(Sumber : Web UINSATU)

Pendidikan untuk Masa Depan: UINSATU Untuk Bangsa (1)

Opini

Acara Yudisium tentu merupakan upacara penting di dalam rangkaian upacara-upacara sacral bagi perguruan tinggi. Upacara Yudisium biasanya dilakukan sebelum upacara yang lebih besar yaitu upacara wisuda yang dilakukan di tingkat universitas atau institute. Upacara ini biasanya dilakukan pada level fakultas atau program studi. Tetapi yang biasa dilakukan pada level fakultas. 

  

Pada hari Kamis, 27/07/2023, saya diundang oleh Direktur Pascasarjana Universitas Sayyid Ali Rahmatullah (UINSATU) Tulungagung, Prof. Dr. Akhyak, MAg untuk menjadi narasumber yang lazim disebut sebagai orasi ilmiah sebagai pembekalan pada para mahasiswa yang akan diwisuda. Acara ini dihadiri oleh wakil direktur, ketua prodi, dan juga para pejabat di UINSATU, dan para mahasiswa yang berjumlah 79 orang. Mereka lulusan dari program doctor Islamic studies dan Manajemen Pendidikan Islam, serta magister dari berbagai cabang keilmuan di UINSATU. Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam acara ini, yaitu:

  

Pertama, ucapan selamat atas terselenggaranya upacara Yudisium, yang merupakan upacara pelepasan para doctor dan magister yang telah menyelesaikan pendidikan pada UINSATU. Saya sungguh berbangga bahwa para mahasiswa telah menyelesaikan tahapan-demi tahapan dalam program pendidikan. Bagi yang sudah doktor tentu merupakan rangkaian akhir dalam program pendidikan tinggi, sedangkan yang magister masih ada jenjang lebih lanjut dalam program pendidikan yaitu untuk mencapai gelar doctor. Saya selalu menyatakan bahwa gelar magister atau doctor bukan akhir segalanya di dalam dunia pendidikan, sebab setelah ini tantangannya adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah diperolehnya dengan berbagai inovasi dan upaya untuk memajukan pendidikan bahkan juga memajukan aspek social, ekonomi, agama  bahkan politik. 

  

Kedua, saya termasuk orang yang sangat mengapresiasi perubahan cepat yang dilakukan oleh Civitas Akademika UINSATU. Di bawah kepemimpinan Prof. Maftuhin, maka perubahan cepat tersebut dapat tercapai. Dalam waktu yang hanya 5 tahun, maka terjadi lompatan spektakuler secara kelembagaan, yaitu dari STAIN, Ke IAIN dan berujung ke UIN. Sangat luar biasa. Ini semua terjadi karena dukungan semua pihak yang secara kolegial dan kebersamaan dapat bekerja sama untuk mencapai keberhasilan. Saya berharap kepemimpinan yang datang akan dapat melakukan hal serupa dalam kerangka mengembangkan UINSATU, misalnya upaya untuk memperoleh pengakuan atau rekognisi internasional. 

  

Ketiga, Pendidikan untuk pengembangan bangsa. Para ahli pendidikan bersepakatat bahwa pendidikan merupakan  instrumen terbaik bagi pengembangan manusia (SDM). Indonesia di masa depan terletak pada kualitas pendidikannya. Dari sebanyak 17 sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN 2019-2024, maka empat yang penting adalah: Indonesia tanpa kelaparan. Indonesia tanpa kemiskinan. Indonesia Sehat,  dan Pendidikan berkualitas. 

  

Namun di dalam kualitas pendidikan, Indonesia masih kalah dengan beberapa negara tetangga, misalnya Singapura, Malaysia dan Thailand. Dalam data Global Human Capital Report, Indonesia berada pada peringkat 65 dari 130 negara dalam bidang pendidikan. Kualitas pendidikan Indonesia berada pada ranking yang rendah. Misalnya dalam kemampuan membaca berada pada peringkat 74, kemampuan matematika peringkat 44 dari 49 negara. Di dalam Global Eduacation  Monitoring UNESCO Indonesia berada pada peringkat lima terbawah dari 14 negara yang disurvey.

  

Kuantitas lulusan pendidikan tinggi juga masih rendah, kira-kira baru enam persen, dengan rincian jumlah sarjana  sebanyak 12.081.571 orang, Magister sebanyak 855.757 orang, Doktor sebanyak  61.271 orang. Data ini juga memberikan gambaran bahwa penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi hanya sebanyak enam persen. (https://databoks.katadata,co.id  27/05/23). Seharusnya jumlah ideal dari penduduk Indonesia yang Sarjana, Magister dan Doktor berjumlah 30 persen populasi Indonesia. Di dalam kerangka penguatan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, maka sekurang-kurangnya terdapat sebanyak 20 variabel. Dari 20 variabel tersebut harus disepakati dan ditentukan mana yang dianggap not only interesting but urgent. Sedangkan langkah yang bisa ditempuh adalah dengan membuat  pemetaan masalah yang mendasar sehingga dapat dikenali masalah-masalahnya. Kemudian  temukan alternatif untuk pemecahannya. Lalu temukan siapa yang bertanggung jawab. Kemudian temukan alternatif anggaranya dan yang tidak kalah penting adalah tentukan alternatif waktu atau time schedule yang tepat.

  

Dari 20 variabel tersebut adalah: kualitas outcome, kualitas kepemimpinan, kualitas program studi, kualitas manajemen kelembagaan, tingkat kinerja tenaga kependidikan, kualitas sarana dan prasarana, profesionalitas dosen, kualitas akreditasi program studi/institusi, kualitas proses belajar mengajar, kualitas pengakuan internasional, kelengkapan perpustakaan, laboratorium, tingkat kedisiplinan tenaga kependidikan, kualitas gelar akademik, kualitas karya akademik dosen, kualitas kinerja tenaga kependidikan, kepemimpinan Pancasilais, pembelajaran berbasis it, kualitas lingkungan akademik, dan budaya kerja.

   

Saya telah banyak menyampaikan hal ini terutama di kalangan pimpinan PTKIN. Bahwa keunggulan pendidikan tinggi itu sesungguhnya tergantung pada visi dan misi yang shared bagi seluruh civitas akademika. Visi pimpinan PTKIN tentu untuk mewujudkan keunggulan dalam aspek yang sesuai dengan masa depan, misalnya unggul dalam program integrasi ilmu yang relevan dengan, Keislaman, Keindonesiaan dan kemoderenan di dalam bingkai  budaya Indonesia atau budaya daerah, yang memiliki cakupan internasional atau nasional dan visi tersebut akan dapat dicapai pada tahun yang terukur. Visi itu harus memenuhi SMART yang merupakan kependekan dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Time-bound goals. 

  

Visi adalah cita-cita, setengah cita-cita adalah setengah usaha, dan setengah usaha adalah setengah keberhasilan. Pemimpin harus memiliki visi ke mana kapal akan diarahkan. Sebuah ungkapan Kyai Wahid Hasyim bahwa seorang pemimpin itu ibarat nakhoda yang menjalankan kapalnya, agar sampai kepada pantai yang diidamkan,  maka nakhoda harus tahu ke mana kapal harus diarahkan. Jika tidak tahu, maka kapal akan terombang ambing di tengah lautan dan tidak tahu arah mana yang harus ditempuh.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.