Tren Keberagamaan Masyarakat Indonesia: Merawat Indonesia (Bagian Tiga)
OpiniArah ke depan adalah era semakin menguatnya penggunaan teknologi informasi. Artinya, bahwa teknologi informasi di dalam banyak hal akan menjadi salah satu instrumen untuk menghadapi kenyataan kehidupan. Misalnya ke depan akan semakin banyak robot pintar yang dapat menggantikan peran manusia. Robot untuk membersihkan rumah, robot untuk pelayanan rumah tangga, robot untuk menggantikan pekerjaan kantor, bahkan robot untuk kepentingan perang. Di masa depan perang itu bukan lagi bertentara manusia akan tetapi bertentara robot. Sekarang saja sudah banyak sopir angkutan umum yang digantikan oleh robot. Pengendara kendaraan darat dapat digantikan oleh AI, pilot helikopter bisa digantikan oleh AI dan pekerjaan-pekerjaan beresiko dapat digantikan oleh robot pintar.
Belum lagi penggunaan AI yang juga semakin masif. Anak-anak Sekolah Dasar sudah belajar dengan ChatGPT untuk menyelesaikan soal-soal matematika, fisika, kimia dan biologi. Belum lagi penggunaan Copilot, deepseek dan sebagainya. Mengikuti Hasil Survey Alvara Research Center, tentang para pengguna AI (2024), maka dapat dinyatakan bahwa pengguna AI dapat ditipologikan dengan AI Antusias, AI Adopter dan AI Skeptis. Ada semacam kekhawatiran bahwa penggunaan AI akan dapat menyebabkan kemalasan berpikir sebab berbagai macam soal dapat dicari dan ditanyakan jawabannya pada ChatGPT. Para AI Antusias jangan sampai menjadikan AI sebagai proyek yang dapat mematikan rasionalitas. Killing Thinking: The Death of Rationality. Bahkan jika keterusan akan menjadikan era Killing Thinking: the Death of Expertise. Semuanya diserahkan ke AI sehingga tidak ada ruang manusia untuk berpikir. Tom Nichols (2017) sudah mengingatkan akan hal ini. Makanya diperlukan AI Antusias-Kritis. Menjadikan AI sebagai mitra yang memperjelas kemampuan kritis di dalam berpikir.
Berbagai tantangan ini yang saya kira perlu dipikirkan secara mendalam oleh para pemerhati masa depan. Untuk merawat Indonesia, mari kita sadari: pertama, Fundamentalisme dan Radikalisme masih di sekitar kita (Nur Syam, Islam Nusantara Berkemajuan (2017). Salah satu kekuatan beragama di Indonesia adalah kuatnya pemahaman dan pengamalan beragama berbasis wasathiyah atau beragama yang berada di dalam nuansa moderat. Tidak mengarahkan kepada beragama yang menuju ke ekstrim kanan dan kiri. Ekstrim kanan akan menghasilkan tindakan beragama yang penuh kekerasan, baik simbolik atau aktual, dan yang bersearah ke kiri menuju ke atheisme dan kebebasan tanpa batas.
Beragama harus menyeimbangkan antara teks dan konteks. Jangan hanya membaca agama secara textual yang menyebabkan fundamentalisme dan radikalisme, sedangkan yang kontekstual saja akan menyebabkan kebebasan dalam menafsirkan agama bahkan lepas dari teksnya. Itulah sebabnya masyarakat Indonesia harus menjaga pemahaman dan pengamalan beragama yang berada di dalam konteks moderat menjadi sangat mendasar.
Kedua, Produksi Wacana Islamis masih terdapat di Indonesia, khususnya pendidikan (Noorhaedy Hasan, Literatur Generasi Milenial, 2018). Masih banyak dijumpai kesalahan di dalam memahami konsep jihad, hijrah, khilafah, perang, dan sebagainya. Agama apapun terdapat teks yang menjelaskan tentang bagaimana mempertahankan keyakinannya dan melawan atas orang yang dianggap akan merusak ajaran agamanya. Jihad misalnya hanya ditafsirkan perang dan arti lain tidak ada. Padahal arti jihad sangat variatif sesuai dengan konteksnya. Banyak di antara para pelaku radikalisme bahkan terorisme yang salah memahami pemikiran Ibnu Taimiyah tentang jihad. Harakah jihadiyah itu hanya ada pada wilayah atau negeri yang berada di dalam peperangan. Disertasi Muhammad Saifuddin Umar alias Abu Fida yang meneliti tentang “Membaca Ulang Ibnu Taimiyah, Melacak Akar Radikalisme dalam Pemaknaan Jihad di Indonesia” (2025), dinyatakan secara tegas bahwa pemaknaan jihad secara tekstual atas pemikiran Ibnu Taimiyah bagi para radikalis di Indonesia merupakan pemikiran yang mereduksi gagasan jihad Ibnu Taimiyah. Kesalahan dalam memahami konteks jihad dalam pemikiran Ibnu Taimiyah inilah yang menyebabkan para teroris melakukan teror di negeri-negeri yang damai.
Di Arab Saudi sedang dilakukan upaya untuk membersihkan akar-akar radikalisme terutama di dalam dunia pendidikan. MBS telah menghapus 360.000 konten buku pelajaran yang mengandung kekerasan (nursyamcentre.com “MBS, Salafi Wahabi dan Modernisasi Arab” (10/04/23). Juga dilakukan upaya untuk membatasi gerakan ulama-ulama yang mengajarkan tentang radikalisme. Upaya ini tentu saja memicu gerakan ulama untuk eksodus ke negeri-negeri yang lebih longgar tentang pemahaman salafismenya. Dan hipotesis saya, bahwa akan terjadi gelombang kedua hijrah para ulama Timur Tengah, khususnya Arab Saudi ke negeri-negeri lain, termasuk Indonesia untuk menyebarkan tentang Islam Salafisme. Gelombang pertama adalah hijrah kaum sufi ke negara-negara lain untuk menyebarkan Islam namun dalam bentuknya yang sufistik.
Ketiga, Melanjutkan Gerakan Moderasi Beragama bersubstansi Beragama Berbasis Cinta. Jangan dipertentangkan Gerakan Moderasi Beragama (GMB) dengan Beragama Berbasis Cinta (BBC). Keduanya sebagaimana Buah dengan kulit dan isinya. Yang luar adalah GMB dan substansinya adalah BBC. Jika seseorang mengamalkan moderasi beragama dipastikan akan mengamalkan ajaran islam yang penuh cinta dan kasih sayang. Islam wasathiyah adalah tampilan luar ekspresinya, sedangkan BBC adalah substansi etikanya. Semangat atau ethosnya. Ekspresinya adalah wasathiyah dan semangatnya adalah BBC.
Di dalam konteks Keindonesiaan, maka BBC diperlukan untuk mengembangkan Panca Cinta: Mencintai Allah dan Rasulnya, Mencintai Ilmu, Mencintai Lingkungan, Mencintai diri dan kemanusiaan dan Mencintai Tanah Air. Yang harus dilakukan adalah memperkuat kurikulum pendidikan integratif dalam corak Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Kurikulum Berbasis Ekoteologi (KET). Panca cinta akan dapat menjadi ethos bagi manusia Indonesia untuk menyelamatkan Indonesia. Di era sekarang, misalnya dengan Panca Cinta akan menjadikan alam sebagai subyek dan bukan obyek. Mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW sesungguhnya adalah mencintai alam. Manusia dan alam sama-sama ciptaan Allah sehingga manusia harus memahami akan arti pentingnya simbiosis mutalisme atau saling membutuhkan antara manusia dan alam.
Ke depan harus diimplementasikan trilogi harakah, yaitu: “dari harakah jihadiyah ke harakah ijtihadiyah ke harakah ijtimaiyah”. Kita tidak menghilangkan arti dan keberadaan jihad, khilafah dan hijrah, akan tetapi menggeser makna yang dikandungnya. Jihad terdapat di dalam teks, ijtihad juga terdapat di dalam teks, tetapi secara empiris harus dikembangkan makna jihad yang bersesuaian dengan makna ijtihad dan kemudian diimplementasikan ke dalam makna ijtimaiyah. Semuanya untuk mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Tugas merawat Indonesia adalah tugas bersama. Semuanya harus terlibat di dalam merawat Indonesia. Pemerintah, para ulama dan tokoh agama, organisasi sosial, keagamaan, politik, bisnis, budaya, LSM dan masyarakat umum. Seluruhnya harus bergandeng tangan untuk menyelamatkan manusia dan alam. Bumi merupakan titipan generasi yang akan datang untuk kita. Sebagai titipan tentu harus dikembalikan dalam keadaan utuh.
Wallahu a’lam bi al shawab.

