Bahtera Penyelamat Kita: Mengenal Safinah al-Naja dan Penulisnya

Daras Fikih

Oleh: Khobirul Amru

(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

   

Dengan mengharap rida Allah SWT, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Safinatun Naja yang akan kita kaji bersama. Berkah surah pembuka al-Qur’an yang mulia itu, semoga Allah SWT menganugerahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Untuk beliau, al-Fatihah.

  

Sketsa Biografi Sang Penulis

  

Beliau bernama lengkap al-Syekh Salim bin ‘Abdullah bin Sa‘d bin ‘Abdullah bin Sumayr al-Hadhrami al-Syafi‘i, dilahirkan di desa Dzi Ashbah, Hadhramaut. Sebagaimana tradisi keilmuan di Hadhramaut yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga, beliau pun dididik langsung oleh sang ayah, al-‘Allamah al-Mu‘allim ‘Abdullah bin Sa‘d bin Sumayr. Mulai dari al-Qur’an hingga al-‘Ulum al-Syar‘iyyah (ilmu-ilmu syariat). Namun yang disebutkan terakhir ini, tidak jelas mengacu pada disiplin ilmu apa, karena memang para penulis biografi beliau hanya menyebutkan demikian, secara global. Tetapi, jika dipahami secara saksama, jelas bahwa al-‘Ulum al-Syar‘iyyah itu “paling tidak” bermuara pada 3 disiplin ilmu utama, yakni akidah, fikih dan akhlak/tasawuf.

  

Selain kepada ayahnya sendiri, al-Syekh Salim juga ngangsu kaweruh kepada para ulama Hadhramaut yang masih sugeng pada waktu itu (abad ke-13 H), seperti  al-Sayyid ‘Umar bin Saqaf bin Muhammad bin ‘Umar bin Taha al-Shafi dan al-Sayyid ‘Umar bin Zein bin Smith. Kelak ketika beliau mendapat izin untuk mengajar, banyak pula para murid yang berdatangan untuk menimba ilmu dari mata air ilmu beliau. Di antaranya yang paling masyhur adalah al-Sayyid al-Habib ‘Abdullah bin Taha al-Haddar al-Haddad dan al-Syekh al-Faqih ‘Ali bin ‘Umar Baghuzzah.

  

Di Hadhramaut, al-Syekh Salim terkenal dengan julukan al-Mu‘allim (guru ngaji). Menurut banyak sumber, julukan itu adalah istilah khusus made in Hadhramaut yang disematkan kepada ulama yang sibuk “ngajar ngaji” (al-Qur’an). “Saya rasa”, kata al-Sayyid ‘Umar bin Hamid al-Jilani, “Julukan itu mereka ambilkan dari hadis Nabi SAW yang di-takhrij dalam Sahih al-Bukhari melalui riwayat ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.’”

  

Menariknya, selain dijuluki al-Mu‘allim, al-Faqih (ahli fikih) dan al-Qadhi (hakim), al-Syekh Salim juga dijuluki sebagai al-Siyasiy (ahli politik) dan al-Khabir bi al-Syu’un al-‘Askariyyah (pakar dalam urusan ketentaraan). Hal ini terbukti antara lain dengan ditugaskannya beliau untuk memilih panglima militer bagi Negara Katsiri (al-Daulah al-Katsiriyyah), membeli beberapa peralatan militer modern dari Singapura yang kemudian dikirimkan ke Hadhramaut dan menjadi salah seorang tokoh yang berhasil merekonsiliasi antara Yafa dan Negara Katsiri.

  


Baca Juga : Ukhuwah Islamiyah untuk Indonesia Masa Depan

Tidak berhenti sampai itu, beliau pun bahkan terpilih menjadi penasehat Sultan ‘Abdullah bin Muhsin. Bahwa Sang Sultan tidak akan memutuskan suatu perkara melainkan meminta pertimbangan, pandangan dan arahan terlebih dahulu dari beliau. Kelak, ketika Sang Sultan menyalahi arahan beliau, al-Syekh Salim memutuskan untuk berkelana ke negeri India, kemudian Jawa, sebagai bentuk “kemarahan” beliau. Pada akhirnya, di tanah jawa ini lah beliau menetap dan berdakwah hingga akhir hayatnya.

  

Adapun mengenai “kekeramatan” beliau, al-Syekh Ahmad al-Hadrawi al-Makki menyebutkan bahwa beliau pernah mengkhatamkan al-Qur’an saat sedang tawaf di Masjidil Haram. Subhanallah. Akhirnya, pada tahun 1271 H, beliau meninggal dunia di Batavia (Jakarta) dan disarekan di sana. Di samping Safinah al-Naja, beliau juga mewariskan beberapa karya untuk umat Islam, di antaranya yang paling terkenal adalah al-Fawa’id al-Jaliyyah fi al-Zajr ‘an Ta‘athi al-Hiyal al-Ribawiyyah.

  

Selayang Pandang Tentang Safinah al-Naja

  

“Bahtera Penyelamat”, demikian kurang lebih makna judul kitab ini bila diterjemahkan. Dari segi genre, kitab ini adalah penjelasan ringkas seputar fikih ibadah bermadhab al-Syafi‘i. Lebih lanjut, al-Syekh Salim memulai penjelasannya dari Ushul al-Syari‘ah seperti rukun islam dan iman; hal-hal yang berkaitan dengan sesuci (al-Thaharah), salat, dan zakat. Nah, pada persoalan zakat ini lah, beliau mengakhiri kitabnya.

  

Atas dasar itu lah, tidak mengherankan bila kemudian al-Syekh Nawawi al-Jawi menambahkan penjelasan tentang puasa ketika beliau men-syarah kitab Safinah al-Naja ini. Demikian juga al-Ustadz ‘Ali Ba‘athiyyah yang menambahkan penjelasan tentang ibadah haji.

  

Kembali pada Safinatun Naja. Meskipun tergolong ringkas, kitab ini telah terbukti memberi manfaat yang luar biasa kepada umat Islam, khususnya para pelajar pemula (mubtadi‘in) di kalangan al-Syafi‘iyyah. Saking hebatnya, tercatat lebih dari 10 ulama yang memberi perhatian khusus pada kitab ini, baik dengan menazamkannya maupun men-syarah-nya.

  

Lebih lanjut, menurut al-Syekh Muhammad bin Ahmad ‘Amuh, di antara ulama yang menazamkan kitab ini adalah sebagai berikut:

1. al-‘Allamah al-Sayyid ‘Abdullah bin ‘Ali bin Hasan al-Haddad

2. al-‘Allamah al-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin ‘Alwi Ba‘aqil


Baca Juga : Money Politics: Kegagalan Reformasi (Bagian Ketiga)

3. al-‘Allamah Siddiq bin ‘Abdullah al-Bathuhani al-Lasimi

4. al-‘Allamah Ahmad bin Siddiq al-Lasemi (Tanwirul Hija Nadzm Safinah al-Naja)

5. al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Zakin al-Kandi (al-Lu’lu’ah al-Tsaminah)

6. al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad (al-Sabhah al-Tsaminah)

  

Sedangkan di antara ulama yang men-syarah kitab ini, menurut al-Syekh Muhammad ‘Amuh, adalah sebagai berikut

1. al-‘Allamah Muhammad ‘Umar Nawawi al-Jawi al-Makki (Kasyifah al-Saja)

2. al-‘Allamah Ahmad bin Muhammad al-Hadhrawi (al-Durrah al-Tsaminah Hasyiyah ‘ala al-Safinah)

3. al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad bin ‘Umar al-Syathiri (Nail al-Raja)

4. al-‘Allamah ‘Abdullah bin ‘Iwadh bin Mubarak Bukair (Nasim al-Hayah)

5. al-‘Allamah Muhammad ‘Ali bin Husein al-Maliki (Inarah al-Duja bi Tanwir al-Hija)

6. al-‘Allamah Hasan bin ‘Umar al-Syirazi (Wasilah al-Raja)

7. al-‘Allamah ‘Utsman bin Muhammad Sa‘id Tankal (Sullam al-Raja)

8. al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Ba‘athiyyah (al-Durrah al-Yatimah Syarah al-Sabhah al-Tsaminah)

9. al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Ba‘athiyyah (Ghayah al-Muna)

  

Demikian lah terlihat berkah keikhlasan al-Syekh Salim ketika menulis kitabnya, Safinah al-Naja. Wa Allahu A‘lam.

  

Catatan:

Semua keterangan dalam tulisan ini bersumber dari al-Sayyid Muhammad bin Hamid al-Jilani dalam Matn Safinah al-Najah (Dar al-Minhaj, 2009) dan al-Syekh al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad ‘Amuh dalam kitab beliau yang berjudul Manar al-Huda Syarah Safinah al-Naja (Dar al-Maturidiyyah).