(Sumber : Kompasiana.com)

Aktivitas di Bawah Bangjo: Sebuah Potret Ketimpangan Sosial

Horizon

Oleh: Hartini

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Aktivitas di bawah lampu Bangjo ini banyak kita jumpai. Berbagai kegiatan yang dilakukan di antaranya, Penyanyi jalanan, Pembersih kaca mobil, Pengemis dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang seirama dengan hal tersebut. 

  

Inilah fenomena kehidupan social yang masih kita lihat dan kita rasakan. Bagi pengguna jalan, ada yang merasa kasihan dengan mengulurkan recehan. Bagi sebagian yang lain, ada yang memberi dengan perasaan yang tidak ihlas dengan mengeluarkan kata-kata mengumpat. Ada pula yang sama sekali tidak memberi atau mengabaikan saja. 

  

Fenomena potret kepincangan kehidupan perekonomian ini, masih banyak kita jumpai di negara kita tercinta. Timbul pertanyaan, apakah memang kehidupan mereka di bawah keterbatasan ataukah mereka ini orang-orang yang malas?. Apakah yang mereka lakukan itu membantu orang lain atau sebaliknya mengganggu orang lain?

  

Aktivitas mereka lakukan pada saat lampu merah menyala, mereka beraksi menyanyi, membersihkan kaca mobil, dan lainnya yang terkadang orang lain tidak membutuhkan apa yang mereka kerjakan. Bahkan terkesan mengganggu perjalanan pengguna jalan. Menyanyi dengan syair yang tidak utuh dan belum tentu menghibur, membersihkan kaca mobil yang sudah bersih, malah terkesan mengotori mobil yang sudah bersih. Terkadang mereka meminta uang dengan setengah memaksa, kalau tidak diberi kelihatan kesal dan mengomel bahkan ada yang tega mencoret-coret mobil pengguna jalan. Hal inilah yang harus dicari jawaban dan solusinya. Mengapa mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka tidak mempunyai pekerjaan yang lain? Ataukah mereka yang hanya suka bermalas-malasan?. 

  

Kadang mereka bukan orang yang malas, tetapi orang yang terjepit keadaan. Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan kehidupan global yang membutuhkan tenaga-tenaga ahli dalam bekerja. 

  

Pemerintah melihat kondisi ini, juga tidak tinggal diam. Banyak kesempatan yang diberikan dengan memberikan pelatihan-pelatihan untuk memberi bekal keterampilan. Hanya saja kesempatan ini tidak sampai kepada mereka. 

Kehidupan mereka akan berubah, manakala mereka menjadi orang yang berilmu. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: \"Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: \"Berlapang-lapanglah dalam majlis\", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: \"Berdirilah kamu\", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.\"

  

Kata “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” jelas memberi inspirasi kepada kita, bahwa orang yang beriman dan orang yang berilmu, akan diangkat derajatnya dalam artian mempunyai kelebihan dan kelapangan dibanding orang lain. 

  

Kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa kalua ingin merubah fenomena di atas, maka bangsa Indonesia harus mampu membuat masyarakatnya berpendidikan yang dapat mengubah perilaku/attitude, pengetahuan/knowledge, keterampilan/psikomotorik warga negaranya.