Tanda-Tanda Surah Makkiyah dan Madaniyyah
Daras TafsirDengan mengharap rida Allah SWT dan ilmu yang bermanfaat dan berkah, mari sejenak membaca surah al-Fatihah untuk penulis kitab Zubdah al-Itqan yang sedang kita kaji bersama. Untuk al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Hasani al-Maliki al-Makki, al-Fatihah.
Sebelum membahas lebih jauh tentang tanda-tanda surah makkiyyah dan madaniyyah, Abuya terlebih dahulu menjelaskan bahwa beberapa Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum mempunyai perhatian yang serius terkait ilmu ini (Makkiy-Madaniy). Di antaranya yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin Mas‘ud dan Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum.
Sebagai contoh, diriwayatkan bahwa suatu hari ‘Abdullah bin Mas‘ud RA pernah berkata, “Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, tidaklah suatu surah dari Kitab Allah (Al-Qur’an) turun melainkan saya mengetahui di mana ia turun? Dan tidaklah satu ayat pun turun melainkan saya mengetahui betul berkenaan dengan hal apa ia turun? Seandainya saya tahu bahwa ada seseorang yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah (Al-Qur’an) daripadaku, yang mampu (lokasi keberadaannya) bisa dicapai oleh unta, niscaya aku bergegas menuju kepadanya.”
Juga seperti perkataan Ibn ‘Abbas RA yang menunjukkan perhatiannya yang serius pada ilmu ini, “Saya pernah bertanya kepada Ubay bin Ka‘b tentang surah al-Qur’an yang turun di Madinah. Maka beliau menjawab, ‘Ada 27 surah yang turun di sana, sedangkan selebihnya itu turun di Makkah.’”
Selanjutnya, Abuya menjelaskan bahwa di antara tanda-tanda surah makkiyyah dan madaniyyah adalah sebagai berikut:
Pertama, setiap surah yang di dalamnya terdapat kalimat Ya Ayyuhannas dan tidak terdapat Ya Ayyuhalladzina Amanu, maka statusnya adalah makkiyyah. Tetapi berkenaan dengan surah al-Hajj, terdapat perbedaan pendapat.
Patut dicermati bahwa tanda pertama ini berbunyi, “Terdapat kalimat Ya Ayyuhannas dan tidak terdapat Ya Ayyuhalladzina Amanu.” Artinya, surah yang di dalam terdapat kalimat Ya Ayyuhannas, tetapi juga terdapat Ya Ayyuhalladzina Amanu, belum tentu berstatus makkiyyah. Surah al-Nisa’ misalnya, disepakati oleh para ulama berstatus madaniyyah, meskipun permulaan surah ini jelas-jelas berbunyi Ya Ayyuhannas. Ini “antara lain” bila dilihat dari sisi tanda-tanda surah makkiyah dan madaniyyah karena di dalamnya terdapat pula kalimat Ya Ayyuhalladzina Amanu (lihat ayat ke-43, 59, 71, 94, 135 dan 144). Demikian juga surah al-Hujurat, berstatus madaniyyah meskipun ayat ke-13 berbunyi Ya Ayyuhannas, karena di sana juga terdapat Ya Ayyuhalladzina Amanu (lihat ayat ke-1, 2, 6, 11 dan 12).
Lantas apa contoh konkret dari tanda pertama ini? Tentu ada banyak, di antaranya yaitu surah al-A‘raf (lihat ayat ke-158), Yunus (lihat ayat ke-23), Luqman (lihat ayat ke-31), dan Fathir (lihat ayat ke-3, 5 dan 15).
Baca Juga : Agama, Pemilu dan Pilihan Rasional Etis
Kemudian patut dicermati pula bahwa Abuya menggarisbawahi surah al-Hajj. Bahwa berkenaan dengan surah ini terdapat perbedaan pendapat dari para ulama. Hal ini mengingat di dalam surah tersebut terdapat Ya Ayyuhannas dan tidak terdapat Ya Ayyuhalladzina Amanu. Meskipun dari uraian selanjutnya terlihat bahwa beliau cenderung mengkategorikannya sebagai surah madaniyyah.
Kedua, setiap surah yang di dalamnya terdapat “Kalla”, maka berstatus makkiyyah. “Kalla” sendiri terulang 33 kali yang tersebar ke dalam 15 surah yang berbeda. Yakni surah Maryam, al-Mu’minun, al-Syu‘ara’, Saba’, al-Ma‘arij, al-Muddatstsir, al-Qiyamah, al-Naba’, ‘Abasa, al-Infithar, al-Muthaffifin, al-Fajr, al-‘Alaq, al-Takatsur dan al-Humazah. Dengan demikian, menurut tanda kedua ini, surah-surah tersebut berstatus makkiyyah. Tetapi, bila membaca keterangan selanjutnya sebagaimana terbaca nanti, inshaaa Allah nampaknya Abuya mengecualikan surah al-Qiyamah. Meskipun surah tersebut mengandung “Kalla”, beliau memasukkannya ke dalam kategori surah-surah madaniyyah.
Ketiga, setiap surah yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Adam dan Iblis, maka berstatus makkiyyah, kecuali surah al-Baqarah.
Keempat, setiap surah yang di dalamnya terdapat penyebutan orang-orang munafik, maka berstatus madaniyyah, kecuali surah al-‘Ankabut. Jika kita telaah lebih lanjut term-term di dalam Al-Qur’an yang merujuk pada orang-orang munafik yakni al-Munafiqat, Munafiqun dan al-Munafiqin maka term-tem itu kita dapati dalam 9 surah. Yakni al-Nisa’, al-Anfal, al-Taubah, al-‘Ankabut, al-Ahzab, al-Fath, al-Hadid, al-Munafiqun dan al-Tahrim. Nah, surah-surah tersebut berstatus madaniyyah kecuali surah al-‘Ankabut.
Kelima, Abuya mengutip sebuah keterangan dari ayahnya Hisyam bin ‘Urwah. Bahwa setiap surah yang di dalamnya disebutkan ketetapan-ketetapan hukum dan kewajiban-kewajiban (al-hudud wa al-fara’idh), maka berstatus madaniyyah. Sedangkan setiap surah yang di dalamnya terdapat (penyebutan) umat-umat terdahulu, maka berstatus makkiyyah.
Tetapi, tanda kelima ini lebih bersifat aghlabiy (mayoritas), sebagaimana ditegaskan oleh Musa‘id al-Thayyar. Bahwa memang kebanyakan hukum-hukum Islam dan perincian-perinciannya itu turun pasca Nabi hijrah ke Madinah. Tetapi tentu saja beberapa hukum telah ditetapkan sebelumnya, seperti zakat. Demikian pula surah-surah yang mengandung penyebutan umat-umat terdahulu, memang kebanyakan disebutkan dalam surah-surah makkiyyah. Tetapi ada pula surah-surah madaniyyah yang mengandung keterangan tersebut, seperti surah al-Baqarah yang di dalamnya terkandung kisah Nabi Musa AS bersama kaumnya; Ali ‘Imran, kisah keluarga ‘Imran; al-Nisa, kisah Nabi Musa AS dan Nabi ‘Isa AS; al-Ma’idah, kisah Qabil dan Habil; dan lain sebagainya.
Faedah
Di akhir uraian tentang al-Makkiy dan al-Madaniy ini, Abuya menyebutkan satu per satu surah-surah turun di Madinah (tergolong madaniyyah). Menurut beliau, jumlah keseluruhannya ada 29 surah. Yaitu al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Nisa’, al-Ma’idah, al-Anfal, al-Taubah, al-Ra‘d, al-Hajj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Hadid, al-Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaff, al-Jum‘ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Qiyamah, al-Zalzalah, al-Qadar, al-Nashr dan al-Mu‘awwidzatan (al-Falaq & al-Nas). Sedangkan surah selebihnya, turun di Makkah (tergolong makkiyyah), yang berarti berjumlah 85 surah, karena jumlah keseluruhan surah di dalam Al-Qur’an adalah 114 surah.
Baca Juga : Peringatan Tujuh Belasan, Sound Horeg dan Ekspresi Cinta Negeri
Demikian kajian kitab Zubdah al-Itqan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat dan berkah, wa shalla Allah ‘ala Sayyidina Muhammad al-Mushthafa.
Sumber Rujukan
al-Sayyid Muhammad b. al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Zubdah al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Jeddah: Dar al-Syuruq, 1986), 12-13.
al-Syekh Muhammad ‘Abdul ‘Azhim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (t.tp.: Mathba‘ah ‘Isa al-Babi al-Halbi wa Syuraka’ih, t.t.), vol. 1, 196.
Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Mu’assasah al-Risalah Nasyirun, 2008), 33.
Musa‘id b. Sulaiman b. Nashir al-Thayyar, al-Muharrar fi ‘Ulum al-Qur’an (Jeddah: Ma‘had al-Imam al-Syathibi, 2008), 113-114.
Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an al-Karim (Kairo: Dar al-Hadits, t.t.), 726-729.
Muhammad Sa‘id al-Liham, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an al-Karim Wifq Nuzul al-Kalimah (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 2015), 816, 888.

