat saya ini, Kang Hardi, Kang Muslih, kang Imam Suyuti, dan yang lain tidak saya sebut khawatir kuwalat, yang di masa lalu saya kenal betul perilakunya, tetapi alhamdulillah sekarang menjadi orang baik semua. Saya tidak menduga Kang Muslih menjadi da’i, Kang Hardi menjadi orang tua yang bertanggungjawab, Kang Imam menjadi aktivis organisasi keagamaan dan ahli dzikir. Dan yang penting semua keluarganya menjadi orang baik-baik. Itu semua tentu berkat ilmu yang diperolehnya di bangka sekolah. Ndableg boleh, gak belajar oke, tetapi kala sudah jadi orang akhirnya menjadi orang yang terbaik. Ada yang menjadi guru, menjadi pengusaha, menjadi kepala desa yang semuanya bermanfaat bagi orang lain. Semua menjadi orang yang diidentifikasi oleh Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai khairun nas ‘anfauhum lin nas.” Subhanallah.

  

Kedua, semuanya sudah pensiun dari pekerjaannya karena factor usia. Tetapi kita masih  terikat dengan silaturrahim yang kental. Jika saya membaca WAG Alumni PGA ini saya ikut merasa gembira. Ada yang bersama-sama menikmati kopi di warung kopi (warkop) yang cukup jauh dari rumah. Mereka naik sepeda motor dengan senangnya. Mereka berjalan dengan kesederhanaannya: minum kopi, makan nasi lodeh atau nasi pecel, bahkan terkadang makan singkong rebus atau pisang goreng sambil nyanyi di warkop. Lagu-lagu nostalgia, seperti Koes Plus, Panbers, atau Mercy Band, juga lagu-lagu dangdut, Bang Haji Rhoma Irama. Sungguh sebuah kebahagiaan. Anak-anak sudah jadi orang, cucu-cucu sudah pada sekolah, maka sekarang menikmati dunianya dengan senda gurau dan cengkerama. Saya terkadang iri melihatnya. Semua tersaji di WAG yang menjadi tempat untuk saling menyapa. 

  

Sama dengan reunian kita ini, maka dendangan lagu-lagau nostalgia juga terdengar merdu. Jika Siti Asiyah alias Evi memang ahli menyanyi, demikian juga Kang Makmun, tetapi kala Kang Hifni juga menyanyi lagunya Deni Iskandar, orang Madura, maka saya bergumam bahwa hal ini karena seringnya bertemu di warkop. Reunian adalah wahana untuk saling mengenang masa lalu, masa sekolah, masa penuh romantika, masa penuh dengan gejolak anak muda. Ada yang cintanya ditolak, ada juga yang bercinta tetapi tidak tahan lama, dan ada yang sungguhan. Rasanya seperti kembali di tahun 1976-1977. Rekreasi yang penuh pesona, canda ria yang penuh kemesraan dan kasih sayang berbasis persahabatan. Indah sekali. 

  

Ketiga,  berdasarkan rata-rata usia orang Indonesia itu 68 tahun. Artinya kita juga berada di tahun itu. Kita sudah rata-rata usianya 66 tahun. Tentu harapan kita bisa berusia di atas 80 tahun. Sudah saatnya kita berdoa: “Allahumma thawil umurana, wa shahih ajsadana, wa nawwir qulubana wa tsabbit Imana.” Ya Allah panjangkan usia kita, sehatkan jasad kita, cahayai hidup kita dan tetapkan iman kita”. Doa ini penting agar kita menjadi orang yang panjang usia tetapi sehat, penuh Cahaya Allah dan tetap dalam keimanan kepada Allah SWT. 

  

Insyaallah kita semua ini menjadi orang yang baik, sebab kita telah beriman kepada Allah SWT dan tetap di dalam keimanan tersebut. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyatakan: “Qul amantu billahi tsummastaqim”, yang artinya  “katakanlah aku beriman kepada Allah dan kami istiqamah atasnya.” Kita semua berada di dalam makna hadits ini. Kita meyakini dengan sepenuh hati akan Allah sebagai Rabb kita dan kemudian kita menjalankan perintah Allah untuk kita jalani. 

  

Hari ini, senin 12/05/2025, kita hadir di rumah sahabat kita, Mbak Kasniti untuk mengekspresikan kesyukurannya atas nikmat Allah yang tiada tara. Mas Har barusan operasi di kepala karena ada gumpalan darah. Pasca operasi tidak sadarkan diri selama 10 hari. Tetapi ada yang menarik, bahwa di kala “seperti koma” tersebut dari mulutnya selalu hadir bacaan Surat Al Ikhlas. Tubuhnya tidak bergerak, seperti orang tidur, tidak bisa berbicara tetapi mulutnya melafalkan ayat demi ayat dari Surat Al Ikhlas. Dia sadar karena seperti mendengar suara adzan shubuh dalam lafal asshalatu khairum minan naum.  Mas Har, begitu saya memanggilnya,  memang memiliki amalan istiqamah, yaitu one day one juz bada shalat shubuh dan setelah itu bersepeda. Inilah amalan-amalan yang dilakukan oleh Mas har, sehingga pertolongan Allah menaunginya. Subhanallah

  

Apa yang saya ceritakan ini adalah ibrah bagi kita semua, mungkin ada di antara kita yang sudah mengamalkannya dan ada yang mungkin belum. Tetapi satu hal sebagaimana dinyatakan oleh Kang Muslih, bahwa kita perlu mendawamkan membaca shalawat karena shalawat adalah pintu terbukanya syafaat dari Rasulullah SAW.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.