(Sumber : NU Online )

Ngaji dan Diskusi Kitab Ihya\' Ulumuddin Melalui Media Twitter

Daras Fikih

Oleh: Ro’fat Hizmatul Himmah, M.Pd.I

Mahasiswa Progam Doktoral Studi Islam UIN KHAS Jember 

  

Kitab Ihya’ Ulumuddin merupakan kitab karangan Imam Al-Ghazali yang bisa dikatakan sebagai kitab yang fenomenal dikalangan santri. Sesuai dengan namanya, kitab ini terdiri dari 4 jilid atau empat rubu’ yaitu rubu’ al-ibadat, rubu al-adat, rubu’ al-muhlikat, dan rubu’ al-munjiyat. Kerangka pemikiran Imam Al-Ghazali dalam setiap jilid ini kemudian dikembangkan dalam sepuluh pembahasan yang disusun secara kritis dan sistematis. 

  

Jika pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin di pesantren identik dengan teacher learning centre sebagaimana yang diungkapkan oleh Santrock, dimana santri hanya bersifat pasif dan maknani kitab sembari mendengar penjelasan kyai yang merupakan role model yang harus dipatuhi untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Apalagi pengajian ini dilakukan bersama teman-teman, bersama semilir nuansa tenang yang menyihir mata antara mengantuk dan terjaga, adalah hal-hal yang memang menjadi daya tarik tersendiri bagi santri yang notabene tinggal di pondok pesantren. 

  

Namun entah mengapa hal ini menjadi menyedihkan ketika santri akhirnya menjadi alumni, yang mana diketahui bahwa tidak semua santri lulusan pesantren akan menjadi kyai atau ustadz/ustadzah yang dapat dengan mudah mengaji kitab Ihya’ Ulumuddin di rumah. Maka dari itu perlu adanya suatu wadah yang dapat mempersatukan alumni yang senang mengaji kitab Ihya’ Ulumuddin, atau santri yang sudah menghatamkan ngaji kitab Ihya’ Ulumuddin namun ingin tetap istiqomah mengaji, atau bahkan santri yang berada jauh di mata namun selalu ingin dekat dengan teman-temannya yang memiliki hobi yang sama, yang kemudian dipersatukan dalam satu tempat, waktu, dan suasana yang tentunya dengan pendekatan yang lebih aktif, kreatif, dan inovatif.

  

Menyikapi hal tersebut ternyata para alumni santri, khususnya Ma’had Aly Darussalam Blokagung setiap malam jum’at rutin melakukan siaran live pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin melalui media twitter dengan menggunakan fitur space dan thread (utas) di twitter. Fitur spaces adalah fitur baru twitter yang hampir mirip podcast yang ada pada aplikasi spotfy karena hanya mengandalkan suara dan tidak ada video conference, namun lebih interaktif seperti fitur live yang ada pada instagram ataupun facebook karena dapat berkomunikasi dua arah, dapat direkam yang secara otomatis serta tersimpan dalam twitter, dan juga dapat didownload sehingga memudahkan pengguna lain untuk memutar ulang dimanapun dan kapanpun. 

  

Pengajian online ini diawali dengan mengaji jilid tiga atau rubu al-muhlikat kitab Ihya’ Ulumuddin yang berisi tentang penyakit hati yang perlu diwaspadai. Sebelum live, pamflet ngaji online ini telah disebarkan melalui berbagai media social dengan tujuan untuk menjangkau lebih banyak orang-orang umum yang berkeinginan mengikuti pengajian tersebut. Bersamaan dengan itu juga telah ditentukan siapa yang akan menjadi presenter yang mana diambil dari kalangan santri alumni Ma’had Aly Darussalam Blokagung. Selain itu, juga telah ditentukan maqro’ atau materi yang akan dibahas.

  

Adapun proses ngaji dan diskusi kitab Ihya’ Ulumuddin melalui media twitter yaitu pertama moderator atau dalam twitter dinamakan host, yang biasanya merupakan admin akun @Mustashfa21 memulai live dengan membuat space yang ada pada timeline twitter sembari menunggu peserta pengajian online hadir. Karena live space minimal harus dihadiri 13 orang. Kedua, host selanjutnya memilih co-host untuk berbicara. Co-host di twitter adalah presenter yang akan menyampaikan pengajian Ihya’ Ulumuddin baik dari membaca maqro’, memberikan murod sehingga apa yang dibaca dapat memahamkan, dan nanti akan diberi kesempatan juga untuk menjawab pertanyaan peserta pengajian online. Ketiga, host akan memberikan mic dan mempersilahkan para pendengar untuk bertanya ataupun menanggapi apa yang disampaikan oleh presenter, karena tanpa izin dari host mereka tidak dapat berbicara. Keempat, dapat dikatakan sebagai sesi pentashih. Dimana terdapat seorang ahli (kyai) yang menjadi penengah dalam mengevaluasi dan memperjelas sesi diskusi. Dalam live ini, pentashih tersebut adalah Habib Zen dengan nama akun twitter @KitabHikam yang memiliki followers twitter sebanyak 27.990.

  


Baca Juga : Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bukan Bahan Candaan

Dari uraian yang telah dipaparkan dapat diketahui bahwa ternyata mengaji kitab Ihya’ Ulumuddin melalui twitter cukup menarik dan terdengar jarang dilakukan oleh orang-orang, khususnya para alumni santri. Santri alumni Ma’had Aly Darussalam Blokagung ini ternyata tidak serta-merta hanya memanfaatkan pengajian online sebagai ajang ikut-ikutan, namun dapat dilihat bahwa hal ini merupakan hasil dari brainstorming terhadap nasehat pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung yang ada di Banyuwangi yakni KH. Muhammad Hasyim Syafa’at. Nasehat tersebut adalah sebagai berikut:

  

“Alumni-alumni lanjutno ngaji Ihya’! Gak usah mikir karo sopo, minimal karo bojone. Gak usah mikir khotam. Lek ma’nane gak iso, gak usah dipiker. Penting gawe en wiritan raketang 5 menit.” 

   

(Alumni-alumni lanjutkanlah mengaji Ihya’. Tidak perlu berpikir (mengaji) dengan siapa, minimal dengan pasangannya. Tidak perlu berpikir khatam. Ketika tidak mengetahui maknanya, tidak perlu dipikirkan. Penting jadikan wiritan meskipun 5 menit)

  

Berdasarkan hal tersebut, ini dapat diindikasikan bahwa para alumni dianjurkan untuk tetap cinta dan istiqomah dalam mengaji, apalagi kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang masyhur dikenal sebagai Hujjat al-Islam. Selain mendapatkan keberkahan dari rasa senang dan keistiqomahan, hal ini juga dapat mempererat suhbah dan ukhuwah para santri yang telah menjadi alumni. Senada dengan hal tersebut Nabi Muhammad Saw. bersabda: 

  

يُحْشَرُ الْمَرْءِ عَلٰى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ اَحَدَكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

  

“Seseorang akan dikumpulkan mengikuti agama kekasihnya (teman dekatnya), maka hendaklah seseorang memperhatiakan dengan siapakah ia berteman.”

  

Sebagai penguat dari apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Allah telah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 67 yaitu:

  

الْاَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ (الزخرف: ٦٧)

  

 “Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

  

Az-Zuhaili menafsirkan ayat ini dengan teman-teman di dunia, dimana orang yang saling mengasihi akan saling memusuhi dan membenci di akhirat, sebab masing-masing dari mereka berpendapat bahwa bahaya yang menimpanya disebabkan oleh temannya. Kecuali orang-orang yang bertakwa kepada Allah, dimana persahabatannya terus berlanjut di akhirat karena mereka saling memberi manfaat satu sama lain.