Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur'an: Sketsa Biografi Penulis (Bagian Pertama)
Daras TafsirIalah KH. Muhammad Afifudin Dimyathi, lahir pada tanggal 7 Mei 1979 M di Jombang, Jawa Timur. Ayahnya, KH. Ahmad Dimyathi, adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum (periode 2009-2016 M) sekaligus mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. Sedangkan ibunya, Nyai Hj. Muflihah, adalah putri KH. Ahmad Marzuki Zahid, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan (periode 1971-2000 M). Sejak kecil beliau tumbuh di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum yang didirikan oleh buyutnya, KH. Tamim Irsyad bersama koleganya yang kelak menjadi menantunya, KH. Kholil al-Juraimi.
Sebagaimana lazimnya putra-putri pengasuh pondok pesantren di Indonesia yang memperoleh pendidikan di bawah pengawasan langsung sang ayah dan ibu tercinta, demikian pula halnya dengan Gus Awis--panggilan akrab Kiai Afifudin. Selain memperoleh ilmu-ilmu keagamaan di “rumah”, beliau juga aktif mempelajari ilmu-ilmu umum di sekolah yang masih dalam lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum. Di jenjang sekolah dasar misalnya, beliau tercatat sebagai murid di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Darul Ulum hingga berhasil menamatkannya pada tahun 1991. Kemudian beliau melanjutkan studinya di Madrasah Tsanawiyah Program Keagaman (sekarang MTs Plus) Darul Ulum dan berhasil memperoleh ijazahnya pada tahun 1994.
Setamat MTs, barulah Gus Awis memulai rihlah ilmiahnya di luar Pondok Pesantren Darul Ulum. Berbekal restu dari orangtua tercinta, beliau berangkat ke arah timur untuk melanjutkan studinya di MAPK Jember hingga selesai pada tahun 1997 dengan membawa predikat lulusan terbaik waktu itu. Pasca kelulusannya tersebut, dengan semangat dan penuh tekad, beliau mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Benar saja, usaha sungguh-sungguh—lebih-lebih yang disertai dengan doa—memang tak memgkhianati hasil. Di tahun itu juga namanya masuk dalam daftar calon mahasiswa/i yang dinyatakan lulus. Namun “sayangnya”, beliau baru dijadwalkan berangkat ke Kairo pada tahun setelahnya (1998), sehingga praktis ada “waktu kosong” selama setahun di Indonesia.
Tentu saja sebagai remaja yang dipenuhi oleh ghirah himmah ‘aliyah, waktu kosong itu tidak ingin disia-siakan oleh Gus Awis. Selama waktu setahun itu beliau bertekad menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan KH. Mufid Mas’ud, Pandanaran, Yogyakarta. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT dan berkat restu orangtua dan guru, beliau berhasil mengkhatamkan hafalannya sesuai harapan yang beliau kehendaki sebelumnya. Sehingga pada tahun 1998, saat jadwal pemberangkatan mahasiswa/i baru Universitas Al-Azhar asal Indonesia, beliau dapat turut mengikuti tanpa satupun kendala yang signifikan. Di Al-Azhar, beliau mengambil jurusan Tafsir dan ‘Ulum al-Qur’an, Fakultas Ushuluddin dan berhasil menamatkannya pada tahun 2002.
Dengan berbagai pertimbangan, Gus Awis tidak langsung melanjutkan studi program magisternya di universitas yang sama. Beliau memilih untuk kembali sejenak ke kampung halamannya, pulang ke Indonesia. Saat kepulangannya itulah beliau dinikahkan dengan Ny. Hj. Laily Nafis, putri KH. Sofyan Tsauri, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Kaliwates, Jember. Setelah itu, barulah beliau memutuskan untuk melanjutkan studinya di Khartoum International Institute for Arabic Language, Sudan, dengan konsentrasi pada Arabic Language Education Program for Non-Native Speakers (Ta‘lim al-Lughah li Ghayr al-Nathiqin biha). Program ini berhasil beliau selesaikan pada tahun 2004, bahkan dengan menyandang prestasi sebagai lulusan terbaik se-Asia. Lalu beliau langsung melanjutkan program doktoral di negara yang sama, tepatnya di Universitas Al-Nilain, Khartoum, dengan konsentrasi pada Kurikulum dan Metodologi Pengajaran (al-Manhaj wa Thuruq al-Tadris). Meski telah berkeluarga, ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu tak sedikit pun pudar. Terbukti, tiga tahun setelahnya, yakni tahun 2007, beliau berhasil menamatkannya.
Sejak tahun 2004, Gus Awis diberi amanah untuk mengasuh Asrama Hidayatul Qur’an (asrama ke-14) Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang. Pada mulanya, hanya beberapa santri saja yang tinggal di asrama ini, tetapi saat ini (2022) tercatat tidak kurang dari 500 santriwan-santriwati aktif yang tinggal di sana. Selain itu, beliau juga mengajar di berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur. Antara lain Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (Fakultas Tarbiyah dan Pascasarjana), Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim Malang (Pascasarjana), Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember (Pascasarjana), Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (Pascasarjana) dan Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah Pasuruan (Pascasarjana). Lebih lanjut, dua tahun setengah yang lalu, tepatnya pada 29 Agustus 2019, beliau dipercaya sebagai Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, berbarengan dengan KH. Afifudin Muhadjir dan KH. Baha’udin Nur Salim yang dilantik sebagai Rais Syuriah.
Berkenaan dengan karya-karya Gus Awis, sebagian besar ditulis dengan bahasa Arab. Meskipun sejak awal beliau menaruh perhatian besar pada kajian-kajian seputar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, tetapi karya-karyanya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti bahasa Arab, usul fikih dan hadis. Dari sini, karya-karyanya dapat dikategorikan ke dalam 4 cabang keilmuan itu, yakni tafsir, hadis, usul fikih dan bahasa Arab.
Pada kategori pertama, terdapat Mawarid al-Bayan fi ‘Ulum al-Qur’an, ‘Ilm al-Tafsir: Ushuluhu wa Manahijuhu, Shafa’ al-Lisan fi I‘rab al-Qur’an, Irsyad al-Darisin ila Ijma‘ al-Mufassirin, Majma‘ al-Bahrayn fi Ahadits al-Tafsir min al-Shahihayn, Jam‘ al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir, al-Mabahith fi Ma\'ani al-Qur’an dan al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an. Sementara kategori kedua, terdapat al-Mukhtashar al-Lathif fi ‘Ulum al-Hadith al-Syarif, yang disusul oleh Jadawil al-Fushul fi ‘Ilm al-Ushul dalam kategori ketiga. Sedangkan karya-karya Afifudin seputar bahasa Arab ada tiga, yakni Madkhal ila ‘Ilm al-Lughah al-Ijtima‘i, Sosioliguistik dan Panduan Praktis Menulis Bahasa Arab. Dengan demikian, hingga kini ada 13 karya Afifudin yang telah berhasil ia terbitkan.
Sumber Rujukan
Muhammad Afifudin Dimyathi, 'Ilm al-Tafsir: Ushuluh wa Manahijuh (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016), 288.
______, Mawarid al-Bayan fi 'Ulum al-Qur'an (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2014), 172.
______, al-Mukhtashar al-Lathif fi 'Ulum al-Hadits al-Syarif (Malang: Lisan Arabi, 2021), 113.
______, Jadawil al-Fushul fi 'Ilm al-Ushul (Kairo: Dar al-Nibras, 2020), 135.
______, Shafa\' al-Lisan fi I'rab al-Qur'an: Surat al-Fatihah wa al-Sajdah wa al-Insan (Sidoarjo: Lisan Arabi, 2015), 116.

