Sekolah Al Muslim: Asa Meraih Prestasi KOMAS 18
OpiniKota Bogor memang kota macet. Jalan menuju ke PPSDMAP yang dijadikan sebagai tempat untuk penyelenggaraan Kompetisi Matematika Suprarasional (KOMAS) 18, macet total. Panitia Nasional KOMAS 18 secara sengaja memilih Bogor dan PPSDMPA sebagai tempat ajang kompetisi. Tim Sekolah Al Muslim harus melewati jalan sempit untuk menghindari macet, akan tetapi akhirnya macet juga. Terpaksa Tim KOMAS, tim pendamping, siswa dan siswi Sekolah Al Muslim harus jalan kaki. Untungnya tidak jauh, hanya kira-kira 15 menit.
Acara KOMAS 18 memang sungguh semarak diikuti tidak kurang dari 1500 siswa, yang hadir memenuhi auditorium PPSDMAP. Pesertanya memang datang dari banyak sekolah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Yogyakarta, Jombang, Semarang, Jember, Jakarta, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin dan kota-kota lainnya di Indonesia. Mereka yang hadir di Bogor adalah yang dinyatakan lolos untuk berkompetisi di tingkat nasional. Acara ini merupakan acara rekreatif juga bagi para orang tua dan wali murid. Terbukti dengan membludaknya para pendamping, para orang tua atau wali murid. Mereka datang dari berbagai daerah untuk mengantarkan anak-anaknya atau cucu-cucunya. Sungguh berjubel. Parkiran mobil meluber dan para pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman juga lumayan banyak.
Saya secara khusus ingin mengapresiasi atas acara yang luar biasa ini . Acara KOMAS bukan sekedar untuk melakukan uji kemampuan matematika berbasis pada logika saja, akan tetapi juga merupakan ajang untuk melakukan upaya integrasi antara dunia matematika yang bersifat nalar atau logika dan mengaitkannya dengan suprarasional atau spiritual. Jika selama ini matematika hanya dibaca dengan logika matematis, maka melalui KOMAS diupayakan agar para siswa memahami relasi antara nalar matematika dengan nalar spiritual. Keduanya tidak berada di dalam otoritasnya masing-masing akan tetapi bisa didialogkan atau diintegrasikan.
Sebagaimana visi dari KOMAS adalah agar siswa bisa memahami dunia matematika yang logis dan rasional dan memadukannya dengan spiritualitas atau suprarasional, sehingga akan menghasilkan anak-anak yang berakhlak mulia atau berakhlakul karimah. Melalui acara ini, maka dunia matematika yang bercorak alamiyah sebagai bagian dari ilmu kealaman atau natural sciences, kemudian bisa dipadukan dengan dunia suprarasional yang selama ini menjadi otoritas ilmu keagamaan.
KOMAS dulu dikenal sebagai Kompetisi Matematika Nalar Realistik (KMNR). Kompetisi ini digelar oleh Klinik Pendidikan MIPA dan telah berlangsung selama 18 kali. Bahkan pada saat Pandemi Covid-19, acara ini juga tetap dilaksanakan meskipun dengan sistem daring. Maklum saat itu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan melalui sistem luring, karena physical distancing.
Secara prosedural, ada empat tahap untuk menyelenggarakan acara KOMAS, yaitu tahap pendaftaran, tahap kedua babak penyisihan, lalu babak semi final dan dilanjutkan dengan babak final. Sebagaimana visi dari kompetisi ini, maka tujuannya adalah untuk mengasah nalar di otak dan nalar di hati. Itulah yang kemudian disebut sebagai matematika suprarasional. Jadi yang dituju adalah untuk menyeimbangkan antara kecerdasan otak dan kecerdasan hati.
Meskipun pesertanya datang dari seluruh Indonesia, akan tetapi sungguh terselenggara dengan baik. Jumlah peserta yang mencapai angka ribuan, maka yang datang tentu dua kali lipatnya. Ada banyak pendamping yang datang. Bahkan ada yang membawa kendaraan sendiri dari sekolah, misalnya dari Jember ke Bogor. Luar biasa. Jadi kira-kira ada sebanyak 3.500 orang yang hadir di PPSDMAP Bogor. Berjubel tetapi happy.
Matematika suprarasional saya kira merupakan salah satu program yang menarik untuk dikembangkan, terutama pada program studi atau prodi matematika, khususnya di Perguruan Tinggi, baik Perguruan Tinggi Umum (PTU) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK). Seirama dengan semakin banyaknya prodi matematika di PTU Negeri dan Swasta atau PTK Negeri dan Swasta, maka menurut saya layak jika konsep ini menjadi salah satu bagian untuk dicermati dalam bentuk konvergensi Tri Dharma Perguruan Tinggi, diajarkan lalu diteliti lalu diabdikan. Demikian seterusnya.
Program integrasi ilmu telah menjadi tradisi akademik di Perguruan Tinggi, bahkan sudah dilakukan oleh Sekolah Menengah Umum atau Madrasah, sehingga sudah pantas jika program ini merupakan program yang perlu untuk didukung secara optimal. Dengan mengusung visi integrasi antara matematika dengan ilmu keagamaan atau matematika suprarasional, maka ke depan akan dihasilkan program yang menghasilkan peserta didik, siswa atau mahasiswa, yang memiliki kemampuan plus. Mereka memiliki rasio atau rational intelligent yang bagus dan juga spiritual intelligent yang hebat.
Mungkin banyak institusi pendidikan yang belum mendapatkan prestasi yang membanggakan dalam ajang KOMAS 18, akan tetapi memberikan pengalaman kepada siswa atau siswi di dalam ajang kompetisi dari berbagai area dan levelnya tentu akan menjadi variable penting di dalam pendewasaan berpikirnya. SD Al Muslim mendapatkan satu penghargaan untuk kelas 4 SD sebagai juara harapan atas nama Muhammad Hisyam Ammaar.
Selamat kepada seluruh peserta dalam ajang KOMAS, saya yakin bahwa pengalaman seperti ini merupakan pengalaman yang penting untuk pengembangan diri maupun institusi. Setidak-tidaknya peserta final KOMAS 18 sudah mendapatkan Certifikat Nasional KOMAS, dan siapa tahu pada tahun-tahun yang akan datang mendapatkan Sertifikat Internasional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

