Dua Tangisan Keberhasilan, Gelar Bukan Sepenuhnya Milikmu
HorizonOleh: H. Imron Rosyadi
Tulisan ini mendeskripsikan pidato sambutan wakil dari wisudawan dan wisudawati pada wisuda ke 102 UIN Sunan Ampel Surabaya tahun akademik 2022 – 2023 di gedung Multipurpose dan Sport Centre. Tepat hari Minggu 19 Pebruari 2023 M 27 Rajab 1444 H telah dilangsungkan sidang Senat Terbuka UIN Sunan Ampel Surabaya Program Doktor, Magister dan Sarjana. Pidato sambutan yang disampaikan oleh ananda Nawabika Izzah Zaizafun, adalah salah satu dari wisudawan yang ditunjuk oleh senat untuk mewakili dan menyampaikan pidatonya.
Dik Nawa, begitu saya memanggil, seperti panggilan keluarga pada umumnya, jika ingin mengetahu siapa nama lengkapnya, keluarga dan putri siapa dik Nawa, barangkali bagi yang membaca penasaran. Untuk menjawab pertanyaan itu, saya yakin tidak asing bagi masyarakat kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, bahkan semua yang hadir sebagai pendamping para wisudawan dan wisudawati beserta keluarganya, nama lengkap dik Nawa adalah Nawabika Izzah Zaizafun, adalah putri ketujuh dari tujuh bersaudara, ia putri dari tokoh dan guru serta dosen kita semua khususnya para alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi yaitu Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag guru besar Ilmu Dakwah sekaligus Ketua Senat UIN Sunan Ampel Surabaya, mengawali sambutan pidatonya. Terlebih dahulu tentu memberikan pengormatan kepada semua jajaran civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya. Mulai dari Rektor, Wakil Rektor, para Dekan, Wakil Dekan dan Ketua Senat serta anggota senat. Kutipan pidato sambutan Ananda Nawabika Izzah Z.
Alhamdulillahirabbil ’Alamin Allahumma Shalli ‘ala sayyidi Muhammadin, wa ‘ala ‘alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Yang terhormat : Bapak Rektor dan semua Wakil Rektor, para Dekan dan semua Wakil Dekan, Ketua Senat dan Anggota, para Dosen dan semua Wisudawan beserta keluarga tercinta. Pertama, Ijinkan saya mewakili semua wisudawan, khususnya para magister dan Doktor untuk memberi sambutan dalam wisuda sarjana UINSA ke 102. Materi sambutannya, ananda menyampaikan bahwa, keberhasilan dan pencapaian dirinya untuk dapat meraih gelar Sarjana Strata Satu di bidang Ilmu Psikologi, tentu hari ini, tidak terlepas dari dukungan dan bimbingan para civitas akademika, termasuk pimpinan UINSA, Dosen, Tenaga Kependidikan yang memberi fasilitas dan pelayanan excellent selama kuliah di dua kampus yang sama hanya tempat lokasinya saja yang berbeda, pertama yaitu kampus terletak di Jalan A. Yani maupun kampus Gunung Anyar Surabaya.
Pidato selanjutnya, dik Nawa menceritakan tentang sedikit lika liku perjalanan waktu kuliah, ia selama tiga tahun setengah untuk menempuh studinya jenjang S1 atau hanya cukup diselesaikan dalam waktu tujuh semester saja, perlu diketahui bahwasannya, kuliah ananda hanya ditempuh dalam waktu yang sangat singkat, tidak harus ditempuh selama empat tahun atau delapan semester seperti mahasiswa pada umumnya. Karena ia tergolong mahasiswi yang cerdas dan berprestasi, sehingga dapat menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang lebih cepat dari mahasiswa lainnya. Hal ini diceritakan oleh ananda dengan narasi serta intonasi penuh penghayatan, hingga semua hadirin dan para wisudawan termasuk keluarga besar wisudawati yang hadir tak sedikit berlinang air mata, karena betapa terharunya saat mendengarkan isi cerita dengan penuh penghayatan untuk meresapi dan menjiwai cerita demi cerita ananda Nawabika Izzah Zaizafun.
Sengaja saya menulis tema dalam tulisan ini tentang “Dua tangisan keberhasilan, gelar bukan sepenuhnya milikmu” tentu, karena tulisan ini terinspirasi ketika memutar vedeo di Youtube UINSA , bagi saya vedeo ini tidak membosankan untuk di dengar isi dan narasinya, bahkan saya putar beulang kali vedeo tersebut dengan penuh penghayatan, makna dari konten sambutan pidato Dik Nawa. Salah satu penggalan kalimat, atau isi dalam pidato sambutannya yang paling spektakuler dan penting untuk dicatat sebagai kata kuncinya, yaitu ada dua tangisan. Tangisan pertama, sebagai tangisan yang menggambarkan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan, karena ia dapat membuatnya berhasil dan sukses dalam studinya bukan karena keinginan dirinya, bahkan selama tiga setengah tahun yang lalu, ananda menangis, dikarenakan memasuki kuliah di UINSA ini bukan karena keinginannya, akan tetapi yang membuat ananda menangis dikarenakan kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel menjadi keinginan orang tuanya.
Tangisan kedua, tiga setengah tahun kemudian, tepatnya pada saat wisuda berlangsung ananda menangis bukan karena tangisan penyesalan, akan tetapi tangisan yang berbeda makna dalam tangisan pertama, yaitu tangisan terharu, ia justru merasa bersyukur dan beruntung karena dapat memasuki kuliah di UINSA membuat ananda mendapatkan keberhasilan yang tak terduga, yaitu dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat dan lulus dalam waktu yang singkat, karena dapat meraih gelar Sarjana berkat bimbingan orang-orang hebat, yaitu bapak dan Ibu dosen, tidak hanya mengajarkan ilmunya saja, akan tetapi lebih dari itu, doa dan keteladanan membuatnya ia bisa meraih sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Untuk itu, sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga, atas jasa-jasanya, siapa saja yang terlibat dalam proses belajar mengajar untuk menghantarkan keberhasilan ananda selama kuliah di UINSA.
Gelar bagi kalangan akademik adalah sebagai tanda pernah kuliah, bukan tanda pernah berfikir. Ungkapan itu biasa dikatakan oleh Filosof Rocky gerung, berbeda pula dengan ungkapan Dik Nawa, bahwa gelar yang di perolehnya bukan saja sebagai gelar yang telah di dapat ananda selama dalam proses belajar mengajar, tentu gelar sebagai salah satu ukuran keberhasilan seseorang, maka gelar ini bukan semata mata karena jerih payahnya sendiri, akan tetapi yang paling utama adalah karena berkat doa dan keringat orang-orang tercinta dalam hidupnya, yaitu Ayah dan Ibunya, serta guru-guru yang pernah mengajarkan ilmu kepada ananda hingga dapat meraih gelar sarjana jenjang pertama yang ia perolehnya program Strata Satu (S1). Maka sangat layak jika gelar ini adalah bukan miliknya sendiri, akan tetapi gelar yang kita miliki adalah gelar milik bersama.
Selanjutnya, ananda mengutip apa yang pernah dikatakan R.A. Kartini “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar bisa menjatuhkanmu adalah karena sikapmu sendiri”. Quote ini dapat menjadi pedoman hidup, kata kunci bagi para wisudawan dan wisudawati jika ingin menjadi orang-orang hebat, sukses, dan berhasil. Jangan merasa puas dengan belajar dan menuntut ilmu, Albert Einstein Ilmuan terhebat sepanjang masa kelahiran Jerman, terkenal atas teori Relativitas ia berkata “When you stop learning, you stop dying”, ketika kamu berhenti belajar, saat itulah hari kematianmu. Untuk itu, jangan merasa bosan untuk belajar terus menerus, selalu haus akan ilmu pengetahuan, dan tidak kalah pentingnya, keberhasilan seseorang maka harus bisa menjaga almamater kampus, serta dapat mempertahankan harkat, martabat serta ahlakul karimah apapun gelarnya, kapanpun dan dimanapun kita berada, setelah meraih gelar yang kita dapatkan dari proses pendidikan yang telah dilalui bersama. Bagi siapapun yang mendapatkan gelar akademik menjadi salah satu ukuran untuk bisa berfikir akademis, kritis, sistematis dan metodologis. Selamat untuk Adindaku Nawabika Izzah Zaizafun atas capaian dan prestasinya, semoga kelak bisa menjadi ilmuan hebat dunia.

