Kiai Tongli Dai Di Perdesaan Merakurak
KhazanahPendahuluan
Nama Mbah Tongli mungkin sangat aneh di telinga orang Jawa, sebab nyaris tidak ada arti yang bisa dipahami. Tapi begitulah masyarakat di Dusun Banaran Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak Tuban menyebutnya. Nama yang aneh tetapi telah menjadi kelaziman masyarakat di dusun ini menyebutnya dan menghormati keberadaannya.
Desa Sembungrejo Kecamatan Merakturak Tuban terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Banaran di sebelah utara jalan Kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Merakurak dengan Kecamatan Kerek dan menjadi jalur utama ke Pabrik Semen Gresik dari arah Tuban, dan di sebelah selatan Dusun Semampir. Kedua dusun ini diantarai dengan areal persawahan yang cukup luas. Semenjak ditemukan pengeboran air bawah tanah, maka lahan persawahan di sini menjadi subur dan produktif. Masyarakat bisa tiga kali panen, dua kali tanam padi dan sekali jagung atau sekali tanam padi, sekali tanam jagung dan sekali tanam kacang tanah.
Keduanya memiliki artefak makam auliya. Di pekuburan Dusun Semampir terdapat makam Mbah Baqi atau masyarakat lokal menyatakan Mbah Boqa Baqi, atau disebut juga Mbah Al Baqi atau Mbah Jumantoro. Sebagaimana biasanya masyarakat Jawa di masa lalu memiliki dua nama, yaitu nama kelahiran dan nama yang disematkan ketika dewasa. Saya tidak tahu mana yang lebih dahulu, tetapi tradisi ini di masa lalu memang sangat kuat. Bahkan ketika saya berusia belasan tahun masih ditemui pemberian nama seperti itu. Biasanya kala seorang lelaki akan menikah, maka ditambah dengan nama-nama tertentu.
Sedangkan di pekuburan Dusun Banaran terdapat makam Mbah Tongli. Makam ini di masa lalu berada di rerimbunan pohon, orang desa menyebutnya wit pring atau pohon pring atau pohon bambu, yang biasanya dipakai untuk gedek atau dinding rumah tidak permanen, besek atau tempat makanan, sesek atau bahan pembatas rumah, dan banyak kegunaan lainnya. Makam Mbah Tongli sudah tidak lagi dikenal karena rerimbungan pohon bambu tersebut. Namun demikian untuk menandai bahwa di situ terdapat makam penyebar Islam di masa lalu, maka masyarakat menempatkan tanda maesan di sebelah barat rerimbunan pohon bambu.
Melacak Jejak Mbah Tongli
Ketika Bupati Tuban, KH. Fathul Huda, mencanangkan Tuban Bumi Wali, maka masyarakat menjadi bersemangat untuk menelusuri jejak para Auliya dimaksud. Karena tidak didapatkan sumber artefak yang memadai, maka kemudian mereka bertanya kepada para ahli ilmu “kewalian” untuk melihat di mana sebenarnya makam tersebut berada. Melalui penglihatan mata batin, maka dinyatakan bahwa makam itu telah ditimbuni dengan pepohonan bambu yang beranak-pinak di tempat itu. Keyakinan itulah yang kemudian menggerakkan para pemuda desa ini untuk melacak keyakinan tersebut dari berbagai sumber informasi. Ketika keyakinan tersebut sudah didapatkan, maka ditebanglah pohon bambu dan melalui petunjuk keilmuan “batin” maka dibuatlan tempat di mana jasad Mbah Tongli dan isterinya tersebut dikuburkan dan harus dihadirkan kembali.
Mbah Ali atau Mbah Tongli akhirnya dibuatkan makamnya. Menurut Soekarno, ketua tim pelacakan makam Auliya, maka untuk menentukan warna makam itupun harus melalui berbagai macam upaya. Tidak bisa langsung berwarna ini dan di sini. Melalui berbagai riyadhah yang dilakukan akhirnya ditentukan tempat dan warna hijau berpadu dengan warna kelabu. Makanya, keramik yang dijadikan sebagai pelataran makam dan makam berwarna kelabu dan kain penutup maesan berwarna hijau.
Baca Juga : Makna Nasionalisme Religius di Indonesia
Renovasi makam ini terjadi dua tahun yang lalu. Sekarang sudah nyaris selesai dengan bangunan makam dan tempat untuk pengajian berupa bangunan tidak permanen. Bangunan di sebelah makam itu sangat layak dijadikan sebagai tempat untuk mengaji atau beribadah. Di situ juga didirikan langgar kayu, yang dahulu berada di rumah Mbah Yasiran. Langgar mungil dan antic yang cocok untuk wiridan, khususnya di malam hari.
Mbah Tongli ini memiliki relasi genealogi dengan kiai-kiai di Merakurak. Jika mengacu kepada temuan terdahulu (buku Tuban Bumi Wali). Mbah Tongli merupakan putra Mbah Muhammad Sholeh (Mbah Kopi Anggot). Jika silsilah ini benar, maka Mbah Tongli tentu terkait dengan Mbah Anggot yang makamnya terletak di Desa Sugihan Kecamatan Merakurak. Berdasarkan silsilah yang dimiliki oleh Gus Asif, dzurriyah Kiai Sholeh Gemuntur, maka didapati dua nama yang dimakamkan di Dusun Banaran, yaitu Mbah Djumena dan Mbah Darminah. Problemnya adalah apakah Mbah Tongli ini adalah Mbah Jumena itulah yang masih menyisakan pertanyaan, sebab konon katanya di Masjid Banaran juga sebenarnya didapati makam, hanya saja sudah ditutup dengan bangunan permanen. Jadi sudah tidak lagi didapati bekas-bekas makamnya.
Berdasarkan cerita Sukarno, bahwa nama Tongli merupakan kependekan dan pemaduan dari Tong dan Li. Mbah Tongli itu berasal dari Sulawesi Selatan. Tong adalah singkatan dari Tongkonan sebuah nama rumah adat di Toraja. Sebagai seseorang yang berasal dari Sulawesi Selatan, maka nama yang diambil adalah Tong, sedangkan Li adalah akronim dari Ali, maka Tongkanan Ali atau Rumah Adat Ali. Informasi ini tentu agak sulit diterima, sebab Masyarakat Toraja tentu belum mengenal Islam. Maka Tong Li bisa dikaitkan dengan Tun yang biasa digunakan oleh masyarakat Melayu, yang kala itu tentu Islamnya sudah mapan. Dari kata Tun itu kemudian dilafalkan dengan kata Tong oleh orang Jawa. Dengan demikian, kata Tong berarti Tuan atau orang yang dituakan. Jadi kata Tong Li berarti Orang yang dituakan Ali atau Tun Ali.
Semenjak bangunan di makam Mbah Tongli ini dibenahi, maka makam ini menjadi ramai. Setiap malam ada saja anak-anak muda yang meramaikan makam ini dengan zikir. Bahkan menjadi tempat untuk “ngobrol” sampai jam 24.00 WIB atau jam 01. 00 dini hari. Selain itu juga diselenggarakan khaul dan sekaligus sedekah bumi yang dilakukan di makam suci ini. Acara ini dilakukan setelah khaul Kanjeng Sunan Bonang, yang jatuh pada bulan Muharram. Hari disesuaikan dengan saat yang paling tepat. Inti dari khaul adalah yasinan, tahlilan dan masing-masing membawa makanan sekedarnya serta pengajian. Untuk acara pengajian selalu mendatangkan para dai terkenal dari luar daerah.
Analisis awal
Melacak secara historis terhadap para Auliya di masa lalu yang diperkirakan hidup di awal abad ke 19, tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi tidak didapatkan bukti historis apapun. Tidak didapatkan artefaknya, dan cerita-cerita lesan terkait dengan ajaran atau teks-teks yang bisa memperkuat keberadaannya. Sejauh yang bisa didapatkan hanyalah sumber keyakinan bahwa di tempat tersebut terdapat makam Auliya, meskipun sudah tidak didapati bukti-buktinya.
Namun jika memperhatikan terhadap catatan-catatan di dalam sumber-sumber yang juga masih dipertanyakan autentisitasnya, maka para Auliya di Kecamatan Merakurak, khususnya di Desa Senori, Kapu, Sembungrejo, Sugihan, Tuwiri Wetan, dan lainnya tentu menunjukkan adanya sistem kekerabatan. Jika kita menggunakan logika bahwa setiap putera para wali harus menyebarkan Islam, maka harus membuka lahan baru untuk berdakwah. Maka bisa diyakini bahwa mereka yang dimakamkan di tempat itu adalah para generasi penerus dari wali yang lebih dulu, lalu membuka daerah, mendirikan tempat pembelajaran agama Islam, dan mengislamkan warga setempat.
Para Auliya ini mengembangkan Islam sebagaimana diajarkan oleh para leluhurnya, khususnya orang tuanya, dan mengembangkannya di kalangan masyarakat. Kita berkeyainan bahwa ajaran agama yang diajarkannya adalah Islam yang bercorak esoteris atau Islam tasawuf.
Wallahu a’lam bi al shawab.

