Saatnya Generasi Milenial Memimpin Daerah
OpiniBagaimanapun kita harus mengapresiasi pilkada serentak di seluruh Indonesia. Pilkada kali ini memang berada di dalam suasana pandemi Covid-19 yang menghantui semua masyarakat, tidak hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia. Covid-19 sungguh merupakan hantu di siang bolong, yang membuat masyarakat dunia dan juga para pemimpin dunia mengernyitkan dahi karena pandemi Covid-19 bisa mengancam terjadinya resesi dunia.
Di masa lalu, pemilihan umum (pemilu) khususnya pemilihan para wakil rakyat atau DPR itu dianggap sebagai pesta demokrasi. Pada masa Orde Baru, pemilu hanya untuk memilih para wakil rakyat yang akan duduk di DPR dan DPRD, sebab presiden/wakil presiden dan gubernur atau bupati dipilih oleh DPR/DPRD. Masa itu adalah saat demokrasi perwakilan menjadi andalan di dalam pelaksanaan demokrasi. Yang dominan adalah partai politik, sebab yang melakukan kampanye adalah partai politik, seperti PPP, Golkar, dan PDI melakukan kampanye untuk meraup suara dalam pemilihan para wakil rakyat.
Di era sekarang atau lebih tepatnya di era Orde Reformasi, pemilu atau pilkada dilakukan untuk memilih pimpinan nasional atau pimpinan daerah. Makanya dikenal ada pemilu legislatif untuk memilih wakil rakyat di DPR atau DPRD. Era reformasi tidak lagi sebagaimana pemilu di era Orde Baru, yang seseorang akan memilih partai politik tetapi memilih individu, calon anggota legislatif atau calon presiden/wakil presiden atau gubernur/wakil gubernur atau bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, hiruk pikuk pemilihan bukan pada partai politik tetapi pada individu-individu yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau pimpinan nasional/pimpinan daerah.
Meskipun pilkada kali ini diselenggarakan pada saat pandemi Covid-19, namun tingkat kesemarakan pilkada juga tetap terjaga. Sebelumnya ada banyak kekhawatiran tentang terjadinya kerumunan yang merupakan pelanggaran atas protokol kesehatan, akan tetapi ternyata masyarakat sudah menyadari bahwa pilkada harus dilakukan tetapi kerumunan tidak boleh terjadi. Pilkada Yes, kerumunan No. Memang harus diakui bahwa tingkat partisipasi warga untuk datang ke TPS memang berkurang, namun sama sekali tidak mengurangi makna demokrasi langsung yang dilakukan kali ini.
Dari hasil perhitungan quick count yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey telah menempatkan para pemenang dalam pilkada. Dan yang menarik para pemenangnya itu termasuk generasi milenial, bahkan usianya kurang dari 35 tahun. Jika kita menggunakan standarisasi generasi milenial sebagaimana diungkapkan oleh lembaga-lembaga survey, maka yang dimasukkan dalam generasi milenial adalah yang berusia di bawah 37 tahun. Mereka yang lahir tahun tahun 1990-an adalah bagian dari generasi milenial ini.
Di antara yang berusia kurang dari 35 tahun tersebut adalah: Hulu Rezita Meylani Yopi (26 tahun) Cabup Indragiri, Indrata Nur Bayu Aji (27 tahun) Cabup Pacitan, Aditya Halindra Faridzky (28 tahun) Cabup Tuban, Haninditho Himawan (28 tahun) Cabup Kediri, Vindiko Timotius Gultom (28 tahun) Cabup Samosir, Ahmad Muhdlor (29 tahun) cabup Sidoarjo, Bobby Nasution (29 tahun) Cawali Medan, Mochamad Nur Arifin (30 tahun) Cabup Trenggalek, dan Gibran Rakabuming (33 Tahun) Cawali Solo. (JP/14/12/2020).
Sungguh merupakan keunikan di kala terdapat generasi milenial menjadi pimpinan daerah, sebab menjadi pemimpin di dalam tradisi Nusantara itu adalah orang yang dituakan dengan beberapa ciri khas yang relevan dengan kebudayaannya tersebut. Di dalam tradisi Jawa khususnya, seorang pemimpin itu harus memenuhi prinsip “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa lan tut wuri andayani”. Di kala pemimpin itu berada di depan masyarakatnya, maka harus memberi keteladanan, jika berada di tengah masyarakatnya harus memberikan support kemajuan dan di belakang harus mendorong agar kemajuan dapat diraih. Itulah sebabnya di dalam filsafat kepemimpinan Jawa dikenal konsep pamong atau orang yang mengasuh dan memelihara kebaikan. Di dalam cerita pewayangan, maka Semar itu bukan batur atau pembantu, akan tetapi pamong atau pengasuh para Pandawa.
Sekarang adalah eranya para pemimpin berusia muda. Artinya banyak filsafat Jawa yang sudah tidak lagi relevan, seperti pemimpin itu harus senior, pemimpin harus berpengalaman dan pemimpin itu harus menjadi teladan. Era sekarang adalah era di mana seseorang bisa menjadi pemimpin karena akseptabilitasnya di masyarakat, dan tidak perlu diketahui dari mana akseptabilitasnya tersebut berasal. Bisa karena modal ekonomi, sosial atau lainnya. Namun yang jelas bahwa mereka terpilih dalam pemilihan terbuka dan bersistem, sehingga hasilnya meyakinkan masyarakat bahwa dialah yang memamg terpilih.
Generasi milenial memang memiliki talenta untuk melakukan eksplorasi dan belajar dari pengalaman, selain itu juga kemampuan berkolaborasi dan penguasaan teknologi yang sangat baik. Oleh karena itu jika para generasi milenial yang menjadi pimpinan daerah ini dapat mengoptimalkan ciri khas yang dimilikinya, bukan tidak mungkin mereka akan berhasil. Dengan catatan bahwa memimpin dunia birokrasi tentu sangat berbeda dengan memenej dunia usaha atau bisnis. Para generasi milenal ini harus menarik gerbong besar dan sudah tua, sehingga diperlukan tenaga ekstra dan kemampuan ekstra ordinary untuk mendorongnya dan menariknya.
Pengalaman mereka yang minim dalam mengelola birokrasi yang gendut dan lamban tentu menjadi tantangannya tersendiri. Andi Widjajanto yang menjadi sekretaris cabinet pada Kabinet Indonesia kerja jilid satu terpelanting. Nadiem M. Makarim yang berhasil mendirikan Perusahaan GoJek juga mengalami kendala yang luar biasa dalam mengelola demokrasi. Semua orang berharap bahwa Nadiem akan bisa membawa perubahan yang signifikan, tetapi ternyata juga tidak sebesar harapan masyarakat akan prestasinya sebagai menteri. Memang mengelola birokrasi itu sebagaimana akan membelokkan kapal besar dengan penumpang penuh sementara itu power steering tidak memadai. Maka akan mengalami kendala yang besar.
Mungkin yang masih bisa diharapkan adalah talenta muda dengan keinginan untuk melakukan inovasi terutama terkait dengan pelayanan publik. Jika ini yang dilakukan, maka contoh ekselen sudah diberikan oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (2010-2020), seorang Bupati dengan usia relatif muda dan berhasil melakukan inovasi pelayanan yang luar biasa berbasis teknologi informasi. Upayanya untuk memberikan pelayanan nir-contact fisikal dan hanya dengan menggunakan basis online, saya kira bisa menjadi teladan yang baik dalam mengelola birokrasi. Apalagi pemerintah sudah mencanangkan tahun Birokrasi Go International tahun 2025. Maka tidak ada pilihan lain kecuali para pemimpin milenial itu harus berjibaku dalam mengejar era baru birokrasi.
Generasi milenial yang baru saja terpilih ini sedang menghadapi era yang luar biasa dan tantangan yang luar biasa pula. Oleh karena itu hanya dengan kerja cerdas dan kerja keras harapan masyarakat tentang birokrasi yang melayani itu akan terwujud. Dan tantangan ini tentu sudah disadari sepenuhnya oleh para pemimpin milenial. Go ahead para milenial yang menjadi pimpinan daerah.
Wallahu a’lam bi al shawab.

