(Sumber : Kompasiana.com)

Diperlukan Institusi Bersinar: Gerakan PTKIN Bersih Narkoba

Opini

Narkoba memang sudah menjadi penyakit social di tengah masyarakat. Nyaris tidak ada ruang yang terbebas dari narkoba. Narkoba dapat menyebar  di mana saja selama di situ terdapat relasi social yang berkesebalikan dengan norma masyarakat. Selama ini ruang religious nyaris tidak bisa dimasuki oleh kalangan bandar atau pengguna narkoba, misalnya pesantren, madrasah, dan lembaga Pendidikan Islam. Akan tetapi kini sudah tidak lagi didapati ruang steril dari perilaku pengguna narkoba, bandar narkoba dan agen-agen narkoba. Mereka bisa berada di mana saja, di kala kehadirannya diterima dan mendapatkan respon yang memadai.

  

Kasus narkoba semakin menggeliat. Peredaran narkoba sudah massif. Nyaris di seluruh kota di Indonesia sesungguhnya terdapat kasus narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) tentu sudah bekerja keras akan tetapi masih kebobolan juga. Hal ini terjadi karena narkoba sudah menjadi komoditi dalam perdagangan yang melibatkan pemain-pemain nasional maupun internasional dan bahkan juga backing kuat dari mereka yang bisa diperdaya oleh bandar narkoba. 

  

Pekan ini, 14/08/2025,  kita dikejutkan dengan temuan BNN atas sebanyak 63 Kg ganja di Program  Kreativitas Mahasiswa (PKM) UIN Sultan Syarif Qasim Riau. Berita ini sebagaimana dilansir oleh berbagai media social seperti Pekanbaru iNEWS.ID., Detik.com, Kompas.com,  rri.co.id dan sebagainya. Besarnya pemberitaan tentu saja terkait dengan temuan BNN atas narkoba di kampus Islam, UIN Syarif Qasim Riau. UIN selama ini dikenal sebagai kampus yang mengedepankan nilai-nilai keislaman yang sangat tinggi. Hal ini juga memberi makna betapa besarnya perhatian dan respon social atas pendidikan Islam sebagai wadah untuk menyemai dan mengembangkan perilaku religious yang mendasar. 

  

Sebagaimana hasil wawancara saya dengan Rektor UIN Susqa Riau, Prof. Lenny Nofianti, dan juga sebagaimana informasi di media local, bahwa Kantor PKM UIN Susqa Riau memang dijadikan sebagai transit untuk pengiriman berikutnya ke Jawa dan wilayah Sumatera. PKM UIN Susqa Riau dijadikan sebagai tampat transit sebab para pelaku pernah kuliah di Fakultas Syariah dan Hukum serta di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Keduanya  drop out. Jadi bukan alumni hanya  pernah menjadi mahasiswa di UIN Susqa Riau. Barang haram tersebut hanya semalam berada di kampus, akan tetapi di kala keduanya tertangkap oleh BNN maka kemudian terkuak bahwa ada narkoba yang ditempatkan di PKM. 

  

Jadi tidak ada kaitan antara UIN Susqa Riau sebagai institusi pendidikan tinggi Islam dengan temuan ganja dimaksud. Di dalam kasus narkoba ini, mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan tidak ada yang terlibat. Benar-benar ketiban sial, karena yang dijadikan sebagai tempat transit  adalah PKM UIN Susqa Riau. Sebagaimana dinyatakan oleh Rektor, Prof. Lenny ini benar-benar sebuah accidence yang menempatkan UIN Susqa Riau sebagai penempatan ganja. Tidak ada desain dari mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan yang secara sengaja menempatkan ganja sebanyak itu di kampus. Juga dinyatakan bahwa pihak kampus tidak akan mentolerir atas tindakan melakukan penyimpangan terutama dalam kaitannya dengan ganja. Pihak kampus menyerahkan sepenuhnya atas kasus ini kepada pihak yang berwajib. Dan selain itu juga akan melakukan evaluasi secara menyeluruh atas tata kelola organisasi kemahasiswaan di UIN Susqa. Rector berjanji akan melakukan pembinaan kepada aktivis organisasi kampus dan juga mahasiswa agar tidak terlibat dengan perilaku menyimpang menjadi pengedar atau pengonsumsi ganja. Juga diperlukan tes urine bagi para mahasiswa. Untuk ini diperlukan kerja sama dengan aparat pemerintah yang menangani pemberantasan peredaran ganja, khususnya BNN. UIN Susqa Riau juga akan membentuk Satgas Anti Narkoba. 

  

Riau memang menjadi jalur transit pengiriman narkoba. Berdasarkan temuan BNN tahun 2021, bahwa pernah diketemukan simpanan ganja sebanyak 42 kg sabu-sabu, 52.000 ekstasi dan uang sebanyak 325 juta dan ada sebanyak 463 orang yang ditangkap dalam kapasitas sebagai pengguna, pengedar, kurir dan bandar narkoba dengan status PNS, pegawai swasta, buruh, mahasiswa, pengusaha, polisi, pelajar dan petani. (nursyamcentre.com 22/03/2021). Artinya bahwa Riau memang jalur utama di dalam pengedaran narkoba di wilayah Sumatera dan Jawa. Wilayah Riau memang ideal sebagai tempat transit karena wilayah kepulauan. Kasus di Gedung PKM UIN Susqa Riau merupakan bagian dari jalur transit narkoba yang akan diedarkan. Hanya tinggal menunggu kurir dan travel pengangkut barang haram dan kemudian akan diteruskan ke berbagai wilayah. 

  

Tentu dapat diyakini bahwa Gedung PKM UIN Susqa hanyalah salah satu yang dijadikan tempat transit. Bisa jadi ada wilayah lain yang juga memiliki posisi sama. Kerja BNN tentu patut diapresiasi, dan dijadikannya UIN sebagai tempat transit juga menarik utuk dijadikan sebagai bahan renungan. Mungkin di dalam pikiran pelaku, bahwa kampus Islam tentu tidak menjadi tempat yang patut dicurigai oleh  masyarakat dan aparat keamanan. Tetapi dengan kerja keras BNN akhirnya semua terkuak dengan jelas. 

  

Makanya patut menjadi renungan bagi semua kampus pada PTKIN dan juga PTKIS agar terus mewaspadai terhadap kasus-kasus narkoba dengan tindakan kehati-hatian dan pengawasan ekstra keras atas mahasiswa dan para pelaku narkoba. Jangan sampai lengah, dan sebagaimana janji Rektor UIN Susqa Riau akan membangun Tim Anti Narkoba. Akan dinamakan sebagai Gerakan Anti Narkoba. Katanya, akan dinamai “UIN Susqa Riau Bersinar” atau  “UIN Susqa Riau Bersih  Narkoba”. Saya bisa menyebutnya sebagai “Gerakan Anti Narkoba Rumah Bersinar” sebuah wadah  yang dijadikan sebagai tempat untuk mendiskusikan, menganalisis tentang potensi penggunaan narkoba dan penanggulangannya dan sekaligus juga membentuk agen-agen Anti Narkoba. Buatlah jejaring dengan BNN, para pengusaha yang peduli anak bangsa, para ulama dan para tokoh organisasi keagamaan, social dan politik. 

  

Setiap PTKIN harus memiliki “Rumah Bersinar” untuk menandai bahwa di institusinya dilakukan perang terhadap narkoba. Dampak narkoba sangat luar biasa bagi penyiapan generasi mendatang untuk Indonesia Emas, 2045. Para pimpinan PTKIN yang bertanggung jawab.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.