Peringatan Tujuh Belasan, Sound Horeg dan Ekspresi Cinta Negeri
OpiniMalam tujuh belasan, Sabtu 16/08/2025, saya harus hadir di acara peringatan seribu hari wafatnya, Emak Hajjah Muthmainnah, sehingga harus mengikuti ritual tahlilan dan bacaan Surat Yasin. Bertepatan dengan acara keluarga ini, di desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto dilakukan pawai atau karnaval yang diikuti oleh masing-masing RT. Memang hanya satu desa. Tetapi jangan tanya tingkat keramaian yang diakibatkan. Masyarakat sekeliing desa Kutogirang pada hadir semenjak jam 13. 00 siang. Mereka bersepeda motor dengan keluarganya. Menyenangkan anak. Hiburan gratis. Mereka tumplek bleg di tempat-tempat yang memungkinkan bisa menikmati acara menyambut 17 Agustusan. Semua berwajah gembira dan semuanya menyambut dengan hingar bingar. Para pedagang juga menyambut dengan riang gembira. Mulai dari penjual pentol bakso, saos goreng, es krim, es teh, es jeruk, es dawet, teh botol, Pocari Sweat, hingga makanan khas pedesaan lainnya. Semuanya menjajakan dagangannya berkeliling. Para pedagang itu hadir dari berbagai kabupaten di sekitar Mojokerto. Dari Jombang, Kediri dan juga Pasuruan dan Probolinggo. Bersepeda motor suami istri sambil membawa dagangannya.
Tetapi yang menarik adalah penggunaan soud horeg dengan kapasitas empat lapis sampai delapan lapis. Jangan tanya berapa mereka harus menyewa. Untuk yang susun empat sekitar Rp5 juta, sedangkan yang delapan susun sampai Rp30 Juta. Dari mana uang itu didapat? Para pemuda urunan. Ada yang Rp500 ribu, bahkan Rp2 juta. Belum lagi biaya untuk pakaian, hiasan, umbul-umbul dan rumbai-rumbai yang menjadi ciri khas sebuah karnaval. Salon kecantikan juga laris manis. Ada ratusan perempuan yang berdandan untuk kepentingan karnaval. Benar-benar kegembiraan bersama.
Jangan bertanya tentang suara yang ditimbulkan oleh sound horeg. Bagi orang yang memiliki sakit jantung atau paru-paru jangan berupaya mendekat. Dipastikan akan menjadi tambah sakit. Ini merupakan pengalaman saya bernegosiasi dengan sound horeg. Benar-benar sensasi. Saking kerasnya sampai terbatuk-batuk. Bahkan kopyah pun bergetar. Makanya, rumah-rumah yang berada di tepian jalan, harus diisolasi plastic pada jendela-jendela kacanya. Khawatir pecah. Bahkan pernah ada plavon rumah yang jebol. Getarannya kuat dan menyengat. Cat-cat di plavon pun pada berjatuhan. Tetapi pemilik rumah di pinggir jalan itu hanya ketawa-ketawa saja. “Besuk dibersihkan.” Sound horeg ini hanya berkapasitas delapan tingkat belum yang berkapasitas 12 tingkat. Tidak bisa dibayangkan.
Acara dimulai pukul 17.00 WIB dan berakhir pukul 22.30 WIB. Suara sound horeg dengan nada-nada lagu bernuansa keras yang terbiasa dijadikan sebagai pengiring senam, tentu terdengar sangat rancak. Diikuti dengan sejumlah anak-anak muda lelaki dan perempuan dengan dandanan warna-warni berjoged mengikuti irama lagu yang tersajikan. Tetapi ada yang sungguh menarik sebab ada juga sawerannya. Perempuan muda berjoget sambil menenteng tas plastic yang isinya uang saweran. Jika ingin foto selfie dengan para penarinya, maka harus mengeluarkan saweran Rp7 ribu sampai Rp10 ribu. Nyawer dulu baru selfie.
Selain acara keramaian tersebut juga terdapat upacara barikan, yaitu upacara selamatan yang dilakukan oleh masing-masing Rukun Tetangga (RT). Upacara sederhana dan juga diikuti oleh warga RT setempat. Intinya adalah mendoakan keselamatan Indonesia sekarang dan yang akan datang. Sungguh di pedesaanlah kita dapat melihat bagaimana masyarakat pedesaan memaknai peringatan Hari Kemerdekaan dengan tidak hanya relasi social dalam gegap gempita penyambutannya, akan tetapi juga melantunkan doa kepada Allah agar bangsa Indonesia aman, selamat dan sentosa di dalam mengarungi kehidupan warga bangsanya.
Beginilah masyarakat pedesaan memaknai Hari Kemerdekaan. Hari yang sacral bagi bangsa Indonesia. Pada Peringatan Hari Kemerdekaan RI yang ke 80, 17 Agustus 2025, mereka menyambutnya dengan gegap gempita. Tua, muda dan anak-anak memperingatinya dengan suka cita. Dengan menari dan berjoged melalui alunan music yang menghentak tetapi membuat kaki bergoyang mengikuti alunan iramanya. Mereka dengan tertib dan nyaman menikmati alunan music dengan sound horeg. Mereka duduk di setiap jengkal tanah di pinggir jalan, sambil menikmati jajanan dalam kebersamaan. Menggelar tikar dan duduk berjajar dengan tertib. Tidak ada tawuran dan perselisihan. Mereka rukun dalam kedamaian. Mereka tidak berpikir aneh-aneh. Apa yang dihadapinya saja. Happy.
Bagi mereka kemerdekaan adalah ekspresi kegembiraan dan doa. Yang menggembirakan bahwa yang memiliki inisiatif seperti ini adalah anak-anak muda. Mereka yang mengeluarkan uang dan mereka yang melakukannya. Nuansa guyub rukun sungguh tercipta dan terasa di dalam peringatan hari yang paling sacral bagi bangsa Indonesia, Hari Kemerdekaan. Rasanya tidak khawatir tentang Indonesia ke depan. Kesadaran yang sedemikian heboh di dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI yang dipahami oleh kawula muda, seakan-akan memberikan jawaban atas keraguan generasi tua tentang Indonesia ke depan.
Jika di kota banyak orang yang cuek di dalam mangayubagya peringatan tujuh belasan, tentu tidak demikian bagi orang pedesaan. Mereka benar-benar ekspresif dalam menyambut hari kemerdekaan bangsanya. Kemerdekaan tidak hanya sekedar upacara bendera dan mengibarkan Bendera Pusaka, Merah Putih, akan tetapi juga Hari Kegembiraan Nasional.
Hari yang dirindukan untuk menyanyi dan menari dalam kebersamaan dan kegembiraan. Mungkin ada di antara mereka yang tidak tahu apa makna kemerdekaan bagi dirinya, tetapi dengan secara ekspresif mereka menghormati dan merayakannya, maka hal itu sudah cukup untuk menyatakan "Aku Cinta Negeri ini.”
Ada satu juga catatan yang penting yaitu acara barikan. Sebuah acara selamatan yang dilakukan oleh warga pedesaan. Slametan sebagai inti kehidupan orang Jawa ditemukan konsepnya oleh Clifford Geertz (1955). Mungkin bagi orang pedesaan, tidak perlu renungan malam, akan tetapi upacara barikan itu memberikan makna yang sangat mendalam tentang keselamatan sebagai unsur utama dalam pembangunan bangsa. Tiada keselamatan tanpa kerukunan dan tiada kerukunan tanpa kebersamaan. Selamat atas Peringatan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025. Kami akan selalu membersamaimu sampai kami terakhir menutup mata.
Wallahu a’lam bi al shawab.

