(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Ajakan Untuk Menulis

Horizon

Oleh: Dr. Abdul Main, M. Hum.

(Widyaiswara BDK Surabaya)

  

Hari Rabu tanggal 16 Desember 2020, saya menerima WhatsApp dari sahabat saya, Imron Rosyadi, yang mengirimkan artikel Prof. Nur Syam berjudul “In Memoriam Cak Bambang Subandi”.  Artikel itu mengabarkan berpulangnya Bambang Subandi ke rahmatullah dan mengulas beberapa sisi tentang almarhum semasa hidupnya disertai pesan-pesan moral yang bisa diteladani bagi sejawatnya di almamater tercinta, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel. Mengingat almarhum semasa hidupnya adalah seorang dosen di sana.  Saya lantas mersespon WhatsApp tersebut dengan satu dua kata ucapan bela sungkawa dan salam eulogi. WhatsApp itu kemudian saya posting ke nomor guru saya Prof. Nur Syam sebagai bentuk penghormatan karena saya menyitir kabar duka itu dari tulisan beliau. 

  

Sungguh di luar dugaan, beliau ternyata merespon dengan sangat positif postingan saya itu seraya mengajak saya untuk menulis di blog nursyamcentere. Saya merasa terhormat atas ajakan Sang Guru Besar dan menyambut gembira seruan untuk menulis. Karena dalam benak saya, menulis setidaknya bisa menjadi ajang komunikasi ilmiah serta mempererat ‘silaturrahmi’ akademik antara murid-guru yang tidak terbatas ruang dan waktu. 

  

Setelah menyatakan kesanggupan untuk berpartisipasi menulis, saya lantas berpikir keras, tema apakah gerangan yang kiranya pantas untuk saya dedikasikan kepada Sang Guru? Untungnya beliau tidak membatasi tema, sebagaimana pesan dalam WhatsApp-nya: “Tema apa saja”. Ya sudah, dengan mengucap ‘Bismillah...’ saya akan belajar menulis, mengalir saja sesuai dengan situasi yang saya hadapi. 

  

Saya teringat  sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh para penulis sukses bahwa “Menulis itu mudah”. Setidaknya hal itu pernah diucapkan oleh penulis sekaligus ulama kenamaan, Prof. Dr. Buya Hamka (1908-1981). Karya-karyanya sangat monumental, seperti Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di bawah Lindungan Ka’bah, Tasawuf Modern, dan lain-lain. Beliau memberi resep menulis, ”Jika ada sepuluh buku dalam suatu bidang ilmu pengetahuan yang sama, engkau baca kesepuluh buku itu lalu engkau tulis, maka akan lahir buku kesebelas. Itulah karya Anda”. Habiburrahman El-Shirazi, penulis novel Ayat-Ayat Cinta, yang karyanya pernah best seller dan mengantarnya ke ”panen” royalty, juga punya prinsip bahwa “Menulis itu mudah”.  Dan masih banyak tokoh-tokoh penulis kenamaan kelas dunia yang berprinsip bahwa “Menulis itu mudah”.

  

Permasalahannya adalah benarkah menulis itu mudah dan bagaimana melakukannya? Banyak eksemplar teoritik yang bisa digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut. Tetapi dalam artikel singkat ini, saya membatasi analisis pada perspektif teoritik bahwa menulis merupakan bagian dari continuum pengetahuan. Artinya ialah menulis itu adalah sebuah proses membangun epistemologi, ontologi, dan aksiologi pengetahuan. Di tengah bangunan ilmu pengetahuan yang demikian luas, kita mencoba ‘menyusun mozaik’ di suatu sudut tertentu sehingga membentuk atau sekurang-kurangnya memberi nuansa baru pada sebuah bangunan tersebut. Henri Poincare (1854-1912), jenius Perancis yang otoritas keilmuannya sempat mendominasi dunia matematika pada akhir abad ke-19 mengatakan: “Ilmu pengetahuan dibangun dari fakta-fakta, seperti sebuah rumah dibangun dari batu-batu bata. Namun suatu kumpulan fakta bukanlah ilmu pengetahuan, seperti halnya setumpukan batu bata bukanlah rumah”. Fakta-fakta itu, yang diperoleh lewat observasi dan eksperimen (data primer), harus dikomunikasikan kepada masyarakat ilmuwan (scientific community) lalu diintegrasikan ke dalam struktur ilmu pengetahuan baru. 

   

Untuk sampai ke tahapan itu tentu saja diperlukan proses panjang mulai dari riset berpandukan metodologi yang ketat sampai pada publikasi hasil riset lewat berbagai saluran komunikasi ilmiah baik cetak maupun elektronik. Berbagai jenis fasilitasi publikasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh para akademisi dan saintis  untuk membangun mozaik keilmuannya masing-masing. Melalui komunikasi ilmiah, para ilmuwan bisa saling mereview karya ilmuwan lain, mengoreksi, mengkritisi, dan beradu argumen untuk mencapai derajat keilmuan yang paling sahih. Oleh karena itu kerap kita baca bahwa suatu temuan seorang ilmuwan disempurnakan oleh ilmuwan di belakangnya. Bahkan pada derajat yang ekstrim, suatu invensi bisa dibatalkan oleh penemuan baru yang lebih adekuat. Selain itu, melalui komunikasi ilmiah, para ilmuwan bisa saling merujuk temuan-temuan ilmuwan lain dan membangun karyanya di atas fondasi yang telah diletakkan oleh para ilmuwan lain. 

  


Baca Juga : Kesinambungan Kepemimpinan: Dari Pisah Sambut Rektor UIN SGD Bandung

Prinsip itulah yang sejak lama diterapkan oleh seorang Bapak Ilmu Fisika Klasik, Isaac Newton (1642-1725) dengan dalilnya: “If I have seen further than others, it is by standing on the shoulders of giants” (Bila saya bisa melihat lebih jauh dari kebanyakan orang, itu karena [saya] berdiri di pundak para raksasa). Tampak di sini, betapa tawadhu’nya seorang Isaac Newton, padahal kepakarannya berpengaruh sepanjang sejarah. Dengan jujur dia mengakui bahwa pengetahuan lebih yang dimilikinya dia bangun di atas karya-karya orang lain yang dipersonifikasi sebagai raksasa. 

  

Berpenjelasan seperti itu, menulis ilmiah mestilah berangkat dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, bukan berangkat dari ruang hampa. Dalil ini tidak dikecualikan untuk jenis tulisan fiksi, meskipun tulisan fiksi bisa diasalkan dari daya imajinasi atau intuisi maupun pengetahuan yang masih tersimpan di dalam corpus of knowledge otak pemiliknya. Ia merupakan jenis pengetahuan juga. Jenis pengetahuan semacam ini dalam teori Knowledge Management disebut sebagai tacit knowledge. Kebalikan dari itu ialah explicit knowledge, yaitu pengetahuan yang telah direkam di dalam berbagai bentuk media. Jenis pengetahuan yang kedua ini maujud di dalam berbagai bentuk publikasi, seperti buku, laporan penelitian, artikel, dsb. (Lihat, misalnya: Kirk (1999) dan  Malhotra (1997). 

  

Persoalan lebih lanjut adalah bagaimana cara menulis atau menciptakan pengetahuan baru dengan menggunakan modalitas dua jenis pengetahuan tersebut?  

  

Seorang ilmuwan asal Jepang, Takeuchi Nonaka (1991), dalam artikelnya yang berjudul: “The knowledge-creating company”, yang terbit di jurnal Harvard Business Review, (November-December), hal. 96-104, mengenalkan teorinya tentang cara menulis atau menciptakan pengetahuan baru. Menurutnya penciptaan pengetahuan baru dapat dilakukan melalui ‘integrasi’ jenis-jenis pengetahuan yang ada melalui empat model konversi pengetahuan sebagai berikut: 

  

Pertama, socialization, yaitu konversi dari tacit knowledge ke tacit knowledge,  yang terjadi ketika seseorang berbagi tacit knowledge secara langsung dengan orang lain, seperti melalui forum diskusi, seminar,  percakapan dan sebagainya sehingga pengetahuan seseorang bisa diserap dan menjadi bagian dari pengetahuan orang lain. Kedua, externalization, yaitu konversi dari tacit knowledge ke explicit knowledge, yang terjadi ketika tacit knowledge diartikulasikan dalam bentuk karya tulis seperti buku, laporan penelitian, artikel, dan sebagainya. Ketiga, combination, yakni konversi dari explicit knowledge  ke explicit knowledge.  Hal ini terjadi ketika seseorang menggabungkan beberapa explicit knowledge yang berbeda ke dalam lingkaran explicit  knowledge yang baru. Cara ini seolah-olah kita “mengklipping” beberapa cuplikan-cuplikan dan “menjahitnya” dengan bahasa kita sendiri. Keempat, internalization, ialah konversi dari explicit knowledge ke tacit knowledge,  yang terjadi ketika explicit knowledge diserap baik oleh individu maupun oleh  organisasi  guna mengembangkan dan memperkaya tacit knowledge-nya. 

  

Keempat model konversi pengetahuan tersebut bisa diterapkan secara terpisah atau  dikombinasikan dengan dua, tiga, atau keempatnya sekaligus. Semakin advance seorang penulis, semakin padat penggabungan beberapa model yang ada. Sebaliknya, bagi penulis pemula,  boleh jadi model kombinasi adalah paling mudah dilakukan, asal banyak membaca. Yang pasti bahwa suatu pengetahuan baru tidak pernah berangkat dari sesuatu yang kosong, melainkan telah ada sejumlah pengetahuan lain yang telah mendahuluinya, baik pengetahuan explicit atau pengetahuan tacit sekalipun.  

   

Namun demikian, para ilmuwan khususnya bidang Knowledge Management, berpandangan bahwa produksi pengetahuan yang mudah diukur adalah explicit knowledge. Jenis pengetahuan ini tercipta dari tradisi intelektual yang panjang dari abad ke abad sehingga perkembangannya melimpah. Terlebih lagi dengan adanya teknologi informasi dan komunukasi, produksi pengetahuan semakin revolusioner. Sedemikian melimpahnya produksi pengetahuan, sampai Ernest Renan, seorang filsuf asal Perancis berkata: “Sekarang anak sekolah paling bodoh pun dengan gampangnya bisa mengetahui kebenaran-kebanaran yang dahulu dicari-cari dengan penuh jerih payah dan berbagai pengorbanan oleh para cendikiawan”. Pantas saja kalau Max Gluxman (1911-1975), seorang Antropolog Oxford University, mendefinisikan ilmu pengetahuan sebagai setiap disiplin yang memungkinkan seorang tolol dari  generasi sekarang untuk melangkah lebih maju melampaui titik yang dicapai jenius generasi yang lalu. 

  

Sampai di sini saya menyimpulkan bahwa menulis itu memang mudah karena sumber-sumber pengetahuan untuk menulis tersedia melimpah di mana-mana. Hanya diperlukan sedikit kemampuan literasi digital kita bisa menguasai sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Apalagi saat ini informasi tersedia di ujung jari kita, tinggal “klik” kita dapat memperoleh informasi dan pengetahuan yang kita butuhkan. Namun demikian, bagi penulis ilmiah, Anda tetap dianjurkan merujuk ke sumber-sumber otoritatif. Sumber-sumber semacam itu bisa dikenali dari berbagai ciri, seperti  otoritas keilmuan penulisnya, reputasi penerbitnya, kebaruan invensinya, relevansi dengan subjek yang sedang ditulis,dan sebagainya.

  

Oleh karena itu saya menyambut ‘ajakan untuk menulis’ sebagai bagian dari  continuum pengetahuan, yaitu proses penciptaan pengetahuan baru secara terus menerus sebagai tanggung jawab intelektual seorang akademisi. Untuk itu, saya harus bisa pertama, mengenali modalitas intelektual yang ada dan yang saya miliki, baik tacit knowledge maupun explicit knowledge serta cara-cara mengonversikannya. Kedua, mengakumulasi modalitas sosial melalui academic networking dengan sahabat akademisi, dosen, rekan kerja, community of interest (COI) dan community of practices (COP), virtual community, serta mitra bestari yang dapat diajak sharing dan kolaborasi pengetahuan tacit. Ketiga, mengenali modalitas struktur, karena sebagai agen dari struktur kelembagaan tertentu, keberadaan kita harus memberi arti bagi lembaga tempat kita bernaung.  Dengan demikian, menulis selain untuk meningkatkan kompetensi diri di dalam turut serta mengembangkan pengetahuan,  juga untuk memperbesar kapasitas corpus of knowledge bagi lembaga.