Perempuan Merdeka, Bangsa Maju
InformasiEva Putriya Hasanah
Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Kita bangga pada perjuangan para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa dari penjajahan fisik. Namun, makna kemerdekaan tidak berhenti di situ. Merdeka juga berarti kebebasan berpikir, berekspresi, dan menentukan jalan hidup sendiri, termasuk bagi perempuan. Kebebasan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal ekonomi, pendidikan, dan pengambilan keputusan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, 33,52% pekerja di Indonesia adalah perempuan. Angka ini memang menunjukkan peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, meski terlihat positif, kesenjangan gender dalam partisipasi angkatan kerja masih nyata. Banyak perempuan yang bekerja bukan karena keinginan untuk mandiri atau berkembang, melainkan sekadar untuk mengisi waktu luang agar tidak bosan. Apalagi tidak sedikit yang masih memuatkan kebutuhan utama pada pasangan atau keluarga laki-laki. Fenomena ini mencerminkan bahwa kebebasan perempuan di dunia kerja belum sepenuhnya tercapai.
Tantangan Kebebasan Ekonomi Perempuan
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemerdekaan perempuan di dunia kerja masih terbatas. Mereka dapat hadir di kantor atau ruang kerja, tetapi pilihan mereka sering dibentuk oleh norma sosial, ekspektasi keluarga, dan stereotip gender. Diantaranya beranggapan bahwa perempuan “lebih cocok” bekerja di bidang administrasi, pendidikan, atau kesehatan, sementara bidang seperti teknologi, industri berat, atau manajemen senior yang didominasi laki-laki. Akibatnya, kebebasan berpikir dan berekspresi perempuan tidak selalu sejalan dengan kemandirian ekonomi.
Padahal, merdeka sejatinya berarti perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, termasuk keputusan untuk bekerja atau berkarier. Merdeka juga berarti perempuan memiliki akses untuk mengembangkan potensi, mendapatkan penghasilan sendiri, dan tidak lagi sepenuhnya tergantung pada pasangannya. Dengan demikian, kemerdekaan ekonomi perempuan menjadi salah satu tolok ukur sejati dari kebebasan yang diperjuangkan sejak proklamasi 1945.
Perayaan Kemerdekaan sebagai Momentum Refleksi
Baca Juga : Sejarah Sekularisme Turki dan Pengaruhnya Terhadap Pikiran Sekularis dan Muslim Indonesia
Perayaan 17 Agustus bisa menjadi momentum refleksi: apakah perempuan di Indonesia benar-benar merdeka, atau masih terkungkung oleh batasan sosial dan ekonomi? Apakah peran perempuan hanya sekedar “mengisi waktu luang” atau sudah menjadi bagian dari pembangunan bangsa? Pertanyaan ini penting karena pembangunan yang inklusif tidak dapat tercapai tanpa melibatkan seluruh elemen masyarakat secara setara, termasuk perempuan.
Dalam konteks Indonesia Emas 2045, kemerdekaan perempuan untuk berkontribusi secara ekonomi adalah modal penting bagi pertumbuhan negara. Semakin banyak perempuan yang bekerja dengan penuh kesadaran, keahlian, dan tujuan, semakin kuat fondasi bangsa untuk mencapai kemajuan.
Selain itu, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis atau pengambilan keputusan membawa perspektif baru yang lebih inklusif. Perempuan tidak hanya melihat pembangunan dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya, termasuk isu kesejahteraan keluarga, pendidikan anak, dan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, partisipasi perempuan menjadi faktor kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Merdeka di Era Modern
Merdeka bukan hanya soal bendera, lomba, atau seremonial. Merdeka adalah ketika setiap individu—terutama perempuan—memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri, berpartisipasi dalam pembangunan, dan mendapatkan pengakuan yang setara. Partisipasi perempuan dalam dunia kerja bukan sekadar angka statistik. Ini adalah simbol kebebasan berpikir, berkarya, dan mengambil keputusan.
Memberikan kesempatan yang setara kepada perempuan juga berarti menegaskan komitmen Indonesia terhadap keadilan gender. Perempuan yang merdeka untuk bekerja dan berkarya mampu mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil, inovatif, dan berdaya saing. Hal ini tidak hanya menguntungkan perempuan secara individu, tetapi juga memperkuat bangsa secara keseluruhan.
Di era modern, perempuan Indonesia semakin menunjukkan kemampuan dan peran strateginya di berbagai bidang. Dari teknologi, pendidikan, kesehatan, hingga bisnis dan pemerintahan, perempuan tidak hanya hadir tetapi juga berprestasi. Contohnya, keberhasilan perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) atau kepemimpinan startup menunjukkan bahwa potensi mereka sangat besar dan siap menjadi bagian dari pilar kemajuan bangsa.
Dengan memerdekakan perempuan untuk berekspresi dan berkontribusi dalam dunia kerja, Indonesia tidak hanya merayakan kemerdekaan secara simbolik, tetapi juga memperkuat fondasi untuk masa depan yang lebih setara dan berkelanjutan. Partisipasi perempuan adalah wujud nyata dari kemandirian yang sesungguhnya—kemerdekaan yang memberdayakan, merangsang kreativitas, dan memastikan bahwa semua warga negara memiliki peluang yang adil untuk berkembang.

