(Sumber : Nur Syam Centre)

Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Lirik lirik Lagu Dangdut Rhoma Irama. (bagian 2 habis)

Opini

Oleh : Dr.H.Saefudin Latief.M,Si

(Ketua DPW Forsa Sumatera Selatan)

  

Musik Sebagai Media Dakwah

  

Sebelumnya telah disinggung bahwa, dalam merevolusi dangdut, Rhoma Irama telah mengokohkan eksistensinya di jalur musik dangdut sebagai media dakwah yang dinilai oleh Rhoma sangat efektif. Pada tanggal 13 Oktober 1973, ia mendeklarasikan Soneta dan berkomitmen membawa nilai-nilai Islam di jalan musik. Rhoma mencanangkan semboyan The Voice of Moslem (Suara Muslim) sebagai sarana dakwah. Citra Soneta terus dibangun, hingga pamor Soneta kian terang. Rhoma bertekad untuk menjadikan musik sebagai media dakwah bukan karena faktor kebetulan, tetapi karena panggilan agama, serta kegelisahannya melihat kehidupan masyarakat pada saat itu,  khususnya para pemuda yang banyak terpengaruh budaya Barat, seperti minuman keras, rambut panjang, pakaian seenaknya, kelakuan seenaknya, identik dengan pergaulan bebas dan sebagainya. Musik dangdut tidak seperti musik pada umumnya yang menjadi media hiburan semata, tapi juga berfungsi sebagai media dakwah. 

  

Musik yang memang memiliki bahasa universal, berhasil mengantarkan musik dangdut sebagai media menyampaikan pesan dakwah sekaligus sebagai kritik sosial. Musik dangdut dengan segala kekuatan sosial yang dimilikinya mampu menyampaikan bahasa cinta dan pesan agama (dakwah) pada khalayak yang luas. Musik yang salah satunya berakar pada irama (musik) Melayu ini pada tahun-tahun 1950-an hingga 1960-an liriknya bertema percintaan. Baris-baris syairnya pun berupa cenderung puitis dan terdapat gaya bahasa metaforis.

  

Kondisi ini berubah ketika pada awal tahun 1970-an, aliran musik Rock diadaptasi dalam irama Melayu dalam bentuk kostum, alat musik serta gaya panggung (Kompas, 15 Mei 1985). Pengaruh musik Rock ini mengubah karakter irama Melayu menjadi lebih atraktif, variatif dan agresif, terutama dalam baris-baris syairnya. Perubahan ini seakan tidak terlepas dari unsur sifat agresif dari seni musik yang berbahasa universal. Sifat seni yang agresif kemudian dimanfaatkan oleh Rhoma Irama bersama Soneta Grup untuk menyampaikan dakwah kebangsaan. Rhoma melakukan perubahan karakter lirik pada lagu-lagu gubahannya agar dapat menyejajarkan diri dengan aliran musik lainnya. Lirik lagu dangdut yang semula diwarnai tema cinta, mulai diwarnai dengan tema-tema sosial, ketakwaan dan sebagainya. Seorang cendekiawan Muslim pada masa itu, Dawam Rahardjo, menyatakan bahwa lagu-lagu Rhoma Irama mengandung kritik sosial yang vulgar sehingga dianggap komunikatif. Lebih dari itu, yang paling menarik perhatian Dawam adalah keberanian dan kemampuan Rhoma Irama dalam memadukan irama Melayu dengan Rock sekalipun dengan lirik-lirik yang bernafaskan Islam. 

   

Terdapat asumsi bahwa faktor pendorong utama adanya perubahan karakter syair irama Melayu, yaitu adanya pemberian julukan atas musik ini dengan musik dangdut. Sebuah nama yang merendahkan karena menjuluki atas peniruan atau bunyi instrumen utama musik, yakni  ketipung, yang di telinga terdengar dang dan duut. Artinya, musik ini dianggap sebagai musik rendahan dan kurang bermutu seperti tercermin dari olok-olok yang muncul dalam pemberian julukan pada jenis musik ini. Realistasnya, memang ada syair lagu dangdut yang seakan ditulis apa adanya dengan syair-syair yang lugas dan sangat mudah dicerna.

  

Bagi Rhoma, adanya syair yang terlalu lugas tidak menjadi masalah selama syair tidak bersifat destruktif dan memuat selera rendah akan dibiarkan karena seni memiliki otonomi sendiri. Konsekuensi dari kelugasan syair lagu dangdut adalah penggemarnya menjadi sangat luas terutama di kalangan menengah ke bawah. Pendek kata, Soneta Group telah memberi warna dominan dalam perkembangan musik dangdut di Indonesia. Sebagai sebuah grup musisi dangdut (OM, Orkes Melayu) yang terdepan, Rhoma Irama dan Soneta Group memang telah menunjukkan kelasnya sendiri. Jika ditilik dari segi aransemen musik, lagu-lagu yang dihasilkan oleh Soneta Group berhasil memasukkan beberapa aliran musik baik dari Barat maupun Timur, seperti Rock, Kuracha, dan tentunya dari Melayu sendiri. Sedangkan dari sisi syair sangat bervariasi, misalnya lirik-lirik cinta, kritik sosial, pesan moral (keagamaan), nasionalisme dan sebagainya. Syair-syair lagu Soneta Group baik yang bertemakan dakwah maupun nasionalisme, merupakan salah satu langkah Rhoma Irama untuk menyampaikan pesan dalam lagu-lagunya.

  


Baca Juga : NU di Tengah Arus Kepentingan

Lirik Lagu dan Nilai-Nilai Sosial Keagamaan

  

Tahun 1975 adalah tahun terpenting bagi perkembangan musik ini. Pada tahun ini, Rhoma secara mengejutkan mengumumkan rencananya pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima yakni ibadah haji. Pakaiannya pun tidak lagi kemeja ketat dan celana cutbrai, tetapi dikenakannnya pakaian kemeja longgar dan kerap menyelipkan surban di bahunya. Nafas agama makin terasa sepulang dari naik haji. Soneta Group sempat akan berganti nama menjadi Haji Sembilan, mengabadikan tokoh Walisongo yang menyebarkan Islam dengan wayang dan gamelan. Namun, rencana ini batal karena anggota Soneta hanya delapan. Tahun itu, Rhoma bilang kepada anggota grup, "Mulai hari ini, tidak ada lagi yang meninggalkan shalat, tidak ada lagi botol minuman di pentas musik, yang mau ikut, jabat tangan saya, yang tidak, silakan keluar." Semua anggota Soneta mengikuti Rhoma. Periode Oma sebagai Rhoma adalah periode ketertarikan sang biduan pada Islam. Tambahan R (raden), H (haji) menjadi Rhoma.

  

Istilah Dangdut sebenarnya digunakan untuk merendahkan Musik Melayu yang berasal dari dominasi gendang. Sekarang, dangdut merupakan salah satu jenis musik yang terus bergema di dunia hiburan. Jika ditinjau dari segi intensitas, pertunjukan baik di televisi, panggung pertunjukan langsung, dan acara keseharian, dangdut memiliki porsi sama besar dengan jenis musik lainnya seperti pop dan rock. Musik dangdut berkembang seiring dengan perkembangan elektronik yang menyentuh dunia musik Indonesia. Pertunjukan yang semula bersifat fisikal secara langsung dengan pementasan berkeliling, akhirnya jauh lebih mudah masuk ke dalam ruang hati penggemarnya melalui media audio-visual. Rekaman musik serta film-film yang dihasilkan dengan atmosfer dangdut menjadi media ampuh untuk memperluas penggemarnya. Sebagai konsekuensi dari perluasan jumlah penggemar ini, musik dangdut tak jarang menjadi medium infiltrasi pemerintah sekaligus magnet untuk mendapatkan pendukung.

  

Sebelum Rhoma muncul, sudah ada cukup banyak seniman yang mengambil ilhamnya dari agama atau yang secara lebih terang-terangan berdakwah lewat seni. Di dunia yang paling dekat dengan Rhoma sendiri ada grup Bimbo, di samping kelompok-kelompok kasidah yang timbul tenggelam. Namun, memang harus dikatakan bahwa Rhoma-lah yang berdakwah lewat musik secara benar-benar massal, mengingat jumlah konsumennya yang memang paling besar. Ijtihad Rhoma berdakwah melalui musik yang sarat dengan nilai-nilai sosial keagamaan ternyata berbuah ancaman, kecaman, olok-olokan, dan berbagai macam bentuk penolakan masyarakat Muslim. Namun, itu semua tidak mengendurkan kebulatan tekadnya. Rhoma mengakui, betapa sulit untuk memasukkan unsur-unsur dakwah ke dalam sebuah lagu. Sejak pertama kali Rhoma dan Soneta melakukan dakwah lewat dangdut, Rhoma mengucapkan salam: "assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh” di panggung sebagai salah satu ciri khasnya. Rhoma mengucapkan salam di panggung pada saat itu dianggap tabu dan bukan pada tempatnya. Atas keberaniannya itu, dalam pertunjukan musik, Rhoma dilempari batu, lumpur, dan sandal. Peristiwa itu terjadi di Ancol sekitar tahun 1979. Masyarakat menilai Rhoma telah melakukan penodaan terhadap agama dengan membawa ayat-ayat Alquran dalam sebuah lagu. Menurut mereka, assalamu'alaikum hanya boleh disampaikan dalam pentas-pentas agama, seperti di masjid. Namun, Rhoma tetap pada pendiriannya, bermusik untuk dakwah sebagai manifestasi nilai-nilai sosial keagamaan yang diperjuangkannya.

  

Hakikat Nilai-Nilai Pendidikan Islam

  

Zakiah Darajat mengemukakan bahwa pendidikan Islam yang dalam bahasa arab tarbiyah Islamiyah secara umum diartikan sebagai pembentukan kepribadian muslim. Menurut Mustafa Al-Ghulayaini dalam kitabnya berjudul 'Idhotun Nasyi;in,  pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhanannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat. Sehingga, akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.

  

Nilai-nilai pendidikan Islam yang hendak diinfiltrasikan ke dalam seni musik pada dasarnya adalah sejalan dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yakni mengembangkan kemampuan peserta didik untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha  Esa dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian nilai-nilai pendidikan Islam secara umum dapat pula ditarik benang merahnya dari statemen Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN), khususnya pada pasal 36 ayat (3) yang di antaranya menekankan pada segi peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

  

Urgensi nilai-nilai pendidikan Islam sebagaimana dikehendaki oleh UUSPN No. 20 Tahun 2003 juga mempertegas bahwa melalui lirik musik, Rhoma Irama berusaha mengekpresikan karya-karyanya melalui iringan genre musik dangdut. Lirik-lirik musik yang diperdengarkan kepada pendengarnya, di samping berfungsi sebagai fungsi rekreatif (hiburan) juga berfungsi sebagai sarana atau media penyampaian pesan-pesan moral agama. Sebagian besar lirik-lirik musik yang diciptakan mengandung nilai-nilai ajaran agama, dalam hal ini adalah ajaran Islam. Lihat, Inul versus Rhoma Rhoma Irama, Laporan Utama, Gatra, Nomor 25 Beredar Senin 5 April 2003. 

  

Pentingnya membentuk generasi muda (anak didik) agar memiliki kedalaman imtak dan keagungan akhlak, sebagaimana dijabarkan dalam penjelasan pasal 37 ayat (1) yang menyatakan bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Penjelasan ini menunjukkan keterkaitan secara lebih jelas bahwa imtak dan akhlak mulia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai pendidikan Islam, di mana keberadaannya menjadi prioritas yang harus diperhatikan dalam kurikulum sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN No.20 Tahun 2003.

  

Pendidikan Islam adalah tanggung jawab bersama, tidak saja  orangtua, pendidik, ulama, dan pemerintah, tetapi tanggung jawab siapa saja yang memiliki kemampuan dan pengetahuan cukup sesuai dengan keahlian dan profesinya masing-masing. Artinya, pendidikan Islam tidak musti harus dibebankan kepada lembaga-lembaga pendidikan baik formal, non formal, maupun informal, tetapi ia juga menjadi tanggung jawab siapapun dan dalam bidang apapun, termasuk di dalamnya bidang seni musik.

  

Menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam melalui jalur seni musik pada dasarnya merupakan salah satu dari kesekian model pendidikan Islam, dan ia termasuk kedalam kelompok pendidikan non formal. Pendidikan Islam tidak musti harus diidentikkan dengan madrasah dan pesantren an sich, karena hal ini hanya akan menafikan bahwa sesungguhnya model pendidikan Islam itu pluralistik. Di antara para tokoh seni musik dan seni suara yang telah melakukan transformasi pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam misalnya,  Rhoma Irama, Ida Laila, Ebiet G. Ade, Emha Ainun Nadjib, dan sederetan tokoh lainnya. Mereka adalah para tokoh yang menyebarkan dakwah Islam serta menanamkan nilai-nilai luhur pendidikan Islam yang terkandung dalam Al-Qur‘an melalui seni musik dan seni suara.

  

Dakwah Rhoma lewat musik layaknya yang dilakukan Walisongo. Rhoma mengingatkan kita pada Sunan Kalijaga, yang menggunakan dakwah Islam dengan menggunakan media pewayangan dengan tujuan amar ma‟ruf nahi munkar. Ia mahir sebagai dalang wayang kulit. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan dakwahnya. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah karangan. Beberapa di antara yang terkenal adalah lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada, dan Petruk Dadi Ratu. Dewa Ruci di tafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. 

  

Rhoma juga memanfaatkan kebiasaan mengadakan majelis kenduri sebagai sarana syiarnya. Sunan Kalijaga dikenal dengan pendekatan dakwah budayanya. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana atau cara dakwah. Sejarah mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa syair, di antaranya Dandang Gula Semarangan,  paduan irama atau melodi Arab dan Jawa.

  

Rhoma memang bukan Sunan Kalijaga, tetapi apa yang menjadi ijtihad Rhoma yakni menjadikan musik sebagai sarana dakwah, juga terbukti efektif. Rhoma menciptakan tembang yang sarat kritikan sosial dan berusaha membuka ruang kesadaran masyarakat terhadap penyakit Molimo, yakni berjudi, berzina, mencuri, madat, dan minum-minuman keras. Kebanyakan orang memang sulit diingatkan langsung lewat lisan. Oleh sebab itu, bisa dianggap melarang atau menggurui orang bersangkutan. Berangkat dari kondisi itu, lalu Rhoma melakukan dakwah melalui seni musik yang digelutinya. Berbagai lagu Rhoma, memang sarat dengan seruan moral, meski banyak juga lagu-lagu yang diciptakannya yang tidak mengusung label Islam. Namun,  kebanyakan bernilai dakwah. Kita mafhum jika menyimak barisan larik-larik lantang yang dilantunkannya. Rhoma memang telah berdakwah lewat musik.