Di Bagian Lain Kota Surabaya 2019
HorizonEva Putriya Hasanah
Surabaya, sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia, menawarkan panorama yang kontras dan dinamis. Dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang, mall-mall besar seperti Tunjungan Plaza dan Galaxy Mall, kota ini menjadi pusat perbelanjaan dan hiburan yang tak ada habisnya. Di setiap sudut, kita bisa menemukan rumah sakit modern dan kampus-kampus bergengsi yang menarik ribuan mahasiswa dari berbagai daerah. Surabaya tidak hanya menjadi tempat untuk mencari nafkah, tetapi juga tempat di mana banyak orang menetap untuk meraih impian dan harapan.
Namun, di balik gemerlapnya kehidupan kota ini, ada sisi lain yang sering kali terabaikan. Di sudut-sudut tertentu, tersembunyi sebuah dunia yang berbeda. Di tahun 2018 saya dipertemukan dengan seorang teman dari Komunitas Sahabat Belajar, mbak Endah namanya. Pertemuan itulah yang membawa saya merasakan pengalaman di tahun 2019 untuk mengajar anak-anak di kampung pemulung, begitulah saya menyebutnya. Sebuah tempat di daerah Keputih Surabaya yang dihuni oleh warga dengan perekonomian kebawah. Momen-momen saat itu tidak akan pernah saya lupakan. Setiap hari senin sampai dengan jumat saya bolak-balik dari daerah Wonocolo ke daerah Keputih untuk mengajar. Saat itu skripsi saya telah selesai dan hanya menunggu pengumuman wisuda. Sehingga proses bolak-balik itu bisa saya lakukan dengan lancar selama kurang lebih setengah tahun sebelum pada akhirnya pandemi Covid-19 datang, dan membuat saya mengundurkan diri tak lagi menjadi pengajar disana.
Pada awalnya, tidak pernah terbesit dipikiran saya tentang siapa yang akan saya ajar? dan bagaimana kondisinya? Sebab saya hanya ingin mengisi waktu luang setelah lulus ujian skripsi saja saat itu. Tetapi ketika diantar pertama kali oleh mbak Endah menujuh rumah salah satu siswa yang akan saya ajar, sungguh dengan jujur saya sempat terkejut. Empat tahun saya tinggal di Surabaya, tapi baru kali itu menginjakkan kaki di tempat yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Apalagi saat saya melihat kesabaran mbak Endah membujuk salah satu anak yang tengah asik bermain handphone di warung kopi berwifi di kampung tersebut. Membujuk dia untuk mau belajar dan meninggalkan hp nya. Selain terkejut, saya juga merasa bahwa mbak Endah seolah-olah sedang menunjukkan dan memberikan contoh yang harus saya lakukan di hari-hari berikutnya. Ah, tentu saja saya khawatir tidak bisa melakukannya!
Pada saat itu saya mengajar dua anak laki-laki yang berbedah kelas. Mereka tengah disiapkan untuk masuk sekolah formal dan mengikuti ujian agar bisa mendapatkan ijazah. Ya tentu saja, setiap pagi saya harus menjemput mereka dan mengajak pergi, entah itu ke taman, musalah, atau balai pertemuan warga, untuk mendapatkan suasana belajar yang lebih nyaman. Jarang sekali belajar di rumah.
Saya harus menghadapi emosi anak-anak yang tidak stabil. Membuat saya harus memutar otak untuk membujuk mereka agar bersediah belajar. Meski beberapa kali saya juga tidak berhasil, sehingga berujung pasrah. Sesekali curahan hati mereka saya dengar. Dengan polos dan emosi yang tidak bisa saya tebak menceritakan apa yang mereka alami di rumah. Ayah nya yang mabuk dan marah lalu memukulnya, kegundahan hatinya, atau bahkan keinginan sederhana seperti anak-anak seumuran kebanyakan.
Di sini, kehidupan berjalan dengan ritme yang sangat kontras. Di tempat ini, kemiskinan tidak hanya sekadar masalah ekonomi; ia merambah ke berbagai aspek kehidupan, menciptakan tantangan yang berlapis bagi para penghuninya. Rumah-rumah di Kampung Pemulung mayoritas kecil, sempit, dan minim ventilasi. Dalam satu ruang yang terbatas, sering kali tinggal banyak anggota keluarga, menciptakan suasana yang sesak dan tidak nyaman. Tanpa sirkulasi udara yang baik, kesehatan penghuni menjadi terancam. Penyakit pernapasan dan infeksi pun menjadi ancaman yang nyata, sementara akses terhadap perawatan kesehatan yang memadai masih sulit dijangkau.
Kampung ini juga menjadi gambaran bagaimana kemiskinan mempengaruhi pendidikan dan kesempatan kerja. Anak-anak yang seharusnya dapat mengenyam pendidikan dengan baik, terpaksa harus membantu orang tua mencari nafkah sejak dini. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi kemiskinan sering kali menghadapi tantangan besar dalam mengakses pendidikan yang layak. Ketika akses pendidikan hampir tidak ada, dan minimnya role model yang bisa mereka contoh, siklus kemiskinan akan terus berlanjut. Tanpa pendidikan yang memadai, anak-anak ini kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka dan meraih masa depan yang lebih baik.
Minimnya role model juga berperan penting dalam membentuk harapan dan ambisi anak-anak tersebut. Ketika mereka tidak melihat orang-orang di sekitar mereka yang berhasil meraih kesuksesan melalui pendidikan atau usaha yang keras, motivasi untuk berjuang keluar dari kemiskinan bisa menjadi sangat rendah. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana kemiskinan terus diturunkan dari generasi ke generasi.
Di tengah hiruk pikuk itu, saya bersyukur ada manusia seperti mbak Endah ini yang sungguh peduli, mencari donatur dan pengajar kesana kemari tanpa pamrih agar anak-anak bisa memperoleh kesempatan belajar.
Artikel berdasarkan pengalaman tahun 2019.

