(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Berawal Dari Laila Majnun Cinta Kepada Tuhan Tanpa Alasan

Horizon

Oleh: Halimatus Sa’diyah

Mahasiswi KPI Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

“Masa telah berlalu, saat banyak manusia meminta bantuan kepadaku. 

Dan kini, adakah seorang penolong yang akan mengabarkan rahasia jiwaku kepada Layla? Wahai Layla, cinta sudah membuatku lunglai tak berdaya. 

Laksana anak hilang, jauh dari keluarga dan tak memiliki harta. 

Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur, berserak bagai pecahan kaca. 

Begitulah cinta yang engkau bawa padaku. 

Dan sekarang hatiku hancur lebur. 

Hingga orang-orang memanggilku si dungu, yang suka merintih dan menangis. 

Mereka mengatakan aku sudah tersesat. 

  

Narasi di atas merupakan lantunan syair dari Qays yang terdapat dalam buku berjudul Layla Majnun karangan Nizami Ganjavi (1141‒1209 M). Buku kesusastraan karangan seorang penyair terkenal asal Persia ini menceritakan kisah tak sampai antara Qays dan Layla. Sebenarnya kisah tersebut sudah begitu melegenda di Arabia dan Persia pada abad ke-12. Dengan sentuhan magic Nizami, kisah Layla-Majnun semakin booming dan spektakuler.

  

Saking hebatnya kisah Layla-Majnun, sampai-sampai konon katanya seorang Willian Shakespeare terinspirasi dari Nizami saat menulis naskah drama Romeo dan Juliet. Memang tak mustahil. Karena Nizami sukses memadukan unsur-unsur sastra gurun Arabia dengan sastra Persia yang menghasilkan suatu kisah roman yang sangat indah. 


Baca Juga : Mengurai Benang Kusut Konsumerisme dalam Film Dokumenter “Buy Now! The Shopping Conspiracy”

  

Membaca buku ini seolah-olah saya sedang menyatu dalam keindahan taman al-Mu’tasim di Samarra serta melayang-layang dalam kebun Botani Abdurrahman ad-Dakhil, yang sejenak membuat saya hanyut dalam kedalaman cinta Qays dan Layla. 

  

Dalam buku ini dikisahkan, di lembah Hijaz terdapat seorang pemimpin kabilah Bani Amir bernama Syed Omri. Ia sangat disegani meskipun usianya tak muda lagi. Hartanya melimpah ruah. Dinding rumahnya dihiasi zamrud dan intan berlian. Lantainya dihamparkan permadani Iran nan elok. Gelas pilihan dari Tiongkok menjadi wadah minumannya. Kedermawanan Syed Omri tak diragukan lagi. Dari golongan borjuis hingga proletar, ia dijadikan tempat mengadu. 

  

Namun, ada satu harta yang belum Syed Omri miliki yaitu seorang anak. Puluhan tahun ia mendamba seorang putra mahkota yang akan menggantikannya kelak dari seorang istri yang cantik jelita. Akan tatapi waktu belum juga memberikan jawaban. Sayd Omri sedih, galau, gundah gulana dan merana. Seiring berjalannya waktu, setelah melakukan ikhtiar dan berdoa tiada henti, anak yang di tunggu-tunggu datang juga. Istrinya hamil dan lahirlah bayi yang diberi nama Qays. 

  

Detik berganti menit. Hari berganti bulan. Bulam berganti tahun. Qays menjadi anak yang tampan rupawan, good looking dan good boys. Tubuhnya gagah ibrat bangunan-bangunan kokoh. Rambutnya klimis mengkilat. Suaranya merdu laksana bulu perindu. Pendidikan terbaik diberikan oleh Sayd Omri kepada putra semata wayangnya ini. Qays di sekolahkan kepada seorang guru terbaik di Jazilah Arab yang tinggal di daerah Badui. Karena integritas dan intelektual sang guru yang sudah tersohor, tentu banyak anak yang disantrikan dengannya, salah satunya ialah Layla, gadis yang cantik jelita dambaan para pria kala itu. Dari sinilah awal mula perjumpaan Qays dan Layla saling jatuh cinta.

  

 Singkat cerita, Qays dan Layla saling memadu kasih. Keduanya menjalin kisah asmara yang saling tergila-gila. Orang-orang akhirnya mengetahui kisah kasih muda-mudi ini. Namun, setelah berjalan cukup lama, keluarga Layla mengambil keputusan untuk memisahkan Layla dengan Qays lantaran tidak ingin menjadi objek omongan orang-orang. Menjadi objek ghibah oleh masyarakat merupakan aib dalam tradisi Arab. Karena hal ini, Qays menjadi stress berat. 

  

Namun ada keunikan dari Qays. Kegilaan yang dialaminya membuat dirinya menjadi seorang yang puitis. Ia sering mengidungkan syair mengagumkan yang  dituangkan dari perasaannya. Nizami merefleksikan seorang Qays seperti orang yang benar-benar gila pada umumnya, senantiasa menyebut nama Layla, berjalan di kampung dengan telanjang dada, rambutnya gondrong, lusuh tak terurus. 

  

Kisah-kisah konyol yang menggambarkan cinta sejati Qays kepada Layla dilukiskan dalam buku ini. Misalnya, karena tidak mau dipisahkan, setiap malam hari Qays pergi ke rumah Layla dengan mengendap-ngendap. Sampai di rumahnya ia menciumi dinding rumah kekasihnya tersebut yang Qays anggap sebagai tubuh layla. Selain itu, pernah juga Qays menyamar menjadi seorang pengemis dan meminta-minta di rumah Layla demi bertemu pujaan hatinya itu. Kisah ini benar-benar memiliki ending yang sendu. Sampai ajal menjemput, Qays dan Layla tak dipertemukan dalam ikatan yang suci. Ketika Layla dimakamkan, Qays hanya bisa pasrah, tertunduk lesu dan menangis sejadi-jadinya. Tiada hari yang ia lewati, kecuali meratapi kekasihnya yang sudah meninggal.

  

 Hingga akhirnya, Qays meninggal di samping makam Layla dengan meletakkan kepala di atas batu nisan dan memeluknya dengan kedua tangannya. “Kau, cintaku,” menjadi ucapan terakhir yang Qays sampaikan kepada Layla yang entah ia dengar atau tidak. 

  

Ada sebuah pelajaran menarik dari kisah cinta Qays dan Layla di atas. Dalam pandangan sufi, kisah tersebut melukiskan bagaimana cinta (al-Mahabbah) hamba (Salik) kepada Tuhan. Layla merepresentasikan Tuhan, sedangkan Majnun sebagai pencinta (al-Muhibb). Seorang hamba hendaknya mencintai Tuhannya dengan murni. Tidak ada yang dia cintai selainNya. Kepentingan dan perhiasan dunia menjadi abstrak, yang tak ada eksistensi di hadapannya manakala cinta kepada Tuhan menjadi tujuan akhir. 

  

Meminjam istilah Husein Muhammad, cara pandang seperti ini disebut sebagai “Cinta Platonis”. Terminologi yang diambil dari nama filsuf Yunani terbesar sepanjang sejarah manusia, Plato ini sebagai cinta dalam tataran ide, cinta yang murni dan sepenuhnya. Cinta yang sepenuhnya ingin menyatukan dua ruh yang berbeda. Itulah jalan yang diambil oleh para sufi akbar seperti Abu Yazid al-Bisthami, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, Rabiah Adawiyah dan lain-lain. 

  

Tergila-gilanya Qays yang digambarkan oleh Nizami merupakan perwujudan cinta tanpa alasan. Jika seseorang ditanya “Mengapa cinta Allah?” lalu menjawab “Saya tidak tahu mengapa saya mencintai Allah”, maka ia mencinta dengan tulus dan murni. Karena sebegitu cintanya ia kepada Tuhan, sampai tak mampu untuk mengemukakan alasan logisnya. Begitulah selayaknya cinta hamba kepada Tuhannya. Sebuah cinta tanpa mengharap surga, atau takut neraka.