(Sumber : FIB Unair )

Manusia, Mitos dan Lingkungan: Relasi Mitos dan Benteng Moralitas

Horizon

Oleh: Dr. Agus Firmansyah, M.Pd 

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi 

  

Mitos dalam bentuk pamali mendapat dua respon dalam Masyarakat. Satu kelompok menolak pamali tersebut dan berpikir bahwa itu menyesatkan. Kata menyesatkan yang dimaksud  adalah pamali tersebut dianggap suatu ajaran dan keyakinan serta memiliki kekuatan akan terjadi. Bahkan dianggap tahkahayul dan  khurafat. Sebagian kelompok beranggapan bahwa pamali tersebut merupakan cara termuda untuk memberikan efek jera bagi perilaku yang  melanggar moralitas dengan adanya karma yang sifatnya negative dan mudah difahami. Dari dua kelompok tersebut perlu dijembati dengan mengkaji mitos dalam bentuk pamali dengan kajian yang mendalam.

  

Mitos merupakan bagian dari kebudayaan dan kepercayaan orang jawa. Mitos dalam bentuk lisan yang hidup dalam lingkungan Masyarakat sering disebut pamali. Pamali merupakan ungkapan lisan yang syarat akan makna dihubungkan terhadap karma atau akibat bagi pelakunya. Sebagian orang jawa masih percaya dengan pamali tersebut berpengaruh terhadap kehidupan seseoarang. Masyarakat jawa percaya bahwa pamali tersebut akan terjadi apabila dilanggar. Pamali tersebut perlu dikaji secara mendalam dalam cara padang demitologiasasi. Demitologisasi merupakan kajian terhadap mitos-mitos yang terdapat kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Demitologisasi memberikan maka baru tanpa menghilangkan mitos tersebut. Makna baru tersebut cenderung menyingkap tujuan dan basis rasional dari mitos.

  

Demitologisasi tersebut dapat digunakan untuk menganalisis pamali yang berkembang pada Masyarakat. Pamali-pamali yang dibangun bertujuan untuk benteng moralitas bagi Masyarakat. Penambahan karma pada bagian akhir kalimat merupakan hal yang paling mudah untuk diingat sehingga dapat memberikan efek jera bagi Masyarakat. Adapun beberapa pamali dalam Masyarakat jawa yaitu: pertama, Cah wedok aja lungguh ning ngarep lawang, mengko angel golek jodoh. Kalimat tersebut terdiri dari dua frasa yaitu cah wedok aja lungguh ngarep lawang artinya perempua tidak boleh duduk di depan  pintu. Frasa yang kedua yaitu mengko angel golek jodoh artinya nanti sulit dapat jodoh. Frasa kedua merupakan akibat yang berhubungan fase siklus manusia yang mudah difahami yaitu pernikahan. Berdasarkan demitologisasi  tujuan dan basis rasional makna  kalimat tersebut bahwa  perilaku duduk di depan pintu merupakan perilaku yang tidak sesuai norma masyrakat. Pintu rumah merupakan tempat keluar masuknya orang. Orang yang duduk di depan pintu mengganggu lalu lintas orang keluar masuk. Hal tersebut memberikan pesan etika bahwa menjaga kenyaman keluarga dan tamu merupakan nilai penting dalam Masyarakat jawa. 

  

Kedua, Aja lungguh ning bantal mengko ndak bisulen. Kalimat  tersebut terdpaat pola sebab akibat. Frasa sebab yaitu ojo lungguh ning bantal artinya jangan duduk di bantal untuk tidur. Frasa akibat yaitu mengko ndak bisulen artinya nanti kamu kena penyakit bisul. Frasa yang kedua merupakan ungkapan yang mudah diterima dan berkaitan dampak buruk bagi pelaku. Tujuan dan basis rasional yang dibangun adalah bahwa duduk dibantal merupakan perilaku yang kurang tempat. Bantal merupakan menaruh kepala ketika tidur. Bantal yang digunakan meletakkkan kepada kita malah digunakan untuk pantat. Bagi orang jawa kepala merupakan simbol penghormatan. 

  

Ketiga, Mangan aja karo turu mengko ndak dadi ulo. Kalimat  tersebut mengandung frasa sebab- akibat. Frasa sebab yaitu mangan aja karo turu yaitu  jangan makan sambil tidur. Fsara akibat ndak dadi ulo artinya kamu akan jadi hewan ular. Akibat yang ditampilkan sifatnya karma yang mudah difahami. Meskipun hal tersebut tidak terjadi pada pelakunya, tetapi terdapat tujuan dan basis rasional yang dibangun  makan sambil tidur menganggu metabolisme tubuh selain itu sisa makanan bisa tersebut mendapatangkanhewandan kotornya tempat tidur. Moralitas yang dibangun tersebut berdampak pada kesehatan dan ekologi.

  

Berbagai ucapan yang kadang irrasional tersebut memiliki fungsi yan efektif dalam pembetukan karakter Masyarakat. Karakter tersebut dihadirkan dalam tradisi lisan dengan pemberian dampak yang yang mudah difahami. Ada beberapa kata kunci dalam memahami ungkapan yang dinggap irrasional yaitu idea moral atau subtansi yang mau dibaun dalam ungkapan tersebut. Idea moral dan subtansi perilaku tersebut memberikan bekas yang mendapat bagi Pendidikan. Berdasarkan penjeasantersebut dapat diambil beberapa hal penting bahwa yaitu pertama, ungkapan atau pamali merupakan tradisi lisan dari Masyarakat local untuk menanamkan nilai-nilai moralitas. Kedua, pemhaman secara subtansi atau mencari idea moral dari ungkapan itu menjadi bagian utama yang perlu dijelaskan. Ketiga, mempertahankan ungkapan pamali merupakan bentuk melestarikan budaya local. Hal tersebut data difahami dari alur berikut: