Debus: Antara Unsur Seni, Magis, dan Ajaran Islam
HorizonOleh: Rifqi Sujahilman
Mahasiswa Program Doktoral PAI Multikultural Unisma
Siapa yang tak mengenal debus Banten? Khususnya masyarakat Banten, debus menjadi kebanggaan yang dimiliki. Namun, ternyata masih banyak yang belum memahami asal-usul dan arti dasar dari kata tersebut yakni, maknanya tidak dikenal secara luas. Bahkan, para pemain debus sendiri banyak yang tidak mengetahui artinya. Oleh sebab itu, pemberian arti debus banyak dilakukan secara serampangan.
Dalam cerita sejarahnya, debus ditujukan untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Hal ini diketahui pada masa pengenalan debus yang ternyata sudah dimulai sejak abad ke-16, pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin dari Banten (1532-1570). Lebih tepatnya, debus ini dikenal masyarakat sebagai bentuk kesenian yang terkandung berbagai unsur perpaduan antara seni tari, suara serta kebatinan bernuansa magis. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa debus itu singkatan dari “Dzikiran, Batin dan Shalawat”. Jadi, debus melekat dengan istilah-istilah yang mendekati unsur magis namun disertai dengan adanya ajaran agama Islam yakni, kepercayaan bahwa semua itu berkat keridhoan Allah.
Keahlian untuk bermain debus tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi yang paling penting adalah penguasaan terhadap “elmu batin”. Penguasaan terhadap elmu tersebut melalui latihan-latihan jiwa, seperti puasa, membaca doa-doa tertentu, dzikir dan wirid, serta shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, dan para aulia (guru tarekat dan guru debus). Mungkin itulah kemudian debus diberi arti sebagai singkatan dari dzikiran, batin dan shalawat. Bahkan, debus seringkali dipertontonkan kepada masyarakat luas dengan menampilkan atraksi di luar nalar. Maka, rangkaian penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut yang kemudian menjadikan seseorang memiliki kemampuan untuk melakukan kesenian debus dalam bentuk atraksi.
Berawal dari atraksi-atraksi yang di luar nalar manusia, debus dipercaya sebagai sebuah kesenian yang tidak sembarangan dilakukan yakni, bukan hanya terdapat unsur ajaran agama Islam di dalam proses mempelajarinya tetapi juga unsur magis yang begitu melekat. Unsur-unsur seperti ini diyakini tidak terlepas dari adanya tarekat. Bagaimana tarekat ini dikaitkan dengan debus?
Berangkat dari istilah tarekat, sebelumnya ada juga yang menyebutkan debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Akan tetapi, yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908). Namun, Debus yang berkembang sekarang ini lebih merupakan suatu percikan dari tradisi tarekat yang telah mengalami pendangkalan baik dalam fungsi maupun tujuan. Oleh sebab itu, tidak aneh kalau dalam permainan debus saat ini bercampur dengan sumber-sumber lain.
Baca Juga : Dinamika Identitas Agama dan Etnis dalam Penerimaan Pengungsi Rohingya
Tarekat yang dijadikan sumber untuk permainan debus adalah tarekat Rifaiyah dan Qodariyah. Permainan debus dalam tradisi tarekat berfungsi untuk mengetahui tingkat ke fana seorang murid ketika ia melakukan wirid dan dzikir. Kemudian, tarekat Qodariyah mewajibkan kepada para pengikutnya untuk selalu membaca dzikir yang dikenal dzikir nafi wa isbath, yakni: mengucapkan lafad la ilaha illallah dengan gerakan tertentu dalam jumlah tertentu. Dzikir tersebut dilakukan dengan suara yang keras dan dilakukan dengan bersama-sama sedangkan lafad nafi wa isbath ini biasa diucapkan dengan cara menggerakan kepala dengan alur dari bawah ke atas sambil mengucapkan lafad la, kemudian diteruskan ke bahu kanan seraya mengucapkan ilaha, dan akhirnya dengan keras ke arah jantung dengan mengucapkan illaha illallah.
Terlepas dari uraian tentang tarekat-tarekat yang menyertai ajaran kesenian debus, perlahan kesenian ini kemudian berkembang sebagai media untuk memompa semangat rakyat Banten dalam menghadapi penjajahan Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kehadiran debus dijadikan kesaktian dan ilmu kedigjayaan yang bersumber dari tarekat juga sangat menonjol pada saat-saat melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Para penggerak perlawanan tersebut adalah para kiyai dan guru-guru tarekat. Mereka itulah yang sering menganjurkan kepada para muridnya untuk melakukan dzikir dan membaca doa-doa tertentu.
Sejak kemunculannya, debus memang memiliki daya tarik tersendiri. Maka tak heran, debus disebut sebagai kebanggan masyarakat Banten. Dengan segala keunikan yang dikandungnya, debus bukan hanya menghadirkan ajaran Islam, tetapi juga memunculkan unsur-unsur magis sehingga pemainnya dianggap luar biasa karena dapat menyatukan dua unsur tersebut dalam satu kesenian tersebut. Terlebih lagi, debus ini sudah dikenal masyarakat luas dari sejak masa penjajahan Belanda guna melakukan perlawanan.
Jika mengulik kisah di awal masa perkembangannya, debus terus mengalami serangkaian perubahan. Akan tetapi, perubahan itu tanpa melepaskan hal-hal yang sudah ada sebelumnya seperti atraksi kebal dari benda tajam. Namun, karena keunikannya tersebut, debus pun perlahan dimultifungsikan oleh orang-orang yang ingin mempelajarinya. Salah satunya yaitu seperti kisah perjuangan Syaikh Yusuf di Banten ketika mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang meyakini bahwa ia memiliki kesaktian. Peran Syaikh Yusuf sangat menonjol ialah ketika konflik bersenjata dengan pasukan Belanda di Batavia. Ia melakukan perang gerilya hampir di seluruh wilayah Banten dan Jawa Barat. Dengan demikian, peran Syaikh Yusuf yang termahsyur ke pelosok Negeri khususnya di Banten ini juga tidak terlepas dari adanya unsur penguasaan ilmu debus.
Berkaitan dengan kisah Syaikh Yusuf tersebut, masyarakat Banten semakin mempercayai bahwa kesenian debus dapat mengantarkan mereka pada kejayaan. Khususnya pada masa penjajahan Belanda yang penuh dengan pertempuran. Demi memperjuangkan kemerdekaan, bentuk kepemimpinan Syaikh Yusuf saat itu yang didorong oleh kemampuan unsur magis seperti debus, menjadikan Syaikh Yusuf sebagai prajurit atau pahlawan. Oleh sebab itu, secara tidak langsung unsur yang terdapat dalam debus kala itu sudah menjadi kepercayaan masyarakat Banten untuk dapat menaklukkan penjajah.
Berdasarkan kisah Syaikh Yusuf dan asal-usul adanya debus, dapat dipahami bahwa debus memiliki banyak unsur baik unsur seni, magis, maupun unsur ajaran agama Islam. Bahkan, untuk mereka yang mempelajarinya, debus dapat menjadi ajaran kehidupan umat muslim yang sebenarnya umum dipelajari. Salah satunya di kehidupan pondok pesantren. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan salah satu proses dalam mendalami debus, ada beberapa tarekat yang harus dipelajari. Tarekat tersebut mewajibkan seseorang untuk dzikir dan wirid setiap waktu. Dua kegiatan inilah yang sebenarnya merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh umat muslim. Apalagi kehidupan di pondok pesantren yang tak jarang melakukan doa, dzikir, dan wirid bersama sesuai sejarahnya yang digerakkan oleh para tokoh agama, yakni para kiyai dan guru tarekat. Oleh sebab itu, semakin meyakini bahwa debus ialah tak lain dapat membawa ajaran Islam sehingga menjadi media penyebaran Islam yang menarik khususnya menjadi ciri khas masyarakat Banten.

