Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Psikologi Transendental
Kelas SosiologiSatu nama abadi di dalam kajian psikologi agama di Indonesia adalah Prof. Dr. Zakiyah Darajat. Nama yang sedemikian melegenda dalam khasanah pengembangan ilmu social keislaman dengan tema psikologi agama. Prof. Zakiyah adalah lulusan Al Azhar University yang kemudian memiliki kecenderungan kuat untuk mengembangkan ilmu psikologi integrative, yaitu mengintegrasikan psikologi dan agama. Individu orang Islam yang memiliki sejumlah masalah kejiwaan dan kemudian dijadikan sebagai sasaran kajian yang dipertemukannya dengan ilmu psikologi . Jadilah akhirnya ilmu psikologi agama yang sangat luar biasa.
Sebagaimana yang pernah diceritakan bahwa di dalam seminar internasional di Mesir, maka Prof. Zakiyah diminta untuk menjadi narasumber. Tentu harus memutar otak untuk menemukan tema yang relevan dan dikuasainya. Di tengah kerumitan untuk menemukan masalah yang cocok tersebut, maka ditemukanlah masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam, khususnya di Indonesia, dan kemudian ditinjau dari ilmu psikologi . Pada saat itu belumlah dikenal program islamisasi ilmu atau integrasi ilmu yang sedemikian gegap gempita, sebagaimana sekarang, makanya presentasi di dalam seminar internasional tersebut banyak memantik diskusi, sehingga mengantarkan Prof. Zakiyah Darajad dalam ruang studi baru, psikologi agama. Berkat bukunya Psikologi Agama, Bulan Bintang (1983), makanya Prof. Zakiyah menempatkan namanya dalam jajaran akademisi dengan reputasi unggul dalam citasi puluhan ribu.
Secara terminologis, psikologi agama mempelajari tentang aspek psikologi s dari religiositas atau keberagamaaan seperti pengalaman beragama, identitas keberagamaan, konflik keberagamaan dan kesehatan mental. Pengalaman beragama adalah pengalaman dalam berhubungan dengan realitas supernatural, yang diperoleh oleh seseorang baik melalui berbagai variasi pengalamannya. Pengalaman tersebut harus dikaitkan dengan amalan-amalan agama yang dilakukannya. Misalnya rasa happy setelah berdzikir, ada rasa puas setelah berdoa di malam hari atau misalnya mimpi yang diyakini sebagai symbol-simbol yang mengandung dismensi Misteri Kegaiban, dan pengamalan manusia dalam memasuki ruang “lain” yang berbeda dengan ruang dunia kemanusiaan.
Identitas seseorang dapat ditentukan oleh factor agama. Jika seseorang ditanya apa identitas yang dijadikan sebagai penanda dalam relasi social, maka yang muncul adalah identitas keberagamaan. Saya orang Islam. Di dalam realitas psikologi snya, identitas seseorang dapat terekspresi di dalam outword lookingnya. Pakaian seseorang atau cara orang menampilkan dirinya dapat menjadi penanda atas siapa dirinya. Misalnya, jika seseorang berjenggot lalu jidatnya ada warna hitam dan celananya cingkrang, maka dipastikan orang tersebut adalah penganut Salafi Wahabi. Karena itu adalah identitas dirinya. Sementara itu jika ada perempuan yang menutup seluruh wajahnya dengan burkah, maka juga menjadi identitas bahwa dirinya adalah Muslimah Salafi Wahabi. Demikian juga cara berpakaian orang NU juga akan dapat menggambarkan apa latar social psikologisnya.
Selain itu juga konflik di dalam kehidupan khususnya dalam kehidupan keberagamaan. Ada pertentangan, pertarungan, perbedaan dan bahkan konflik social bernuansa psikologi s. Bisa terjadi konflik di dalam internal diri atau konflik dalam ekternal diri. Konflik di dalam keluarga, dengan tetangga, dengan komunitas dan bahkan masyarakat merupakan konflik eksternal, sementara itu konflik di dalam keyakinan tentang agama dan keyakinan atas kegaiban-kegaiban juga merupakan konflik internal. Manusa akan selalu berurusan dengan masalah, baik masalah internal maupun eksternal. Semua itu akan berpengaruh atas tampilan sikap dan perilaku. Disebabkan problem internal dalam diri , maka akan memancar di dalam wajahnya, tutur katanya dan juga perilakunya yang terdeteksi. Semuanya merupakan ekspresi seseorang di dalam kehidupannya. Psikologi akan dapat mendeteksi atas hal tersebut.
Ada orang yang bahagia dan ada orang yang sengsara. Sa’idun wa saqiyyun. Meskipun kebahagiaan atau kesengsaraan itu urusan batin dan hati, akan tetapi akan tampak di dalam tampilan fisikalnya. Cara orang berpakaian, cara berjalan, cara melihat dan cara bersikap akan dapat menentukan atas bagaimana kondisi kejiwaannya. Islam tentu saja memberikan gambaran tentang orang bahagia itu dengan ungkapan orang yang beriman dan beramal shaleh. Semakin tinggi imannya dan semakin baik amal perbuatannya, maka akan semakin besar peluangnya merengkuh kebahagiaan.
Dunia Barat yang selama ini dinyatakan sebagai dunia secular, akan tetapi akhir-akhir ini justru menghasilkan banyak karya tentang spiritualitas. Di antara buku yang penting adalah karya James M. Nelson, Psychology, Religion and Spirituality, Springer (2009). Sebuah buku yang mengungkap tentang relasi antara psikologi , agama dan spiritualitas. Buku ini membahas dengan mendalam tentang ilmu, agama dan psikologi, pendekatan fenomenologis untuk agama dan spiritualitas, pendekatan psikhodinamis, lalu tentang agama, spiritualitas dan kesehatan mental serta agama, spiritualitas dan kesehatan fisik. Hanya sayangnya bahwa pengalaman psikologi s dari Islam sama sekali tidak dibahas. Hanya pengalaman Buddha, Hindu, Zen dan Kristen atau Katolik. Ini menandakan bahwa kajian tentang psikologi Islam merupakan lahan yang belum mendapatkan sentuhan yang memadai.
Dari sisi teori sesungguhnya ada teori-teori psikologi yang bisa digunakan, misalnya: pandangan bahwa semenjak lahir manusia telah membawa bakat atau potensi. Tokohnya adalah Arthur Schopenhauer. Disebut sebagai aliran pesimistis, sebab manusia akan berkembang selama memiliki bakat yang diberikan kepadanya. Teori yang dikaitkan dengan nativisme adalah teori psikhoanalisis dan humanistik. Tokoh utama dalam psikhoanalisis adalah Sigmund Freud dan tokoh dalam humanistic adalah Abraham Maslow. Teori psikoanalisis, terkait dengan teori struktur kepribadian: id (biologis), Ego (psikologi s) dan superego (sosiologis). Di dalam id yang dominan adalah seksualitas dan agresivitas. Prinsip kesenangan yang bercorak naluriah. Di dalam ego terdapat sistem kepribadian, yang menyeimbangkan antara id dan superego. Di dalam ego terdapat kesadaran yang dibentuk oleh pengaruh luar atau lingkungan. Ego merupakan hasil tindakan yang saling mempengaruhi antara lingkungan dan perkembangan individu. (nursyamcentre.com 23/06/21).
Demikianlah pengantar tentang psikologi transendental yang sungguh menarik untuk dikaji keberlanjutannya. Sesuai dengan prinsip di dalam pengembangan ilmu pengetahuan maka harus dilakukan riset yang memadai agar ilmu tersebut berkembang. The only permanent of science is research.
Wallahu a’lam bi al shawab.

