(Sumber : nursyamcentre.com)

Bupati Fathul Huda : Kenali Dan Kagumi Para Wali

Informasi

"Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang sufi, 'jika ingin menjadi orang yang sukses, maka kenali dan kagumi orang itu. Energi pun ikut mengalir ke dalam diri'."

 

Demikian yang disampaikan oleh Bupati Tuban Fathul Huda di dalam pertemuan bersama tim penyusunan buku jejak para wali di Tuban. Tepat pada tanggal 18 Desember 2020, Bupati Tuban berkumpul bersama seluruh tim di Balai pertemuan pemerintah Kabupaten Tuban dalam rangka melaporkan hasil penelitian dan penggalian data yang telah dilakukan untuk penyusunan dan penulisan buku jejak para wali Tuban.

 

Huda menyampaikan bahwa keinginannya untuk menyusun buku jejak para wali Tuban dilakukan agar para masyarakat khususnya Tuban lebih mengenal dan meneladani para waliyullah yang menyebarkan agama Islam sekaligus tokoh yang turut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Selain itu,  untuk mengungkap para waliyullah yang masih belum banyak diketahui oleh orang.

 

"Tertarik sekali untuk membuat buku jejak para wali. Bukan hanya jejak para wali tapi juga tokoh-tokoh yang sukses. Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang sufi, jika ingin menjadi orang yang sukses, maka kenali dan kagumi orang itu. Energi pun akan mengalir ke dalam diri kita. Jika kita tidak mengenal para wali, bagaimana kita bisa mencintai dan mengagumi? Bagaimana ada energi yang masuk ke dalam diri, jika kita tidak mencintai?," ucap Huda kepada seluruh tim di balai pertemuan, (18/12).

 

Dalam kesempatan ini, Huda menggandeng tim khusus dalam penyusunan buku jejak para wali Tuban yang meliputi, yakni seluruh crew Nur Syam Centre dan para dosen senior Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

 

Penyusunan buku dimulai dengan melakukan penelitian dan penggalian data ke makam-makam wali yang berada di Tuban. Adapun makam-makam wali tersebut tersebar di berbagai kecamatan, yaitu Palang, Semanding, Jenu, Tambakboyo, Merakurak, Kerek, Jatirogo, Singgahan, Parengan, Soko, Gerabangan, Rengel, dan Plumpang.

 

75 Makam Wali

 

Setelah beberapa pekan, tim penyusunan buku jejak para wali Tuban telah menyelesaikan penelitian dan penggalian data di beberapa makam wali, seperti di Kecamatan Merakurak, yaitu Mbah Abdullah Pongan, Mbah Gajah Berguto, Mbah Diro, Mbah Saleh, Mbah Arifin, Mbah Baqi, Mbah Enggot, Mbah Tongli, Mbah Sumigit, Mbah Somad. Selain itu, juga ada di Kecamatan Palang, yaitu Mbah Ibrahim Asmoroqondi, Nyai Ageng Siti Shariah, Mbah Gisikan, Pangeran Gagar Manik Tundung Musuh. Demikian di Kecamatan Kerek, yaitu Sayyid Abdullah, Mbah Yut Ki Tuan, Mbah Imbo, Mbah Kondo, Mbah Kodok


Baca Juga : Tren Keberagamaan Masyarakat Indonesia: Merawat Indonesia (Bagian Tiga)

 

Dan masih banyak makam para wali lainnya yang telah dikunjungi dan diteliti oleh tim, seperti Semanding, Jenu, Tambakboyo, Jatirogo, Singgahan, Parengan, Soko, Gerabangan, Rengel, dan Plumpang yang secara keseluruhan berjumlah 75 makam wali.

 

Sulitnya Meneliti Historis Abad 16 dan 18

 

Demikian Prof.Dr. Nur Syam pembimbing Tim penyusunan buku jejak para wali Tuban mengatakan, penyusunan buku jejak para wali merupakan salah satu ide yang luar biasa. Sebab, melalui penyusunan buku tersebut dapat memberi manfaat pada seluruh masyarakat khususnya Tuban, yaitu lebih mengenal jejak dan dakwah para wali Tuban.

 

"Pikiran yang sangat luar biasa. Orisinal dan sangat baru. secara kemanfaatan sangat luar biasa dalam rangka mengenalkan suatu wilayah yang jejak dakwahnya sangat kuat. Saat ini telah mencapai angka 75 Auliya yang sudah dilakukan penggalian data," jelasnya.

 

Walau begitu, penelitian dan penggalian data yang dilakukan oleh Tim penyusunan buku jejak para wali Tuban di lapangan bukan berarti berjalan lurus begitu saja tanpa kesulitan. Melainkan, justru terdapat tantangan dan kesulitan tersendiri yang harus dialami, seperti harus mengunjungi makam wali saat senja mulai sirna dan matahari pun mulai tenggelam berganti malam,  jarak tempuh antara makam satu dengan makam wali lainnya yang terbilang cukup jauh, makam wali belum dikenal oleh banyak orang, dan sebagian juru kunci minim dalam memberi keterangan terkait makam wali dan jejak dakwahnya.

 

"Menelitinya sangat sulit karena meneliti historis di abad 16 dan 18. Namun, dari penelitian ini justru menemukan banyak hal yang luar biasa dan baru. Kita bisa tahu geneologi kiai serta menemukan berbagai Maesan. Tetap optimis. Sebab nantinya jika buku ini telah terbit akan menjadi sedekah yang luar biasa dan menjadi catatan sejarah yang luar biasa," tutur Nur Syam.

 

Penyebaran Corak Islam Tasawuf dan Dakwah Washatiyah

 

Setelah beberapa bulan melakukan penelitian dan penggalian data di lapangan, tim penyusunan buku jejak wali Tuban mengindentifikasi bahwa penyebaran Islam di Tuban oleh para wali bercorak Islam tasawuf.

 

"Nyaris seluruhnya para wali corak penyebaran Islamnya, yaitu Islam tasawuf dan dakwah Washatiyah. Tapi, tasawufnya apa masih belum tahu," ucap Nur Syam.

 

Nur Syam pun melanjutkan, ia berharap penelitian jejak para wali Tuban dapat terus berlanjut."Harapannya dapat dilanjutkan agar Tuban menjadi kabupaten pertama dalam mendokumentasikan jejak para wali. Bahkan, Tuban menjadi kabupaten pertama di dunia yang mendokumentasikan jejak para wali. Sebab, Malaysia aja belum ada buku yang mendokumentasikan jejak para wali begitu," imbuhnya.

 

Sementara, perbincangan dan perencanaan penelitian sekaligus penggalian data telah dimulai tiga bulan yang lalu yaitu bulan September. Pada bulan September seluruh tim penyusunan buku jejak dan dakwah para wali Tuban melakukan rapat konsolidasi internal tim. Setelah itu, seluruh tim mulai melakukan observasi lokasi dan penggalian data di bulan Oktober yang tersebar di 14 kecamatan dengan jumlah sebanyak 75 makam wali.

 

Dalam penyusunan buku ini, tim mengutamakan nama-nama para wali yang belum ditulis jejak dan dakwahnya di dalam buku manapun, seperti Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony dan Catatan Sejarah 700 Tahun Tuban.

 

Sedang, penulisan buku jejak para wali Tuban, tim akan menuliskan hasil penelitian dan penggalian data dengan model deskripsi naratif yang meliputi, yaitu geneologi wali, historiografi perjuangan dakwah, dan filosofi hidup yang diteladani.  Demikian direncanakan penulisan buku selesai pada tanggal 1 Februari 2021. Lalu, bulan berikutnya yaitu bulan Maret masuk tahap cetak.(Nin)