Kajian Zubdah al-Itqan: Kehebatan Bahasa al-Qur’an

Daras Tafsir

Oleh: Khobirul Amru

(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

 

Dengan memohon rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk pengarang kitab Zubdah al-Itqan, al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki al-Hasani. Untuk beliau, al-Fatihah.

 

Sebelumnya, Abuya telah menjelaskan fungsi al-Qur’an yang antara lain sebagai saksi atas kerasulan Nabi Muhammad SAW dan dalil atas kejujuran dan keamanahan beliau. Kali ini, beliau melanjutkan: Ia (al-Qur’an) adalah benteng/perlindungan agama yang luhur. Islam menyandarkan kepadanya dalam hal akidah-akidah, ibadah-ibadah, hikmah-hikmah, hukum-hukum, adab-adab, akhlak-akhlak, kisah-kisah, nasihat-nasihat, ilmu-ilmu dan pengetahuan-pengetahuan. Dia lah pedoman bahasa Arab yang tinggi. Bahasa (Arab) itu berutang budi padanya, baik perihal keabadian maupun keselamatannya. Ilmu-ilmu bahasa Arab pun dengan berbagai macam variannya bersumber darinya (al-Qur’an). (Bahkan) bahasa itu mengungguli bahasa-bahasa yang lain berkat al-Qur’an, baik dalam gaya bahasa maupun materi-materinya (kosakatanya).

 

Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita pahami dari penjelasan Abuya di atas. Pertama, bahwa al-Qur’an merupakan sumber primer dari agama Islam. Ajaran apa pun yang terdapat di dalamnya, mulai dari akidah hingga ilmu dan pengetahuan, “bersandar” kepada al-Qur’an. Pada konteks ini, ‘Izzah Darwazah menjelaskan: 

 

Tidak lah mengherankan bila al-Qur’an menjadi kesibukan manusia di setiap waktu dan tempat, selama 13 abad yang lalu dan sampai waktu yang Dia kehendaki dari masa dunia ini. Tidak mengherankan pula bila semua orang berlomba-lomba menulis tentangnya, mulai dari para penulis (al-Kuttab), para ulama, para reformis, dan para peneliti, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Bahkan, tidak mengherankan bila pada setiap hari diterbitkan satu kitab (yang membahas) tentangnya.

 

Ia lah kitab suci umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Di dalamnya terdapat pokok-pokok ajaran agama, syariat-syariat kehidupan, mata air ilham, pelita akhlak dan cahaya petunjuk mereka, di semua lini kehidupan mereka yang berbeda-beda, baik agama dan dunia; ruh dan materi; umum dan khusus; maupun politik, hukum, sosial, individu dan kemanusiaan.

 

Kedua, bahwa al-Qur’an merupakan pedoman bahasa Arab. Dalam artian, segala macam cabang ilmunya bersumber dari al-Qur’an. Hal ini sebagaimana dipahami dari penjelasan Abuya di atas, “Ilmu-ilmu bahasa Arab pun dengan berbagai macam variannya bersumber darinya (al-Qur’an).” Sebagai contoh, ilmu al-Ma‘ani, al-Bayan dan al-Badi‘. Ketiga cabang dari ilmu Balaghah ini pun bersumber dari al-Qur’an. Syekh ‘Abdurrahman Hasan Habannakah, dalam konteks ini, dengan tegas menuliskan:

 


Baca Juga : New Liberal Education: UINSATU Untuk Bangsa (2)

Maka, sebagai bentuk khidmah kepada al-Qur’an, Kitab Allah yang mulia, dan usaha serius dalam menampakkan beberapa sisi kemukjizatan bayani-nya; para ulama muslimin bersungguh-sungguh meneliti, menggali dan mengekstrakkan, hingga mereka meletakkan dasar ilmu-ilmu Balaghah yang tiga itu, yakni al-Ma‘ani, al-Bayan dan al-Badi‘. Para peneliti pun tidak henti-hentinya mengkaji, menguraikan dan menyingkap unsur-unsur I‘jaz al-Qur’an al-Bayani yang belum pernah disingkap sebelumnya oleh para pendahulu.

 

Menariknya, meskipun al-Qur’an berbahasa Arab dan semua cabang ilmu bahasa Arab bersumber darinya, akan tetapi keindahan kalimat dan gaya bahasanya seringkali terasa “asing” (gharib), bahkan menyalahi gaya bahasa orang-orang Arab sendiri. Namun justru itu lah letak kemukjizatan al-Qur’an. Demikian dikatakan oleh al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H), sebagaimana yang dikutip oleh Abu Zahrah.

 

Ketiga, bahwa bahasa Arab mengungguli bahasa-bahasa lain, sedunia. Hal ini dipahami dari penjelasan Abuya, “bahasa (Arab) itu mengungguli bahasa-bahasa yang lain berkat al-Qur’an, baik dalam gaya bahasa maupun materi-materinya (kosakatanya).” Tentu, bila dikaji secara serius, maka akan didapati beberapa keistimewaan bahasa Arab sehingga ia terpilih menjadi bahasa al-Qur’an, bahasa kitab suci terakhir yang diturunkan. Namun, bukan di sini tempatnya menguraikan. Hanya saja, sebagai bahan perenungan, patut lah kiranya penulis kutipkan beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan hal tersebut.

 

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Surah Ibrahim [14]: 255)

 

Sesungguhnya kami menurunkannya berupa al-Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengeri. (Surah Yusuf [12]: 2)

 

Dan sekiranya al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab, niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, “al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan dan (al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Surah Fushshilat [41]: 44)

 

Dan sebelum (al-Qur’an) itu telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan (al-Qur’an) ini adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surah al-Ahqaf [46]: 12)

 

Waallahu a‘lam bishshowaab

 

Demikian kajian kitab Zubdah al-Itqan pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang telah kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah, serta bisa kita lanjutkan pada kesempatan-kesempatan berikutnya. Allaahumma aaamiin, wa shollaahu ‘ala sayyidina al-mushtofa. 

 

Referensi:

 

Muhammad ‘Izzah Darwazah, al-Qur’an al-Majid (Beirut: Manshurat al-Maktabah al-‘Ashriyyah, t.t.), 5.

 

‘Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maydani, al-Balaghah al-‘Arabiyyah: Ususuha wa ‘Ulumuha wa Fununuha (Damaskus: Dar al-Qalam, Beirut: al-Dar al-Syamiyyah, 1996), vol. 1, 5.

 

Muhammad Abu Zahrah, al-Mu‘jizah al-Kubra: al-Qur’an (t.tp.: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.t.), 90.