Digital Kuliner di Indonesia
HorizonOleh: Wahyu Ilaihi
Doctor Candidate Tilburg University Belanda
Tidak hanya budaya dengan etnis yang beragam, Indonesia adalah negara yang kaya akan kekayaan jenis makanan dengan berbagai macam cita rasa yang tinggi. Kalaupun mungkin ada kesamaan namun pasti ada di rasa ada perbedaan. Contohnya seperti Gudeg masakan khas Jogja akan berbeda dengan Gudeg khas Solo yang lebih manis atau asin. Tak heran jika makanan Indonesia selalu masuk dalam jajaran makanan paling enak di dunia seperti rendang, sate dan nasi goreng.
Indonesia adalah negara yang budaya dan etnisnya sangat banyak dan beragam. Hal ini juga berarti bahwa adanya banyak budaya memunculkan ada banyak jenis makanan. Hal tersebut ditambah dengan mobilitas manusia yang menjadikan turut membawa budaya kuliner menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Orang-orang yang bermigrasi tersebut membawa budaya kuliner mereka menyebar ke tempat-tempat lain, seperti Rumah Makan Padang, Sate Madura, Soto Lamongan, dan lain sebagainya.
Selain faktor budaya dan social tersebut, keberagaman makanan Indonesia terjadi karena kondisi geografis Indonesia yang hamper paripurna mulai dari darat, laut sampai gunung yang tanahnya subur membuat Indonesia yang menjadikan melimpahnya ketersedianya bahan baku untuk diolah menjadi berbagai jenis masakan yang beragam. Apapun yang ditanam dan dihasilkan baik dari daratan maupun lautan akan tumbuh dan menjadi bahan sumber makanan berkualitas.
Selain citarasa yang berbeda, makanan Indonesia selalu menemukan tempatnya untuk beradaptasi sesuai dengan lidah masyarakat daerah yang ditempati. Contohnya adalah kecenderungan untuk tidak asin pedas, gurih atau sebaliknya. Adaptasi citra rasa rasa makanan Nusantara tidak hanya berlaku ketika bermigrasi di daerah dareah yang ada di Indonesia tetapi juga secara global. Contohnya di Belanda, ada cenderungan restoran Indonesia di Belanda rasa yang khas yaitu lebih manis dan tingkat kepedasanya terkoreksi, alasannya menurut pemilik restorannya rata-rata mereka menjawab bahwa itu menyesuaikan dengan lidah orang Belanda yang suka masakan manis.
Kembali ke keragaman masakan tersebut juga menjadikan bisnis makanan selalu memiliki perspektif yang selalu menggiurkan dan tak pernah surut. Terlebih karakter masyarakat kita yang selalu ingin mencoba masakan daerah lain. Kegairahan akan kuliner nusantara juga berkembang dan beradaptasi seiring dengan tehnologi digital. Terkait dengan kuliner dan digital yang lagi happening beberapa tahun terakhir juga di topang dengan para bloger atau flogger atau influencer yang secara masiv membuat konten dan review tentang makanan di media social. Kelasnya pun juga beragam bukan saja kalangan pemula namun para seleberity juga tertarik untuk membuat konten dan viewernya pun tidak bisa disepelekan. Hal ini juga sekaligus membuktikan bahwa tingkat antusias masyarakat kita yang tertarik untuk mencoba berbagai jenis makanan cukup tinggi. Dampak lainnya yang muncul adalah adalah “makanan viral” atau “restoran viral”, makanan viral dan seterusnya.
Para content creator makanan tersebut tidak berlaku pada tingkat yang bawah namun seleberiti papan ataspun dengan viewers yang banyak juga meramikan hal yang sama. Mereka mencoba meraih popularitas lewat konten makanan yang berfariasi di Indonesia. Dan content creator luar negeri pun pun juga ikut mencoba keberuntuanaganya mengulas tentang makanan Indonesia seperti dari keluarga Korea Selatan; @HariJisun, Jerman; @MarkLehmann, @HarryJaggardTravel dan masih banyak lagi. Selain makanannya yang berfariasi juga ditopang penduduk Indonesia yang banyak menjadikan alasan mereka untuk medulang viewers yang banyak juga. Orang Indonesia yang tinggal di luar negri juga tidak ketingalan membuat konten masakan Indonesia dengan membuat modifikasi dan adaptasi bahan yang tersedia disana. Boleh jadi dalam dunia digital, kuliner sudah menjadi pendatang baru dunia intertaiment yang digemari sejajar dengan fashion, music dan Film. Yang ketiganya kita tahu selama ini selalu merajahi setiap tayangan infotaiment. Para seleberitis makanan mulai mendapatkan tempatnya sebagai showbiz dengan disejajarkan seleberitis hiburan.
Sementara itu, berkaitan dengan ragam makanan dan minuman yang disukai masyarakat, dalam kontek digital juga mengalami perkembangan pesat yaitu melalui aplikasi-aplikasi yang tersedia. Dalam hal ini adanya proses perubahan aktivitas bisnis, yang meliputi perubahan prilaku antara penjual dan pembeli yaitu dalam aktifitas berkomunikasi, berinteraksi dari yang awalnya tradisional merambah ke dunia digital. Aktifitas tersebut dimulai dari pemanfaatan media sosial sebagai media dalam melakukan promosi, pemasaran, metode transaksi tanpa uang tunai (e-money), cara pemesanan dan pengiriman dan metode pengelolaan bisnis.
Suburnya kuliner di Indonesia mulai berinovasi untuk mengembangkan bisnisnya secara digital (go digital) adalah tidak hanya pemilik kuliner papan atas yang sudah stabil saja namun juga merambah ke warung kaki lima bisa melakukannya, dengan modal yang dibilang sangat kecil dan aplikasi semua bisa. Mereka cukup mendaftarkan ke pemilik aplikasi dan lanjut berkompetisi. Bahkan dalam tingkat yang sederhana juga muncul fenomena “kuliner tampa rumah makan”,” warung tampa tempat” dan seterusnya, yaitu yang banyak digawangi kuliner rumahan. Jika selama ini yang dikenal adalah aplikasi makanan yang midstream yaitu milik go foodnya milik Gojek, Grab, dan Shopee yang sudah establish. Namun tampa kita sadari juga bermunculan komunitas-komunitas baru di makanan digital di sekitar kita lewat aplikasi yang sederhana seperti grup Instagram ataumpun WhatsApp (WA). Intinya dengan adanya kuliner digital cukup dengan gawai yang mereka miliki semua orang bisa makan dan bisa berjualan walau tampa warung, tempat makan atau restoran.

